Rabu, 30 Oktober 2013

Thank You Jeff, God Can Speak English

"Hidup ku boleh saja tak terencana dengan sempurna, tapi aku telah menyiapkan akhir dari segalanya"

Kurang lebih itulah sepenggal kalimat yang kubaca dalam buku "God, Do You Speak English", sebuah buku yang mengupas tentang perjalanan hidup manusia yang keluar dari zona nyamannya. Mereka adalah orang-orang sukses di bidangnya dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik dari orang kebanyakan, namun dengan penuh keyakinan mereka tinggalkan itu semua demi berbagi dan memberi dengan sesama umat manusia. Tak tanggung-tanggung mereka menjadi volunter di negara luar, menyelami kehidupan masyarakat asing dan berusaha berbagi apa yang mereka miliki.
Sebuah kalimat sederhana tadi, merupakan ungkapan dari lubuk hati paling dalam Jeff. Jeff merupakan tokoh yang dengan ikhlas membagi ceritanya dalam buku tersebut. Bagi Jeff, boleh jadi kehidupan yang dia jalan memang tidak terencana dengan sempurna, namun Jeff memiliki keyakinan pasti ada jalan akhir dari segalanya, Jeff bahkan bukan saja mengharapkan jalan akhir tesbut tapi dia sudah menyiapkan waktu untuk akhir itu datang dalam kehidupannya.
Kalimat sederhana dari manusia luar biasa telah terpatri dalam hati ku yang juga paling dalam. Bukan sekedar apopemia atau menghubung-hubungkan tapi rasa-rasanya apa yang Jeff alami benar-benar terjadi dalam hidup saya, setidaknya terkait kalimat sederhana itu.
Sama halnya dengan Jeff, aku tak pernah merencanakan hidup aku harus seperti apa dan kemudian menjadi apa, tapi aku memiliki sebuah keyakinan bahwa aku akan memiliki akhir dari setiap rutinitas hidup yang ku jalankan. Aku adalah aku yang telah mengenal batasanku sendiri, aku sudah tahu kapan aku harus memulai sesuatu dan aku pun harus tahu kapan aku mengakhiri sesuatu itu, walapun di tengah jalan aku tak pernah tahu kehidupanku seperti apa. Sudah ku bilang aku tak pernah merencanakan hidupku seperti apa dan akan menjadi apa kelak, tapi ku pastikan aku bisa memulai dan mengakhirinya.
Banyak kehidupan sudah ku jalani, setidaknya aku sudah mencicipi sejuknya udara pagi selama 24 tahun. Wow, bukan waktu yang singkat. Menikmati semua hal dengan sangat gratis, free pass from the God. Tapi setelah saya pikir-pikir ulang, jarang sekali saya mengucap syukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Termasuk kemampuankau untuk memulai dan mengakhiri sebuah rutinitas. Itu bukan kah karunia Tuhan juga?. Itulah aku, tak pernah terencana menjalani hidup, membiarkan tangan Tuhan yang menjamahnya langsung.
Aku memuali apa yang aku mulai, dan akupun harus mengakhiri apa yang harus aku akhiri, dan terlepas di tengah-tengah sempurna atau tidak, biarkan tangan Tuhan yang bekerja.
Jeff, Thank you so much for the sentences. Bagi ku kalimat sederhana itu telah membangunkan ku dari mimpi yang panjang. Jeff, akan aku biarkan hidupku untuk Tuhan, dan menyerahkan sepenuhnya kepadaNya.
Tuahn dalah yang awal dan yang akhir

Kamis, 17 Oktober 2013

Diorama satu ruang

Sudahi saja, toh buat apa dipertahankan kalau ujungnya harus menangung rasa sakit hati yang dalam?
Kalau kau merasa nyaman kenapa juga haraus mengeluh atas apa yang sudah menjadi pilihan hidup. Sudahlah nikmati saja semua, toh kesakit hatian yang sekarang di rasakan adalah buat dari pilihan yang diambil.
Kenapa ketika rasa senang menyelimuti ruh, tidak ada satupun yang di salahkan, atau bahkan di puji. Tapi ketika awan hitam pekat datang dalam kehidupan, Kontan semua yang ada di dekat mata menjadi salah.
Ini namanya hidup, kadang ata senang, begitu juga susah. Ini realita, mungkin hari ini kita bahagia, tapi bisa saja sedetik kemudian kita mengecap sakit hati yang teramat dalam.
Sudah jangan di buat susah, lebih baik dinikmati saja semuanya.
Mengeluh adalah kesesatan, karena dengannya lah kita akan merasakan penyesalan yang amat dalam. Jangan pernah bersedih atas pemberian yang tak mendapatkan sapaan terima kasih, atau kesalahan yang orang buat tanpa berbalas kalimat maaf. Biarkan lah mengalir, berhembus layaknya angin. Kadang bisa menyejukan, tapi bisa juga membuat bangunan roboh.

Ini realita, diorama yang penuh dengan objek. Ini bukan patamorgana, ini realita. sekali lagi ini adalah realita yang harus di hadapi.
Kita bagaikan diorama, yang memiliki puluhan ruang dimensi yang bisa menyimpan segala hal. Termasuk bahagia dan kesedihan dalam satu ruangg. Jika senyum bisa tersimpah indah, kenapa kesedihan juga tak mampu dileburnya menjadi senyuman renyah?
Meleburlah menjadi satu, sebuah diorama yang penuh dengan dimensi materi yang menyatu dalam satu ruang.
Jiawa adalah manifestasi dari ide, jiwa adalah materi dan segala sifat adalah ide. maka meleburlah. Hilangkan segala keluh kesah dengan terus meleburnya menjadi senyum renyah.

Senin, 22 Juli 2013

Tidak ada toleransi untuk pengkhianatan

Mau tidak mau keputusan ini harus diambil. Ini memang keutusan yang berat, namun seberat apapun ini harus dilakukan. Bagi sebagian orang atau mungkin kebanyakan orang ini adalah keputusan yang sederahan atau mungkin terkesan di lebih-lebihkan tapi bagi saya in jelas keputusa yang berat. toh bukan kah setiap orang memilikikerumitannya sendiri-sendiri/
Keputusan ini sempat diambil oleh orang terdekat saya dulu, namun ternyata dia hanyalah bualan kosong. Yang dia lakukan tidak lebih hanya untuk menarik perhatian orang lain, menerima belas kasihan orang lain. hanya untuk di bujuk agar dia mau kembali lagi berjalan bersama menjalankan apa yang sudah di sepakati. Jujur saya santa kecewa sekarang, kalau saja saya tahu bahwa apa yang dilakukannya hanya untuk menarik perhatian orang lain saya malas untuk membujuknya. Bahkan sampai merendahkan diri saya hanya untuk memintanya untukbalik lagi bersama.
Keputusan yang akan saya ambil adalah benar, benar tidak akan saya tarik kata-kata ini seprti halnya apa yang sering saya lakukan dulu. Kalau pun romantisme persahabatan begitu sayang untuk di tinggalkan tapi tetap saja tidak ada yang lebih menyakitkan selain pengkhianatan.
Tidak ada toleransi atas pengkhianatan. Toh bukan kah dalam hidup ini yang di cari adalah kesetiaan?, seperti halnya baginda rasulAllah kepada Allah SWT yangs etia sampai akhir hayat?. lantas untuk apa mempertahankan segala hal jika didalamnya sudah terjadi pengkhianatan?
Menjaidi sangat teriris sembilu, ketika orang yang selama ini di bangga-banggakan, diagungkan bahkan selalu diprioritaskanadalam segala halnya kemudian dia mengatakan hal yang bagi saya tidak pantas untuk diucapkan. bayangkan saja, apapun yang diminta selalu saya berusaha untuk menyepakatinya, berusaha menyediakan sesuai kemampuan maksimal saja, namun ternyata saya justru di anggap manusia picik, manusia yang memiliki otak dangkal yang hanya bisa mengkritik.
ini bukan sebuah pembelaan, tai rasanya sebagai manusia yang memiliki usia jauh diatas mereka saya merasa menjadi wajar untuk diperlakukan lebih terhorat. DIperlakukan sebagaimana usia saya yang terpaut sekitar 4 tahun.
emang bukan menjadi sebuah keharusan jika usia menjamin tingkat kedewasaan, tapi bukan kah Agama pun tengah mengajarkan pada kita semua bahwa penghargaan bukan saja melihat tingkat kedewasaan. minimal menghargai sebagai sesama manusia. Kalaupun itu tidak bisa dilakukan, bukan kah Tuhan pun mengajarkan pada semua mansia untuk menghargai sesama makhluk ciptaan-Nya?.
inilah dilema hidup, keputusan yang harus saya ambil adalah membuang semua romantisme persahabatan. bagi saya hari ini yang lebih penting bukan lagi mereka melainkan egoisitas yanga da dalam diri. Hari ini, saya akan berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan pernah ada kata memaafkan bagi siapapun sampai ajal menjemput saya. Sampai tuhan tak lagi memberikan kesempatan saya untuk mengeluarakan kata-kata dari mulut.
Ini memang tak baik, saya sadar. tapi rasanya hanya inilah obat dari buah kesabaran selama ini.
Sudah cukup semua dilakukan dengan mengedapank kan hati nurani. Hari ini sepertinya jalan kekerasana menjadi sebuah solusi paling kongkrit untuk membasuhluka yang teramat dalam.
Selamat jalan sabahat tercinta, hari ini kita akan berbeda arah. Kita akan kembali menjadi manusia yang tak mengenal satu sama lain atau bahkan saling menusukan piasu.
inilah janji

Minggu, 23 Juni 2013

Adiku, Tuhan telah menunjukan Kuasa-Nya

Entah saya harus berkata apa, kalaupun belum diketahi kebenarannya tetap saya saya shock dan merasa berdosa peristiwa itu sudah terjadi. Jujur, tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran saya bahwa kejadian menjijikan itu akhirnya terjadi dalam hidup saya. Tepatnya bukan dalam hidup saya langsung namun masih tetap dalam lingkaran kehidupan saya. Katakanlah peristiwa itu terjadi pada teman saya.
Saya tak tahu menahu soal kejadian itu, yang membuat saya kaget karena kejadian itu menimpa orang yang tak pernah terpikir sedikitpun dalam pikiran saya. Sedikitpunn tidak sama sekali.
Sudah seminggu ini saya berada di luar kota, menikmati kota jogja dan mengulang romantisme masa lalu yang aduhai. Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di warung kopi dengan teman-teman disini, menyaksikan kehidupan malam kota Jogja.Namun, ketenangan yang saya dapatkan disini justru terusik dengan kabar yang menyentak ulu hati. Semua berawal ketika saya mendapati pesan singkat yang dikirim teman dari tanah kelahiran sana. kurang lebih pesannya seperti ini 
"Bang, kalau abang lagi butuh duit, apa yang abang biasanya lakukan?"
Ya, pesan itu terlihat sangat wajar, kalaupun memang kecurigaan sempat menyerang ulu hati saya. Tidak biasanya dia mengirim pesan seperti itu. Biasanya kami hanya bertukar kabar dan bercerita tentang organisasi yang dipimpinnya disana. Namun pesan yang saya terima waktu itu, seolah ingin mengabarkan bahwa tengah terjadi sesuatu.
Karena tak ada pulsa saya tak membalas pesan itu, sampai pesan ke duapun muncul menanyakan apakah saya sedang sibuk atau tidak. Saya tetap tak membalasnya, kali ini bukan karena tak ada pulsa tapi karena saya malas melayani pesan-pesan yang masuk ke dalam telepon genggam saya.
Akhirnya tepat di pagi hari saya mencoba melihat keadaan di dunia maya, siapa tahu saja ada yang bisa saya ajak berdiskusi atau sekedar ngobrol santai. Dari semua yang sedang online tak ada satupun yang menarik mata saya untuk menyapanya sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah topik yang menarik untuk di bicarakan bersama teman di ujung sebrang sana, dan sayang nya posisi dia sedang offline. Tebak-tebak buah manggis, saya pun memaksakan diri mengirimkan pesan chatting, dan Alhamdulilah akhirnya mendapat respon positif. Ternyata, sahabat di ujung sana sedang online, namun mungkin karena takut terganggu dengan tangan-tangan iseng yang mengajaknya memanjakan jari-jari akhirnya appear offline pun dia pilih. Appear offline adalah keadaan dimana kita sebenarnya sedang online namun menyembunyikan statusnya agar terlihat offline oleh orang lain. namun kita masih bisa melihat orang lain yang sedang online.
Akhirnya pebicaraan pun dimulai dengan saya menceritakan mimpi yang saya alami. Bukan mengada-ngada saya memang memimpikannya. Dalam mimpi itu saya benar-benar bahagia, bercanda dengannya dan ya intinya semua terasa senang. Ini mungkin obat rindu yang Tuhan berikan kepada saya. Jujur, hampir sebulan ini saya menemukan sosok berbeda dari teman saya itu. jangankan untuk bercanda dan berbagi tawa, hanya untuk bertegur sapa saja lmalah terhitung jari, bahkan pernah suatu hari teman saya itu buru-buru mengunci pintu kamarnya hanya karena kedatangan saya.
Pembicaraan un berlanjut dengan keprihatinan saya terhadap teman-teman dekat yang sebentar lagi harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar SPP. Saya tahu persis bahwa sebagian dari mereka adalah orang yang tak punya banyak rupiah, jadi kalaupun SPP di kampus ku terhitung masih murah namun tetap saya mereka merasa terbebani. Sampai akhirnya pembicaraan kami bermuara pada satu orang, dia teman kami juga. Seorang pimpinan organisasi yang namanya kami usung berdasarkan kesepakatan bersama.
Dengan tegas, teman di ujung sebrang sana menuliskan kalimat yang sangat menyayat hati, kurang lebih seperti ini :
"bang, jujur ya, sebenarnya si "anu" bukan pusing karena tak punya duit buat bayar SPP, tapi dia sedang kena kasus"
Dengan nada penasaran saya pun memintanya menceritakan kasus yang sedang dialami teman kami yang satu itu, namun teman di ujung sebrang sana hanya memberikan clue dan itu sudah cukup jelas buat saya.
Bagai tersengat aliran listrik ribuan volt saya kagetnya minta ampun. bagaimana kejaidan seperti itu terjadi pada orang yang saya anggap mustahil untuk melakukannya. Anak santri dan terhitung cerdas. bagi saya dia sudah cukup dewasa untuk memilah sampai batas mana dia harus bergaul dengan orang lain, memilah-milih mana yang baik dan mana yang benar.
Namun kata-kata meyakinkan terus saya dapatkan dari teman di ujung sebrang sana, :
"kalau mau jelasnya abang langsung tanya saja ke orangnya, dia bakal sms abang. Saya sudah suruh dia buat terung terang ke semuanya"
Ini benar-benar sudah gila. Semua benar-benar diluar kendali Apa yang saya takutkan selama ini benar-benar terjadi dalam kehidupan saya. Kalaupun saya bukan seorang rabbi, namun bagi saya sudah jelas apa-apa yang di nyatakan haram dalam agama adalah Haram hukumnya dan tak dapat di negosiasikan. Saya pikri dia anak yang cerdas dan tahu agama, tapi fakta ini telah meruntuhkan seluruh kepercayaan saya.
Sekarang saya tak tahu harus berbuat apa. harus menolongnya kah atau membiarkan dia ada dalam masalah itu. Bagaiamanapun dia memang teman sekaligus adik buat saya, namun melihat fakta yang terjadi di depan saya benar-benar tak percaya dan hampir saja saya kehilangan kesadaran bahwa dia adalah orang yang pernah saya kenal.
Saya ingat sebuah nasihat seorang ulama di kampung halaman saya " Salah adalah salah dan benar adalah benar. Jika hari ini orang lain tidak tahu kesalahan Anda bukan berarti Anda tidak bersalah, itu semua karena kasih Tuhan yang masih melindungi Anda, menyembunyikan kesalahan Anda dan memberi Anda kesempatan untuk sadar. namun ingatlah bahwa sesungguhnya azab Allah sangat pedih, Jika Anda tak bisa melihat nikmat Tuhan yang satu itu, maka yakinlah bahwa Allah tidak segan-segan untuk membuka semua aib Anda".
Ya Allah ya Rabb, saya benar-benar memohon ampun atas segala kesalahan. Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh sahabat saya itu adalah hal yang awajar, tapi tidak bagi saya. Saya adalah orang kampung yang masih berpikiran kolot. bagi saya, hidup bukanlah soal kesenangn dan nafsu semata, tapi ada norma dan agama yang menjadi filter agar kita bisa mawas diri.
"Ya Allah Ya Rabb, Jika apa yang terjadi adalah esalahan saya mendidik adik-adik saya. maka hamba memohon ampun kepada Engkau, biarlah hamba yang menerima apa yang seharusnya hamba terima atas kesalahan ini"
Ya,Allah ya Rab, salah adalah salah. Dan benar adalah benar. Hamba percaya bahwa keduanya tidak akan pernah bisa dilebur dengan cara apapun. Semua hamba serahkan kepada Engkau ya Rabb. Semoag Engkau memberikan kebaikan untuk semuanya.
Adiku, Sahabatku, cepatlah sucikan diri. Sadarlah bahwa Allah sudah menunjukan kekuasaanNya, dan kita tak dapat menolak itu. Satu hal yang wajib kita sadari bahwa kita telah melupkana nikmat Tuhan, kita lupa bersyukur bahwa Tuhan selama ini masih menyimpan aib kita ara kita mamu bertobat dan memohon ampunanya. Percayalah adiku, bahwa ini hanyalah secuil dari rahasia kita yang Tuhan buka di depan mata manusia.

Smpai di publikasikannya tulisanini, saya belum tahu persisi bagaimana kejadiannya. Namun entah kenapa intuisi saya selalu menggiring pada hal-hal yang mengerikan. Hal yang diluar batas kewajaran orang bermoral, orang kuliahan dan orang beragam. Astaghfirullahal'adzim

Kamis, 20 Juni 2013

Bercumbu dengan malam

Entah saya kapan kehidupan ini akan berlanjut. Menikmati aroma malam dan berujung pada pagi yang terbawa kantuk. Semua bukan tanpa sebab, lagi-lagi kepuasan menjadi tameng pembelaan yang paling mujarab.
Raga renta, entah bagaimana kondisi jiwa, sepertinya sudah tak lagi muda. Tapi bisa saja jiwa ini pun meronta, bukan karena tak suka namun mungkin saja bahagia menikmati setiap aroma malam.
Sudah lama kehidupan seperti ini saya jalani. Awalnya memang hanya sebatas duduk malam sambil menunggu pagi, namun makin kesini ternyata malam menyuguhkan nuansa romatisme yang gemulai. Deru mesin memang selalu saja ada, namun tak seperti siang, aroma malam tetap saja memberikan kedamaian.
Mata boleh saja terkantuk hebat, tapi jemari seolah enggan berhenti menari. Otak pun ikut melompat kegirangan, ikhlas terus berputas mereproduksi setiap kalimat yang mendatangkan puing-puing rupiah.
Orang boleh saja mencibir, tapi bagi mereka yang merasa tertolong, justru raga ini adalah dewa. Memang mereka tak mau tahu apakah sudah rapuh atau belum, yang ingin mereka dengar adalah kabar baik bahwa urusan mereka mampu terselesaikan dalam semalam.
Inillah cinta satu malam, begitu populer dalam kehidupan saya. Bercumbu dengan layar 14 inci, bercinta dengan papan ketik yang merintih keras. Selalu setiap malam dengan aroma ketenangan.
Jika mereka tak peduli dengan raga rapuh ini, saya juga sebenarnya tak peduli siapa mereka. Ini adalah bagian dari roda hidup yang mesti berputar, tidak boleh berhenti karena sekalinya berhenti maka tidak ada lagi kata hidup. Semua akan mati, dan sia-sia.
Biarkan mereka menggerus semua tenaga yang saya punya, membobol pikiran yang masih bisa berputar. Selama ada sisa-sisa tenaga dan pikiran saya masih siap menjalani ini semua. Ini bukan semata-mata hal pragmatis, tapi semua berlanjut karena kepuasan.
Itulah malam, kedamaian dan kepuasan selalu di suguhkan. Cumbu dan pelukan hangat boleh saja tak ada, tapi cinta mengalir begitu deras.
Saya semain mencintai malam, semakin mencintai layar 14 inci. Denganya saya bisa memaksa otak menambah kapasitasnya. 
Akhirnya, malam telah berlanjut sampai pagi. Mungkin ada baiknya, saya menunggu malam berikutnya. Bercumbu kembali dan meihat jemari menari dengan gemulai lagi

Perjalanan Revolusioner

Hari ini saya datang kembali di jogja, sudah hampir seminggu saya di kota ini. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan, lebih tepatnya kegiatan-kegiatan produktif, selebihnya saya hanya berkumpul dengan teman-teman lama, di warung kopi dan sesekali di tempat karaoke. Tujuan saya datang lagi ke kota ini pun memang untuk itu, menghidupkan kembali romantisme masa lalu yang sempat pudar.
Dulu, saya terhitug sering datang ke kota gudeg ini, menyambangi teman-teman dan hanya untuk itu. Romantisme yang terbangun sungguh luar biasa, saya seperti menemukan keluarga baru disini. Ketika datang ke kota ini saya tak pernah takut kelaparan atau tidur di emperan, mereka siap kapan saja menampung saya.
Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya saya bisa mengenal kota ini, masa kecil memnuat saya trauma untuk pergi ke kota-kota yang jauh. Mental yang di bangun oleh kedua orang tua memang tak begitu baik, rasa percaya diri yang rendah memicu ketakutan saya yang berlebihan, terlebih lagi ketakutan untuk pergi ke kota yang jauh dari jangkauan pikiran saya sebelumnya.
Keberanian saya muncul saat menginjakan kaki ke bangku kuliah. Tujuan saya masuk kuliah hanya satu, saya ingin belajar dan mengembangkan diri. Menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Pribadi yang penuh ketakutan.
Tahun 2009 adalah awal saya melakukan sebuah perjalanan revolusioner. Bermula dari ajakan senior untuk ikut serta dalam sebuah organisasi berskala nasional, saya pun akhirnya memiliki keberanian untuk pergi ke 5 (lima) kota sekaligus. Bandung adalah kota pertama yang saya sambangi, kemudian jogja, malang, surabaya dan terakhir saya berhenti di Jakarta. Setiap kota tentu menyimpan sisi romantisme yang berbeda. DI bandung misalnya, di kota inilah saya disambut dengan adzan subuh yang sangat syahdu, sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke kota gudeg. Semangkuk mie rebus dan kopi hangat saya santap dengan lahap, kira-kira pukul 05.00 WIB saya tiba di terminal leuwi panjang waktu itu. 
Dengan bermodal uang dari organisasi saya melakukan perjalanan tersebut, menyambangi benteng peninggalan belanda di Jogjakarta menjadi lokasi ke-2 dari perjalanan revolusioner yang saya lakukan dulu. Disinilah saya bertemu dengan kawan-kawan luar biasa yang sedang mensosialisasikan tentang media literasi. Mereka mencoba mempersuasi masyarakat untuk turut serta cerdas dalam memilih program-program televisi yang di suguhkan. DI sadari atau tidak, program-program televisi yang beredar saat itu memang menjijikan. Hampir semua tayangan televisi dengan latah menyiarkan hal-hal mistis dan mitos. Tayangan kekerasan masih juga merajai, bahkan adegan-adegan berbahaya yang kapan saja bisa menginfluence anak sering sekali di tayangkan oleh televisi Indonesia. Semua sudah berbicara kapitalistik, siapapun yang memiliki modal, tentu akan dengan sangat mudah menciptkan budaya dan ideologi baru. Akhirnya lagi-lagi masyarakat yang di korbankan.
Di kota Jogja lah saya bertemu dengan teman-teman omah idjo, tempat saya menginap dan tempat saya belajar bagaimana mahasiswa Jogja meramu sebuah kreatifits menjadi karya. Saya juga banyak belajar dari masyarakat jogja, mereka begitu mencintai sang Sultan. Masa bodo dengan banyak tudingan di luar bahwa Kota Jogja telah menyalahi konstitusi karena membangun negara dalam negara, mereka juga tak peduli dengan ocehan orang luar bahwa dominasi kerajaan keraton dalam politik Kota Jogja telah mematikan unsur-unsur demokrasi. Saya sendiri tentu sepakat dengan masyakarat Jogja, toh jika inti dari demokrasi sendiri tidak lain adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan perihal dominasi politik kasultanan, tentu itu juga atas keinginan masyarakat sendiri dan selama ini pun masyarakat Jogja masih nyaman-nyaman saja di pimpin oleh sang Sultan. Ya, terlepas masyarakat yang mana, yang jelas demokrasi di Jogaj tak perlu menghabiskan uang negara berlebihan.
Selesai menikmati gudeg dan mengintari Malioboro, saya berangkat ke kota Malang. Disinilah saya menemukan nuansa romantisme yang indah, adalah Ryan, Tomo, Bintang dan Anggi menjadi 4 sekawan yang melengkapi kehadiran saya di Kota Apel ini. Mereka selalu siap mengantar saya kemanapun saya mau, dan di Kota Batu saya melihat panorama alam ciptaan sang Khalik yang luar biasa. Di tengah kabut hutan yang tebal, saya menemukan air terjun yang indah. Air itu mengalir deras disertai bunyi yang gemuruh. Indah dan menenangkan.
Saya sebenarnya enggan untuk pulang kembali ke kampus, mendengarkan ocehan-ocehan dosen yang hanya copy paste dari buku. Bagi saya menjenuhkan konsep mengajar seperti itu, malah mahasiswa seolah di cekoki pikiran orang lain, bukan diajarkan untuk menciptakan pikiran mereka sendiri. Atau paling jago juga saya di paksa untuk melihat slide materi yang norak, hanya membaca lalu dengan kuasanya sang dosen mengkomandoi kami untuk mengerjakan tugas yang sama sekali tak kami pahami. Meminjam Kalimat Soe Hok Gie yang saya modifikasi "Dosen tak layak, sudah saatnya masuk keranjang sampah".
Tapi mau tidak mau saya memang harus kembali, ada tanggung jawab besar di kampus. Kebetulan waktu itu saya pimpinan organisasi di kampus, memang tidak besar, tapi bukan itu ukurannya. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, besar kecilnya tergantung bagaimana kita mau menyelesaikan tanggung jawab itu.
Saya pun meninggalkan kota Malang, berangkat ke Ibu Kota dan bertemu dengan kawan-kawan baru, yang menginspirasi saya bahwa hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara yang Tuhan ciptakan dengan berbagai macam skenario. Adalah Teater Sendiri Ciputat yang memberikan pelajaran berarti itu, mereka sedang menyelenggarakan pentas khusus di gendung Japan Foundation. Selain teater yang mereka suguhkan, pameran lukisan nan apik pun telah menyedot ribuan pengunjung waktu itu dan saya salah satu dari mereka.
Romantisme masa lalu memang indah untuk di kenang, itulah kenapa saya datang kembali ke Kota Jogja.
Kalaupun tak seromantis dulu, tapi Jogja tetaplah Jogja. Kota Istimewa yang tak kan tergantikan oleh kota manapun.

Sabtu, 15 Juni 2013

Mencintai dengan Sederhana

Saya begitu mencintainya, seperti akar yang enggan terpisah dari batang pohon, membuatnya tetap kokoh dan menghadang terpaan angin. Entah sampai kapan cinta yang begitu dalam ini tertanam, mungkin lusa sudah berubah menjadi hal lain. Sama halnya dengan akar, kadang musim kemarau membuatnya tak tahan terus-menerus men suply air untuk kekasih yang dicintainya, pohon. Itulah saya, yang mungkin saya masih bisa bertahan sampai kemarau panjang yang dapat merenggut cinta yang dalam ini.
Saya mencintainya dengan sederhana, bukan bermaksud untuk mencopy apa yang di sampaiakan oleh sang penyair terdahulu, tapi memang begitulah adanya bahwa saya mencintainya dengan sederhana. Dengan melihat senyumnya saja saya sudah berbunga hati. Apalagi kalau berbalas kata yang begitu panjang sampai pada sebuah kesimpulan kami telah melakukan sebuah percintaan erotis dalam percakapan.
Saya tidak pernah mau ditanya kapan, kenapa atau bagaimana saya mencintainya, karena bagi saya cinta bukanlah sebuah pertanyaan melainkan jawaban atas kegelisahan hati. Semua kegelisahan, kegundahan dan rasa was-was seolah sirna ketika senyum ranum mengembang dari bibirnya, itulah cinta yang sederhana.
Mungkin banyak orang bertanya kenapa cinta begitu menggugah rasa, menghilangkan perasaan sedih dan bisa juga mendatangkannya. Melenyapkan perasaan sakit dan kadang bisa mendatangkannya. Cinta jika dimaknai secara sederhana sebenarnya sama saja dengan rasa yang lain, memiliki dua sisi yang kadang dapat mendatangkan dan bisa jadi menghilangkan.
Saya sendiri tidak tahu kapan tepatnya saya mulai mencintai dia, karena sekali lagi bagi saya cinta tak perlu ditanya kapan, yang jelas hari ini dan mungkin sampai kemarau datang saya masih bisa memberikan cinta yang sederhana ini, mensuply air pada pohon yang kehausan.
Tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya bahwa saya bisa mencintai nya sesederhana ini, begitu sederhana dan kadang menguras air mata.
Ah, mungkin diluar sana orang akan bilang bahwa saya terlalu cengeng untuk seorang laki-laki. Saya sendiri jadi bingung memaknai itu semua. Toh bukan kah cinta memang begitu adanya, membuat si kuat menjadi lemah, dan yang lemah seketika mampu menjadi layaknya super hero. Cinta bisa membuat cengeng tapi dengan seketika cinta juga akan mampu membuat seseorang begitu sabar, tegar dan siap menghadapi segala macam peliknya hidup.
Saya tak peduli lagi apa yang orang bincangkan tentang kelelakian saya, saya terlalu cengeng untuk seorang ketua sebuah organisasi nasioanl. Sekali lagi, ini sama sekali tidak ada hubungannya. Saya hanyalah manusia yang sama dengan yang lainnya, memiliki rasa, memiliki cinta dan memiliki Tuhan terus mengawasi. Bagi saya hidup hanyalah bagaimana kita memaknai cinta itu sendiri. Hidup adalah menghidupkan cinta, medatangkan kedamaian dan meredam rasa amarah yang kadang menjadi batu kerikil yang membuat seseorang berpindah trak kehidupan.
Inilah cinta, sebuah kata sederhana.
Aku mencintai mu dengan sederhana, hanya ingin mengokohkan pohon dengar akar yang suatu saat mati dalam musim kemarau panjang.

Jumat, 14 Juni 2013

Alangkah Lucunya Memutus Silaturahmi

Orang bijak mengatakan bahwa menyambung tali silaturahmi tidak lain adalah untuk memperpanjang umur. Rasanya nasihat itu demikian adanya. Kalau dulu saya sempat memikirkan apa korelasi yang nyata antara silaturahmi dan memperpanjang umur?, namun makin kesini saya semakin paham, bahwa manusia memang butuh manusia lainnya untuk tetap hidup di dunia ini. Coba saja kalau kita tak mampu menjaga silaturahmi dengan orang lain?, jangan harap ada orang yang mau menolong saat kelaparan, jangan heran juga kalau cemooh dan kata-kata kotor atau mungkin keadaan mengancam nyawa sring kita dapatkan.
Aneh bin Ajaib, bahwa kadang banyak manusia yang mengumbar seribu alasan pembenaran hanya untuk memutus tali silaturahmi, rugi? Jelas, memutus silaturahmi adalah kerugian terbesar dalam hidup. Ingat, manusia adalah Zoon Politicon begitulah sang maestro filsafat bilang, Aristoteles. Manusia adalah makhluk sosial yang keberadaannya tidak akan pernah bisa di lepaskan dari manusia lainnya. Dengan memutus tali silaturahmi, apapun itu alasan pembenarannya, apapun caranya apapun keadaannya, hanyalah dimiliki oleh orang-orang dungu. Orang-orang yang tidak mau bebagi dan di beri oleh dan dengan sesama.
Saya punya cerita yang unik, lucu dan menggelitik, setidaknya ini buat saya.
Seorang kawan, lebih tepatnya adik saya sedang ngambek, sedang marah dan tak mau lagi silaturahmi dengan saya. Alasannya?, hanya karena ingin berkembang dan tidak ketergantungan. Lucu, hanya karena ingin berkembang dan takut ketergantungan kita malah melepaskan diri dari track yang sudah di bangun. Dengan cara pembelaan apapun, jelas bahwa sikap seperti itu adlah sikap orang dungu yang menyalahkan oran lain dan keadaan atas ketidakmampuan untuk berkembang. Oya, adik saya banyak dan mereka bisa berkembang sebagai mana kebanyakan orang, lantas ingin berkembang seperti apa?, hanya karena iri dengan orang lain yang sudah lebih maju?. dan kemudian mencari segala macam pembenaran hanya karena ingin berkembang?
Berkembanglah sesuai rotasi hidup, berkembanglah sesuai hukum alam. Bahwa ketika manusia ingin berkembang yang dilakukan bukan hanya diam, tapi bangun..bangun..bangun.
Bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang di beri akal ingin berkembang tapi tak ada yang kita lakukan sama sekali?, bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang lebih sempuran dari pada makhluk lain ingin berkembang tapi hanya diam seperti kucing hendak buang air?
Saya ingat pepatah seorang ulama bahwa jika manusia ingin berkembang maka satu hal yang perlu di lakukan, yaitu HIJRAH. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga perpindahan pola hidup. Rubahlah pola hidup, dan jadikan pola hidup yang dipakai memang panas untuk mengucapkan "SAYA INGIN BERKEMBANG"
Alhasil, adiku yang baik hatinya itu semakin lucu, komunikasi sudah enggan. Bahkan kalau saya datang untuk menemuinya saja, buru-buru dia banting pintu dan menguncinya dari dalam, ah semakin telihat saja bahwa dia justru menjadi lebih layu sebelum berkembang.
Banyak kejadian lucu yang saya alami dengan adik saya itu, lucu dengan sikap dia yang semakin hari jauh dari kejujuran, memang kebohongan itu cuma saya saja. Lagi-lagi itu dilakukan karena dia ingin berkembang. hargai saja, kalaupun saya bingung harus menghargai sikap bodoh itu seperti apa. Satu sebenarnya sikap yang tak jelas, jika memang takut ketergantungan dengan saya, kenapa tidak takut ketergantungan dengan orang lain selain saya?, toh sampai hari ini pun dia masih ketergantungan dengan orang lain. Pembenaran-pembenaran bodoh itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
Akibatnya jelas, bahwa ketika segala macam pembenaran dilakuakan hanya untuk memutus tali silaturahmi,  maka benih-benih kebohongan, kebencian akan semakin tumbuh. Berkembang memang, tapi bukan justru yang berkembang adalah kebodohan dan kedunguan. Mungkin, adiku yang baik hati itu lupa bahwa kita hidup bukan utntuk diri kita saja, kita hidup tidak hanya ada rasa senang tapi ada rasa susah. Hari ini boleh saja kita senang, tapi masih bisa kah besok kita tertawa?

Rabu, 12 Juni 2013

Menjaga Kesucian Hati

Malam boleh saja larut, angin boleh saja menumbangkan kesehatan, tapi saya tak gentar untuk menerima nasihat-nasihat peneduh hati. Di saat hati sedang kacau, rasa sedang tak karuan, nasihat dari orang yang lebih dahulu menapaki kakinya ke dunia ini memang menjadi obat yang paling mujarab.
DI kaki bukit Pulosari saya menemui beliau, bersama kawan yang setia mengemudikan motor dengan lincah dan sangat hati-hat. Bukan para noral atau cenayang yang kami temui, tapi seorang guru yang mampu menenangkan jiwa. 
Hampir tengah malam kami tiba disana, di sambut oleh sapaan hangat dan romantisme keluarga harmonis. sepasang cangkir antik berisi air teh hangat pun tersedia di atas meja dan siap untuk di santap. Cuaca malam itu memang terasa berbeda dari biasanya, lebih dingin dan menusuk tulang.
Menunggu sang guru yang sedang berbincang dengan istrinya, kami menunggunya di ruang tamu di temani putra kesayangannya. Ya putra nya adalah teman kami juga, satu kampus dan malah sering sekali kami menghabiskan waktu bersama di kala senggang.
Tayangan film kolosal di salah satu televisi suasta Indonesai menemani obrolan kami, dan saya pun tak basa-basi langsung ke pokok masalah. Saya tak banyak bicara, memang tujuan saya datang kesini bukan untuk bicara tapi hanya untuk mendengarkan. 
Dengan sedikit agak malu, saya mengatakan bahwa akhir-akhir ini hati saya sedang gundah, perasaan saya kalut dan kadang emosi saya sampai ke ubun-ubun. Saya seolah menjadi bukan saya, bahkan ketidak sukaan saya terhadap orang lain kadang memnggiring pikiran saya untuk melakukan sesuatu yang negatif.
Sang guru hanya tersenyum dengan bijaksana, dan ketika kalimat demi kalimat keluar dai mulutnya, saya hanya bisa menahan tangis. Saya benar-bena tersadarkan dengan apa yang di katakannya, bahwa hidup bukan lah soal kekerasan. Se-tidak-suka apapun kita terhadap orang lain, kekerasan tetaplah bukan jalan keluarnya. Baginya, hidup damai adalah impian semua orang termasuk saya. Beliau mengatakan bahwa bersikukuh dengan keinginan memang lah baik, namun jika memaksakan semua jalan demi mencapai tujuan, justru akan banyak syetan yang mengikuti. 
Saya benar-benar semakin tersentak dengan semua yang di katakan beliau. Saya ingat bagaimana saya memiliki niatan jelek terhadap orang-orang yang sudah menyakiti hati saya, menghina dan merendahkan derajat saya sebagai manusia.
"hati manusia di jaga oleh malaikat, kalau saja semua manusia bisa menjaga apa yang ada dalam dirinya, percayalah bahwa apapun kekuatan dari luar tak akan pernah bisa masuk" kurang lebih itulah yang di sampiakna beliau pada kami waktu itu.
Saya baru mengerti bahwa segala masalah yang timbul selama ini dalam hidup mausia semua karena ulah manusia itu sendiri yang tak mampu menjaga kesucian hati. Iri dengki kadang mampu meruntuhan keteguhan hati dan itulah awal mula syetan telah menanam benih-benih kebencian pada hati manusia. Itu bukanlah salah syetan, semua terjadi karena manusia sendii yang tak mampu enjaga kesucian hati.
Entah kekuatan apa yang dimiliki sang guru, belaiu mencoba menebak-nebak kejadian pahit yang pernah saya alami semasa hidup. Beliau menjabarkan tahun-tahun sulit saya menjalani hidup. Percaya tidak percaya tapi apa yang di katakannya memang lah benar. Kesulitan hidup saya berawal setelah ibunda tercinta wafat. Meninggalkan kami sekeluarga dan juga kenangan dan cita-cita saya. Hilangnya ibu saya darikehidupan dunia, ternyata telah membuat setengah dari nyawa saya hilang juga. Saya gamang dan serba bingung untuk menjalani hidup.
Tak terasa waktu semakin larut, dan kami pun masih asyik dengan obrolan hangat pembangun jiwa. Waktu itu, ada nasihat yang sangat luar biasa buat saya sebelum kami semua pergi ke pembaringan. 
"JIka manusia ingin hidup damai, jangan ernah mencari apapun diluar dari dirinya. Cukup menjaga kecuain hati, balik ke dalam hatinya dan menyelami siapa sebenarnya dirinya tersebut. Hakikatnya, manusia di lahirkan ke dunia tidak lain adalah untuk mengenal dirinya sendiri."

Kamis, 30 Mei 2013

Cinta bukan lah payudara

Banyak dari sahabat-sahabat saya yang memiliki pasangan, ya anggap saja itu adalah pasangan hidup mereka. Minimal selama adanya seseorang di sampingnya, mungkin mereka merasa bisa menikmati hidup. kalau tidak ada? sebenarnya sama saja, toh hidup terus berlanjut selama Tuhan masih mengizinkan.
Tidak sedikit dari mereka yang meluapkan sepenuh cinta pada pasangannya. Jangan pernah bertanya cinta yang seperti apa, karena saya juga bingung makna cinta itu sendiri. Semua orang berhak menginterpretasikan cinta sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Asa pun terus di pupuk sampai mendekati puncak himalaya, mungkin setinggi itu. mulai dari sama-sama bermimpi akan berakhir di pelaminan, tak akan meninggalkan satu sama lain sampai ajal yang memisahkan sampai bermimpi memiliki anak-anak yang lucu. Ah malah terlihat lucu.
Ini zama modern, wajar kalau ada perempuan dan laki-laki harus pacaran, harus ciuman bibir, harus tidur berdua, Ah, menjijikan. Ya, bisa jadi betul kata teman saya bahwa pikiran saya memang kolot, saya kampungan. Saya tak bisa berpikir seperti kebanyakan orang kota, orang-orang yang di luar batas kewajaran. Memilih wanita yang di kasihi lalu hidup dalam asa yang melambung tinggi, sekalinya asa itu tertiup angin ketidakpercayaan, semua cinta ikut terbang, sayang berubah menjad kata paling menjijikan, bahkan untuk sekedar saling sapa saja rasanya ingin muntah.
Mungkin itulah pikiran orang-orang kota, begitu gampang menginterpretasikan cinta. Ketika nafsu bergelora melihat wajah cantik, melihat pantat yang aduhai, melihat payudara bak semangka, maka cinta telah muncul dalam hatinya. Sungguh menjijikan.
Setiap orang memang berhak menginterpretasikan cinta dengan bentuk apapun, tapi tidakah menjijikannya orang-orang yang hanya melihat cinta dari pantat dan payudara?. Cinta itu bersih, cinta itu adalah naluri. Cinta tidak pernah dan tidak akan bisa di lebur dengan payudara, cinta tak bisa di lebur dengan kuluman manis bibir si gadis. Cinta dekat dengan hati, dekat dengan Tuhan.
Pikiran saya memang kolot, saya masih belum bisa menerima jika cinta di sejajarkan dengan hal material. Material mungkin bisa jadi penghantar, tapi tidak kah bisa kah memilih material yang lebih baik ketimbang pantat dan payudara?.
Saya jadi ingat bagaimana kebanyakan ustad berkilah soal poligami. "Ini sunah rosul, rosul saja istrinya empat. Bukan kah di bolehkan kalau siap untuk adil?". Betul, itu memang sunah rosul, tapi bukan kah masih banyak sunah rasul yang lain yang bisa dicontoh?, kenapa selalu mau enaknya saja?,
Kenapa juga dengan begitu mudahnya memaknai cinta berdekatan dengan hawa nafsu?. Iya, mungkin benar bahwa cinta dan hawa nafsu hanya di pisahkan oleh kulit ari, dan yang percaya kalimat itu adalah orang TOLOL. Sekali lagi cinta dan nafsu itu seperti langit dan bumi, sejauh kutub utara ke selatan. Ke dua nya jelas berbeda.
Saya juga bukan orang yang bersih, orang suci seperti para rabi. Saya juga manusia biasa yang memiliki nafsu, tapi bukankah kita di beri akal oleh Tuhan untuk memilah mana yang namanya nafsu ddan mana itu cinta?, Kalau semua dileburkan, maka jangan heran kalau benar dan salah saja sulit di bedakan lagi. Ketika cinta dan nafsu sudah dilebur, maka salah akan jadi benar, dan benar hanyalah pembenaran.
Ah sudahlah, lama-lama saya mau muntah melihat tingkah manusia-manusia kota yang tolol. Silahkan kalian berpikir dan bertindak seseuai apa yang kalian mau. Silahkan kalian sejajarkan cinta dengan payudara, samakan cinta dengan pantat montok. Akan ada masanya kalian akan di penggal oleh tindakan kalian sendiri.

Jumat, 24 Mei 2013

Mereka Hadir Kembali

Lelah mungkin sempat saya rasakan kemarin hari, bersama teman saya pergi untuk menemui sang donatur. Akhir-akhir ini saya memang di sibukan dengan project yang lumayan besar. Ini bukan project yang menghasilkan uang tapi lebih kepada pengalaman. Saya tidak tahu sampai kapan saya hanya mengerjakan project untuk menmbah pengalaman, mencari uang, mungkin nanti. Pasti ada saatnya.
Ini adalah bentuk pengabdian, kalau pun bahasanya terlalu berat cuma saya bingung menggantinya dengan apa. Ini memang pengabdian atas apa yang telah saya dapatkan dari pendahulu-pendahulu saya.
Masuk dunia kampus dan bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya belajar banyak tentang segala hal termasuk bagaimana menjadi manusia bermanfaat. Saya ingat perkataan seorang wanita yang menggandeng tangan saya pertama kali di kampus, "De, orang besar adalah mereka yang mampu membuat orang lain menjadi besar". Perkataan itulah yang sampai sekarang selalu menjadi rel saya untuk melakukan sesuatu.
Dengan menumpang bus jurusan merak, saya dan teman bergegas menuju pelabuhan merak, Celana Jeans dan kemeja ala eksekutif muda pun kami persiapkan demi image. Image memang tak bisa di tolak bahwa itu penting. Tujuannya hanya satu, menemui donatur yang sebenarnya sudah kami kenal. Yang satu adlalah pendahulu saya dan satunya lagi adalah wanita yang saya bimbing, sebut saja begitu. Intinya kedua nya adalah orang yang dilahirkan dari rumah yang sama yaitu jurusan komunikasi Untirta.
Keringat boleh mengucur, rasa haus boleh saja menjalar di keronkongan, tapi semangat tentu berkobar lebh dari itu semua. Semangat kami untuk bersilaturahmi dengan sang donatur itupun tak lepas dari keinginan akan suksesnya project nya sedang kami jalankan. Kami di temui oleh sang kaka angkatan. Ah, beliau ternyata sudah luar biasa, kepala humas di salah satu perusahaan BUMN. Saya pikir kami akan duduk-dudk kaku dengan keringat yang semakin banjir, ternyata itu di luar apa yang kami bayangkan. Kami di sambut dengan hangat, bahkan kesalahan besar yang kami lakukan hanya di anggap lelucon penuh tawa. 
Saling bertukar kabar dan infomasi tentang project yang akan di jalankan, kami pun sesekali mengenang dunia kampus. Memang, kami tak hidup dalam masa yang sama, saya masuk kampus di tahun 2007, teman yang sedari tadi membuntuti pun masuk di tahun 2011 sedangkan abang kami yang sekarang menjadi kepala humas BUMN itu masuk di tahun 2002. Jarak angkatan boleh saja jauh, tapi rasa bangga akan kampus membuat kami lepas menceritakan masa-masa indah selama di bangku kuliah. Seerti ada sebuah koneksi yang saya sendiri bingung melukiskannya, yang pasti kami begitu nyaman dengan tawa renyah sembari sesekali meminum kopi yang di sediakan si abang office boy.
Akhirnya, si wanita yang kami tunggu-tunggupun datang, sekretaris GM (General Manager). Dia bukan orang yang asng bagi saya. 1 tahun lebih kami bekerja sama ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Dia sudah lulus satu tahun yang lalu dan dengan keahlian yang dia pelajai selama kami bekerjasama itulah akhirnya posisi seketaris pun dengan mudah di dapatnya.
Keputusan sudah di buat, project poposal yang kami ajukan ternyata di setujui oleh yang punya perusahaan. Memang tidak banyak tapi lumayan lah untuk mengbati rasa lelah kami berdua. Tak beda jauh dengan sang Kepala Humas, Sekretaris cantik ini pun ramah bebincang dengan kami. Bahkan salam hangat dan cium tangan dari sang sekretaris sempat dilakukan untuk saya.
Ada yang membuat perasaan saya bangga saat itu, saat kepala humas menjelaskan bahwa sebelum melakukan kontrkak kesepakatan, perusahaan harus melakukan analisis swot terlebih dahulu terhadap proposal project yang sedang kami jalankan untuk menjadi bahan evaluasi ke depan. Namun di sela-sela penjelasan sang kepala humas tersebut, sekretaris cantik itupun menyela dengan kalimat yang sangat halus "tenang pak, kalau bang hedi pasti sudah khatam masalah seperti itu, saya juga kan banyak belajar dari dia". Saya benar-benar bangga ketika kalimat itu di ucapkan. Ini bukan soal saya merasa hebat di sanjung tapi karena ada pengakuan yang jelas dari sang adik yang saya bimbing dulu. Dia ternyata cukup hafal dengan kebiasaan saya bahwa dalam melakukan apapun analisis swot harus menjadi patokan. 
Denag hati terbuka saya menawarkan diri untuk membantu melakukan analisis swot itu, itung-itung untuk mempercepat proses cairnya anggaran yang kami ajukan saja. Ya, tak ada salahnya juga mencoba kemampuan.
Akhirnya setelah panjang lebar, sekretaris cantik itu pun meninggalkan kami karena harus sesegera mungkin menuliskan laoran untuk proses pencairan anggaran, memang tak bisa hari itu juga, tapi dia menjanjikan minggu depan sudah ada di tangan kami, menyusul kamipun ikut pamit kepada kepala humas. Sebenarnya saya masih mau berlama-lama disana, namun sayangnya ada tamu yang lebih penting yang harus di urusi.
Hari ini, setidaknya saya dan teman saya dapat sebuah pengalaman baru, ilmu baru dan tentunya sensai baru menhadapi orang-oang penting dalam perusahaan.
Ada sebuah cita-cita yang menggantung kuat dalam pikiran saya, semoga ada juga dalam pikiran teman saya. Jika orang-orang yang saya temui barusan tadi saja bisa menjadi orang-orang hebat, kenapa saya tidak. Toh bukankah saya punya pengalamn yang lebih banyak ketimbang mereka dulu?.
Ada kalimat menarik yang sampai sekarang masih saya ingat "dunia kerja bukan lah untuk mereka yang cerdas, tapi mereka yang mampu memahami rekan kerjanya, mampu beradaptasi, jujur dan disiplin" kata kepala humas

Sabtu, 18 Mei 2013

Sendiri, Ini Bukan Kutukan

Ini bukan kutukan, lebih dari 5 Tahun saya menggunakan nama aku jejaring sosial dengan nama belakang "Sendiri". Entah apa yang dulu membuat saya begitu tertarik dengan nama "Sendiri" yang pasti ada sebuah ketenangan ketika saya menggunakan nama itu. Mungkin bagi saya pribadi hidup pada hakikatnya adalah sendiri mulai kita di lahirkan sampai Tuhan tak lagi memberikan kesempatan untuk tinggal di dunia.
Saya percaya bahwa ini bukan lah kutukan karena saya terlalu bahagia menggunakan nama "sendiri", hingga akhirnya sampai hari ini pun saya masih tetap sendiri. Ya, ini lagi-lagi bicara pasangan hidup. Bagi sebagian orang mungkin usia saya sudahlah cukup untuk mendapatkan pasangan hidup, hidup dalam bingkai rumah tangga bahagia bersama anak-anak yang lucu. Tapi Entah saya justru tak pernah terpikir sampai sejauh itu. Pikiran itu memang sempat muncul dulu, tapi sekarang saya justru asik dengan dunia ke"sendiri" an saya.
Memang, sesekali saya merasa iri jika melihat orang yang menggandeng pasangannya atau hanya sekedar berbincang lewat telepon. Rasanya seperti dunia hanya milik mereka berdua saja. Apa mungkin itu yang saya takutkan?, ketika manusia menyukai sesuatu maka sesuatu yang lainnya akan di anggap tidak ada?. Lagi-lagi ini pembelaan.
Satu tahun yang lalu ada seorang gadis manis datang di kehidupan saya. Katanya dia tertarik dengan bahasa-bahasa yang saya tuangkai lewat jejaring sosial, itulah yang sempat dia katakan pada saya. Kalimat-kalimat aduhai itu sebenarnya bukan buat dirinya, tapi buat wanita lain yang saya jumpai saat berkunjung ke rumah sahabat yang di timpa musibah. Tuhan sungguh maha bijaksana, dalam musibah saja selalu ada himkah. 
Wanita itupun tahu bahwa bahasa aduhai itu bukan buat dirinya, tapi tetap saja dia kagum dengan kelebihanku mengolah kata, ah bagiku itu bukanlah kelebihan. Pada akhirnya dia pun datang ke kota dimana aku tinggal sampai sekarang. Ikut menyelami dunia ku dan berbaur bersama teman-teman yang hidup dalam panasnya aspal jalanan.
Saya sungguh tertarik dengan perjuangannya, tapi entah kenapa saya justru lebih nyaman menjadikannya sebagai teman yang bisa membahagiakan. Saya ingat pepatah orang pintar bahwa kebahagiaan yang paling nyata itu pada saat kita sedang mendekati orang yang di sayang, setelah "dapat" justru seperti ada perasaan bahagia yang hilang. Itulah kenapa saya tak bisa jika harus kemudian menjalin sebuah komitmen "pacaran". Entah apa alasannya, saya sendiri tak bisa mengungkapkan, saya seolah nyaman dengan kesendirian dan hilir mudik manusia yang datang di kehidupan saya sendiri, walaupun mereka hanya datang lalu pergi lagi.
Tak berbagi kabar, si Wanita lugu itupun akhirnya menyerah pada keadaan, mencak-mencak karena merasa apa yang menjadi pengorbanannya tak berbalas komitmen pacaran dari saya. Hem, lagi-lagi status menjadi hal yang penting bagi wanita.
Lama setelah itu saya memutuskan untuk hidup dalam ke-sendiri-an. Hilir mudik wanita dan manusia seluruhnya hanya saya jadikan sebagai pelengkap dalam menapaki jengkal kehidupan. Saya sudah cukup senang ketika mereka ada ketika saya sakit ataupun saya senang tanpa harus menyandang status "pacaran". Tapi kadang saya juga merasa kesepian di saat tak ada seorangpun manusia yang bisa menemani saya d saat-saat sulit. Semua orang memang punya kesibukannya sendiri-sendiri.
Hari ini, usia saya bertambah, banyak orang yang mulai menanyakan apakah saya sudah memiliki asa untuk mempersunting gadis dan berumah tangga dengannya?. Bahkan ada yang menyangsikan ke-lelaki-an saya. Sungguh lucu. Jujur saya masih belum tahu. Saya masih belum memeiliki apa-apa, materi saya masih nol, apalagi jasmani, kosong melompong.
Lagi-lagi bagi saya mempersunting seorang wanita bukan perkara mudah, bukan hanya menjadi urusan saya dan si wanita itu, tapi lebih kepada mempersatukan 2 (dua) keluarga.
Dan akhirnya, saya hanya bisa berkata bahwa Biarkanlah hidup sesuai kehendak Tuhan, Saya percaya bahwa rencana Tuhan lebih sempuran ketimbang apa yang di rencanakan manusia.
Bagiku hidup biarkan lah menjadi sendiri sampai pada masanya Tuhan menitipkan orang kepercayaannya untuk berbagi kasih dan mengasihi. Toh bukan kah Tuhan maha mengetahui apa yang terbaik untuk manusia? Toh bukankah pada masanya Tuhan akan menitipkan sesuatu jika kita sudah di rasa mampu bertanggung jawab atas titipan itu?
Hari ini, saya hanya ingin meningkatkan kualitas diri, mempertajam intuisi guna mampu menapaki jejak-jejak kehidupan. Dan tentunya agar saya siap menerima titipan indah Tuhan.

Selasa, 14 Mei 2013

Bukan Kado tapi Do'a penuh rasa

Banyak orang selalu berdebar penuh semangat menanti hari kelahiran terulang. semua semata-mata bukan karena menginginkan kado atau sekedar ucapan dari orang-orang terkasih. Hari ulang tahun adalah moment mendebarkan karena disanalah kita akan tahu apakah Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan alam, mendengarkan harmoni suara-suara binatang, hirup pikuk kehidupan manusia atau justru kita dicinta oleh-Nya dan kembali pulang kerumah keabadian.
Tidak hanya bagi kebanykana orang, bagi saya juga sama. Jujur, selain berdebar soal karunia Tuhan atas usia yang di berikan, momen ulang tahun adalah saatnya saya mendengar do'a-do'a dari orang-orang terdekat, orang terkasih dan mengasihi. Saya sebagai manusia yang jauh dari kata mulia, tentunya membutuhkan do'a-do'a itu sebagai pelumas dalam menapaki setiap jengkal kehidupan.
12 Mei 2013 adalah momen yang saya tunggu-tunggu kemarin. Hati saya berdebar, perasaan saya was-was, saya akan kembali di lahirkan oleh Tuhan dengan pribadi yang baru, dengan usia yang baru. Saya tentu saja berharap banyak ucapan selamat dan do'a-do'a di panjatkan, mengurapi kehidupan saya, mendamaikan dan akan mempercepat Tuhan menurunkan rahmatNya untuk saya. Namun, sungguh manusia hanya bisa berharap, entah Tuhan yang menentukan atau memang manusia itu sendiri yang terkadang lupa dengan hal-hal yang (mungkin) harus mereka ingat. Dari sekian banyak orrang-orang yang saya kasihi justru terhitung jari do'a-do'a suci yang yang di hantarkan kedepan Tuhan. Adalah Kornelius Adi Pratomo, sang sahabat nasrani itulah yang satu-satunya (mungkin) mengingat tanggal lahir saya.memanjatkan do'a dengan penuh ketulusan agar saya bisa lebih bersyukur dan matang dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan. Sisanya, hanya 5 (lima) orang yang saya temukan melalui aku jejaring sosial. Ya, saya amini semuanya dengan penuh rasa haru.
Tapi entah kenapa justru saya tetap saja merasa kecewa dengan apa yang saya dapatkan, entah karena saya kurang bersyukur terhadap apa yang Khalik berikan atau mungkin ini bisa dibilang manusiawi?. Entah kekecewaan ini karena apa datangnya, hati saya seolah di salib oleh perasaan sembilu yang teramat dalam. Orang-orang terkasih ternyata tak lagi mengasihi.
 Perkenalkan nama saya hedi, saya bukan orang yang populer tapi setidaknya saya cukup di kenal oleh teman-teman baik di kampus saya sendiri maupun sedikit di kampus orang lain. Sedari dulu saya memimpikan memiliki adik-adik lucu yang bisa saya berikan kasih sayang. Saya anak bungsu yang terlalu "berlebih" mendapatkan kasih sayang sehingga saya bingug harus disimpan, dibuang atau di bagi dengan orang lain. "Kasih sayang berlimpah" ini membuat saya merasa bahwa saya membutuhkan adik untuk sama-sama berbagi.
Kehidupan saya di kuliahan biasa-biasa saja, saya tidak terlalu cerdas tapi tidak juga bodoh. Saya aktif di organisasi, bahkan saking aktifnya sampai sekarang gelar sarjana belum juga di tangan. Aktif di organisasi membuat rasa sayang saya tercurah penuh pada organisasi yang saya jalankan, teman-teman satu organisasi saya pun bisa menerima saya apa adanya, minimal itu yang tercermin dari sikap mereka saat di depan saya, kalau di belakang saya tak mau pikirkan.
Kecintaan saya terhadap organisasi membuat saya enggan untuk melepaskannya. Bukan seperti Ir. Soekarno yang mentasbihkan diri ingin menjadi Presiden Seumur hidup, saya justru lebih berpikir pada siapa penerus saya. Saya tak mau organisasi yang pernah saya jalani di pegang kemudikan oleh orang yang tak tepat. Bukannya membangun bangunan lebih tinggi, ini justru malah meruntuhkannya.
Kecintaan itulah yang mendatangkan 5 orang adik-adik baru dalam kehidupan saya. Budy SUmitra, Rexy Fajrin Ismail, Antony Budi Mulya, Beny Fajar Ramadhan dan Yuda Wiranata. Entah kenapa saya senang menyebut mereka dengan kata Ber5. Kemunculan mereka dalam mengisi kehidupan saya, semakin mengukuhkan stigma orang lain bahwa saya memiliki satu organisasi baru, kurang lebih orang diluaran sana menyebutnya ABH (Anak Buah Hedi) padahal saya sendiri tak senang dengan kalimat itu. Ah, anak buah, seolah-olah saya adalah bos saja.
Mereka adalah adik-adik yang saya kasihi dengan sepenuh jiwa, karena mereka lah saya seperti memiliki harapan baru untuk kebangkitan organisasi yang pernah saya pimpin dulu. Bersama mereka, saya menggagas konsep yang (mungkin) ideal untuk membangkitkan kembali organisasi yang sempat menyimpang dari rel. Tentu bahagia dan kadang luka sama-sama kami rasakan, bersenggolan dengan kawan sendiri yang tidak senang dengan gerakan kami kerap kami terima dengan hati was-was. Ini bukan takut, sekali lagi bukan takut. Ini lebih kepada khawatir karena ternyata gerakan yang kami bangun di interpretasikan berbeda oleh orang kebanyakan. Yang padahal apa yang kami lakukan tidak lebih hanyalah untuk kembali membangkitkan organisasi yang sama-sama dicintai.
Liku perjalanan terjal menuju pucuk kepemimpinan sempat kami rasakan, rombak sana-sini, tambal sana-sini kami lakukan. Lagi-lagi semua itu dilakukan karena satu visi yaitu membangkitkan organisasi yang kami cintai. Denga mereka saya seperti melihat masa depan cerah pada organisasi.
Memang susah menjadi manusia yang sempurna, karena Tuhan tak pernah menciptkana manusia utuh satu paket. Ya mungkin Tuhan ingin manusia bisa saling melengkapi. Saya kadang lupa bahwa mereka adalah orang lain bukan adik saya yang sebenarnya. Tapi jujur, secara biologis memang benar mereka bukan lah adik-adiku, tapi secara psikologis saya mengasihi mereka melebihi siapapun. Kadang saya memang lupa, memperioritaskan yang satu dengan yang lainnya, alhasil mungkin satu atau dua dari mereka merasa iri. Tapi pembelaan saya cukup sederhana. Saya hanya memiliki 2 tangan dan tidak mungkin bisa merangkul semuanya. 
Apapun yang terjadi, kalaupun sekarang satu demi satu seolah gugur saya tetap mengasihi mereka dengan sepenuh hati.  
 Saya seolah tak mau ketinggalan berita apapun tentang mereka, tak peduli orang mau bilang saya apa, yang pasti bagi saya mereka adalah orang-orang hebat yang patut mendapatkan cinta dan kasih sayang penuh keindahan. Mereka adalah mutiara-mutiara yang berkilau di tengah gelapnya kehidupan yang saya jalani. 
Tapi entah kenapa tepat di tanggal 12 mei,  kekecewaan menyelimuti seluruh ruh saya, hati saya beku, hati saya, ah tak tahu lah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Entah karena mereka lupa atau karena apapun, tak ada secuil do'a pun yang terucap dari mulut mereka untuk hari kelahirna saya. Janganan do'a bahakan sekedar berucapa kata "selamat" saja tak ada, semua tak bergeming, semua beku dan bisu.
Saya benar-benar memendam kekecewaan yang luar biasa, sekali lagi bukan karena tak ada kado yang mereka bawa seperti tahun lalu, tapi ini lebih kepada do'a dan kedekatan emosional. Saya merasa telah menjadi manusia gagal membangkitkan kedekatan emosional. Saya (mungkin) bisa membuat mereka menjadi hebat, mendapatkan posisi di organisasi kampus dan hal lainnya, ah kalaupun tak banyak yang saya berikan, rasanya kalau hanya seujung jari kuku (mungkin) ada. Tapi ternyata saya justru merasa menjadi manusia yang gagal mendidik mereka untuk peka terhadap sesama.
Asumsi saya sederhana, jika untuk orang yang selama ini mengisi (sedikit) kehidupan mereka saja sulit untuk peka, bagaimana terhadap orang-orang diluaran sana yang membutuhkan kehadiran mereka?, yang membutuhkan uluran tangan mereka. Ah, Tuhan saya gagal.
Saya tak butuh kado, hanya doa penuh rasa.
Saya kecewa, tapi saya tetap mengasihi mereka.

Kamis, 09 Mei 2013

Mengasingkan Diri

Hari ini saya sudah meyakinkan diri untuk menonaktifkan semua akun jejaring sosial yang saya miliki. Alasan ini bukan tidak berdasar, namun semua berangkat dari kekecewaan yang amat dalam baik terhadap kehidupan di jejaring sosial maupun di kehidupan nyata.
Sehari sebelum saya mulai meyakini diri untuk menonaktifkan jejaring sosial, saya mendapatkan perlakuan yang luar biasa menyakitkan hati. Mungkin bagi sebagian orang itu tidak terlalu besar, tapi bagi saya ini adalah masalah besar dalam hidup saya.
Saya diusir dari tempat tinggal sahabat yang sekaligus sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Tentu kenyataan pahit ini harus saya telan mentah-mentah. Lama menjalin silaturahmi ternyata harus mendapatkan pengusiran yang menyakitkan.
Sedari awal saya sudah mencoba untuk sabar dan terus sabar dalam menghadapai semua perlakuan yang tidak mengenakan dalam hidup saya. Di hindari hanya karena di angga Gay bagi saya adalah hinaan yang luar biasa, apalagi hal itu tidak saya ketahui, saya baru mengetahui setelah saya benar-benar menanyakannya dengan serius kenapa dia menghindar selama ini.
Alasan demi alasan yang di ungkapkan tentu membuat saya sakit hati, tapi lagi-lagi saya mencoba untuk sabar dan menerima semuanya dengan besar hati. Itu semua saya lakukan karena saya masih menganggap dia adalah sahabat dan juga adik terkasih.
Malam tadi adalah malam dimana saya akan meyakinkan diri untuk mulai antipati terhadap siapapun, di dunia nyata maupun di dunia maya.
Bagi saya hidup tak lebih dari sendiri, tanpa siapapun termasuk keluarga.
Saya meyakinkan diri untuk mengasingkan diri, menjalani hidup tanpa kehidupan orang-orang sekitar.
Bismillah atas nama Tuhan yang Maha Mengetahui segalannya, saya bersimpuh di hadapannya dan memohon dengan sungguh-sungguh bahwa saya siap menerima konsekuensi apapun dari keputusan saya.
Semoga Tuhan mau membalaskan kesakit hatian ku dengan caranya sendiri

Selasa, 09 April 2013

Kesatria Pena, Aku akan keliling Dunia

Wanita Langit.
Aku bukan tak mau menulis sama seperti para ksatria, sesuatu yang bisa di bilang bagus dengan rima yang aduhai.  Lihat saja tulisan-tulisan para ksatria itu, mereka menorehkan pena dengan kata-kata yang aku justru bingung memaknainya. Terlalu banyak makna yang aku dapatkan dari apa yang mereka tuliskan itu. Aku justru pusing membacanya. Ah, mungkin aku terlalu bodoh sayang.
Tapi ini benar, kalaupun tulisan para ksatria itu membuatku pusing, aku menikmatinya. Tulisan mereka benar-benar aduhai, tak ubahnya seperti para cendikia zaman dulu. 
Aku yakin kau pasti tau siapa itu Socrates, Aristoteles dan Platos.  Ya, aku lebih senang menyebutnya Platos bukan Plato seperti kebanyakan orang, aku yakin kau tahu alasanku Wanita Langit.
Sebut saja mereka 3 serangkai filsuf. Kata-kata yang mereka hasilkan sungguh sangat mengguah hati dan otak, sampai-sampai setiap yang membacanya bisa menginterpretasikannya bermacam-macam. Kau sudah membaca karya-karya mereka kan?
Kau juga mungkin mengenal Rene Descartes. Cogito Ergosum Adalah kalimat yang yang fenomenal yang dia hasilkan. Cuma dengan kalimat itu, siapapun bisa menguliti Tuhan, bahkan membunuh dan menghidupkan Tuhan kapan mu dia mau. Eksistensi manusia benar-benar hanya dinilai dari apa yang dia pikirkan, termasuk apa yang sudah kubilang tadi bahwa setiap manusia bisa mengukur eksistensi Tuhan.
"Aku berpikir maka aku ada", hebatkan kalimat itu?
Siapapun bisa memikirkan Tuhan dan menganggap tuhan ada, tapi siapapun juga bisa tidak memikirkan Tuhan dan menganggap Tuhan itu hanya bualan kosong. 
Aku ingat bagaimana dulu salah satu guruku berkata bahwa Tuhan adalah tokoh fiktif favoritnya. kau Tahu kenapa alasanya? Karena Tuhan tak mau menunjukan jati dirinya. Bagi guru-ku itu, setiap yang tidak mau menunjukan jati dirinya adalah pengecut, adalah fiktif.
Aku ingin seperti para filsuf itu. Mencintai kebijaksanaan dan hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Aku ingin melihat bumi ini dari ujung ke ujung, menulisnya lalu ku persembahkan buatmu.
Kau boleh saja tak mampu mengelilingi isi bumi ini, tapi minimal kau bisa membaca apa yang aku tuliskan itu.
Kau tahu kenapa aku ngotot ingin menjadi kesatria pena?
Bagiku pena lebih tajam dari pada pedang. Aku ingat bagaimana sang pejuang di Tanah Pertiwi pernah mengatakan bahwa "Suara ku akan lebih lantang dari alam kubur". Dia itu Tan Malaka, sang pejuang yang selalu berganti nama dan dekat dengan para proletarian sama sepertimu sekarang.
Kamu jangan salah, dia berganti nama bukan karena takut dengan orang penjajah, dia hanya berpikir ke depan. Kalau sampai dia tertangkap maka tamatlah semua riwayatnya. Coba bayangkan kalau dia tertangkap lebih awal, mungkin aku, kau dan semua manusia di tanah pertiwi ini tak akan bisa membaca karya-karyanya. Jadi, jangan kau bilang dia pengecut, justru apa yang dia lakukan adalah untuk kemaslahatan bersama. Dia ingin mengabarkan kondisi saat itu melalui tulisan-tulisannya.
Kau sudah baca tulisan Tan Malaka?
Bukan cuma Tan Malaka, Kau ingat Pramoediya Ananta Toer yang aku ceritakan dulu?
Ah, aku suka dengan karya-karyanya, bahkan sampai sekarang saja masih banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa seorang pram bisa menulis sebagus itu dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari sekarang. Nanti kupinjamkan kau buku "BUMI MANUSIA", kau wajib membacanya.

Wanita Langit, entah kenapa aku ingin seperti para ksatria itu. Bukan 3 Filsuf atau Descartes, bukan juga Tan malaka atau Pramoediya tapi mereka yang lain. Ah, kau pura-pura lupa.
Sudah kuceritakan dari awal kalau kemarin aku melihat tulisan-tulisan para kesatria mu di istana dulu. Ya, kesatria itu yang ku maksud.Para kesatria yang tulisannya membuatkau pusing dengan rima yang aduhai. Aku menikmati tulisan-tulisan mereka. Kalaupun terlihat masih belia, tapi untuk ukuran seumuran mereka, tulisannya cukup menarik.
Memang, tulisan mereka tak lebih dari pengalaman hidup yang mereka alami sendiri, lantas apa bedanya dengan Pram atau Tan, sama saja, hanya pengemasannya saja yang beda. Mungkin saja kiblat mereka ke 3 serangkai Filsuf itu yang lebih senang bermain kata-kata, lebih senang membuat para pembaca pusing tujuh keliling. Tapi jangan pernah kau samakan mereka dengan Tan atau Pram, masih terlalu jauh. Kan sudah kubilang kalau mereka itu penulis belia sama sepertiku. Tapi jangan juga kau tidak mengapresiasi apa yang mereka tulis, nikamti saja apa yang mereka bagi dengan kita.
 
Wanita langit.
Aku semakin gemas untuk mengikuti jejak para kesatria. Tapi apakah aku bisa?
Kau tahu aku hanyalah putra petani, putra ploretarian. Tak mungkin bisa menyamai para kesatria itu.
Hidupku diperhitungkan orang pun hanya karena kau dekat dengan mu. Tapi sepertinya orang-orang tidak akan lagi menganggapku ada, toh kau bukan lagi suami Sultan kan?
Kau sekarang sama dengan gadis-gadis desa. Mandi di sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
Sudahlah jangan ingatkan aku tentang peristiwa itu lagi, bagiku sekarang yang paling penting adalah melihatmu seperti burung. Bebas dan tak lagi terbelenggu rantai Istana.
Aku hanya ingin bercerita. Aku ingin seperti para kesatria pena.

Wanita langit, sebentar lagi aku akan datang mengahmapirimu, mandi di sungai dan menanam padi bersama para petani. Jangan kau patahkan semangatku untuk menulis. Aku punya keyakinan besar, suatu saat nanti aku bisa mengelilingi bumi sama hanya dengan Galileo. Akan ku tulis semua pengalaman itu. Dan ku persembahkan untuk mu. Ah, aku semakin tak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan Istana ini.

Wanita Langit, bagaimana kabar adik ku?
Masihkah dia suka memancing di pinggir sungai?
Aku dengar dia sedang membantu petani memanen padi, benarkah itu?
Ah sunggu bahagianya aku mendengar itu.
Jagalah dia sampai aku menghampirimu.
Ingat apa yang aku katakan tadi, jaga adik ku, jaga sungai mu dan nantikan aku di pinggir sungai kebijaksanaan.

Minggu, 07 April 2013

Raga dan Ruh Pinjaman

Kita tak pernah tahu kapan ajal datang mengahmpiri, memisahkan ruh dari raga pinjama sang pencipta.
Kita tak bisa melakukan apapun keculai hanya menanti dan menanti. Entah sampai kapan, tak ada satupun yang tahu.
Tuhan memang maha penyimpan rahasia dan kita tak akan pernah mampu menjangkaunya.
Sekeras apapun kita berusaha menebak, sepintar apapun kita berusaha menjawab maka akan tetap bertemu pada satu noktah kemustahilan.
Ruh dan maut hanyalah Tuhan yang tahu, hanyalah Tuhan yang mengatur. Kita, sekali lagi tak akan mampu menjangkaunya.
Manusia tak lebih dari wayang-wayang yang dimainkan sang Dalang. Semua tentu sesuai kehendak dalang. Berjalan ke timur lalu kemudian ke barat, berbelok ke utaran lalu ke selatan.
Tak ada yang bisa menolak, mengangguk kepala adalah mutlak.

Semua sudah di atur oleh manajemen sang pencipta.
Semua sudah sesuai kehendakNya.
Ingin melawan, lagi-lagi akan bertemu pada kemustahilan.

Jangan lah congkak
Jangalan sombong apalagi merasa diri menjadi paling benar.
Tak ada yang benar dan salah dalam hidup ini, yang ada adalah bagaimana cara kita menyikapi sebuah kebenaran dan ketidak benaran itu dengan kuasa sang khalik.

Sabtu, 06 April 2013

Wanita langit, Aku siap pergi dari istana ini

Akhirnya kalian bisa berkumpul bersama.
Wanita langit yang kucintai dan adik yang kembali bijaksana.
Sekarang tinggal giliran ku yang melarikan diri.
Aku masih terjebak di puing-puing Istana sang Sultan.
Aku sendiri dengan kecongkakakn.

Kalian kini telah damai dengan para petani, para proletarian.
Aku disini bukan untuk mengambil alih Istana sang Sultan, aku berencana untuk membangunnya kembali.
Ah, ternyata tenagaku sudah habis. keringatku sudah terkuras bablas.
Aku harus melarikan diri.

Kau tahu adikku?
Istana yang dulu kita tinggalin kini sudah hancur
Sultan congkak itu telah lari tunggang langgang.
Dia lari meninggalkan Istana ini, Istana yang dulu megah.
Sudah kau tak usah kembali kesini lagi, karena aku pun ingin bersamamu bercocok tanam kebaikan.
Disini bukan tempat yang cocok untuk aku dan juga kalian.

Wanita langit yang kucintai
aku ingin hidup bersamamu dipinggir sungai kebijaksanaan.
Sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
bersama adiku yang kini tengah bercocok tanam kebaikan bersama para petani dan kaum proletarian lain.
Aku ingin lari, ingin bebas dari Istana Sultan yang congkak.

Entah kenapa, aku menjadi sama dengan kalian dulu, di Istana ini aku menjadi congkak.
Tapi tenanglah kekasih.
Tenanglah adik ku
Aku akan hidup bersama kalian.
Mengairi sungai kebijaksanaan dan menanam benih-benih harapan.

Aku dengar para petani, kaum-kaum proletarian kini telah merdeka?
Kalian luar biasa. 
Teruslah seperti itu kekasih, jangan biarkan sungai itu mengering, agar sawah-sawah para petani tak lagi tandus.
Jangan biarkan mereka kelaparan seperti dulu lagi adiku, bantulah mereka bercocok tanam.
Sebentar lagi aku pergi dari sini, aku sedang mencari gelas retak mu.
Semoga saja masih bisa kutemukan dan kupersembahkan untuk mu wahai wanita langit, sang kekasih bijaksana.
Kita akan minum teh hangat bersama.
bercinta dengan penuh bijaksana.

Adiku, Larilah ke Sungai sang Wanita Langit

Adiku kini kau telah besar, Mungkin tak kusadari itu, tapi kenyataan membuka mataku bahwa kau memang telah besar.
Ya, kini kau telah dewasa, Tumbuh menjadi dewa.
Aku kini tak sanggup lagi melihatmu, melihat dasar hatimu yang paling dalam.

Kau tahu adiku. Para Dewa itu congkak. Aku melihat itu dalam dirimu.
Adik ku, pergilah ke sungai yang dialiri darah wanita Langit.
Disana kau akan menemuakn kebijaksanan.

Dahulu, sang wanita langit pun sama dengan mu.
Dia adalah wanita desa yang di pinang sang SUltan yang kaya raya.
Tinggal di Istana megah dan kecongkakan pun mulai membinasakan butir-butir kebijaksanaan yang melekat dalam hati nya.

Kau tahu adiku, Wanita langit itupun hancur.
cangkir retak yang biasa dia pakai untuk menyajikan teh hangat untuk ku tak sempat dia bawa dalam Istana sang Sultan.
Istana itu hancur adik ku, Istana itu telah menjadi puing, dan Sang sultan telah lari tungang langgang membawa kecongkakannya.

Adiku yang diliputi amarah.
Pergilah secepatnya ke sungai darah.
Sungai yang kini menjadi harapan bagi kaum-kaum proletarian.
Sungai itu adalah darah sang wanita Langit. SUngai itu adalah nadi sang wanita langit.
Sungai itu adalah sumber kebijaksanaan bagi mereka yang diliputi amarah.

Tahu kah kau adiku, kini sang wanita langit terlihat begitu cantik dengan segala kebijaksanaan.
cepat-cepatlah kau lari. Cepat-cepatlah kau sambangi sungai itu. Dan kembalilah menjadi adiku yang penuh kebijaksanaan.

Adiku, aku rindu kau yang dulu
yang tak memelihara kecongkakan dalam hatimu.
Adiku, menjadi dewa memang impian banyak manusia
namun ketika kau tak bisa mengendalikan kesaktian mu
maka percayalah kecongkakan akan mampu mengalahkan kebijaksanaan yang tertanam dalam hatimu.

Pergilah ke sungai darah segera adiku, jadilah kau raja bagi para kaum proletarian.
Singkirkan semua ego yang melekat dalam dirimu, kecongkakan yang kini merengggut benih kebijaksanaan.

Adiku, aku mencintamu dengan penuh kebijaksanaan.

Wanita Langit dan Istana Raja Sultan

Jangan lagi kau kembali ke istana itu, Istana itu kini sudah hancur dan Sang sultan yang congkak itupun sudah tak tahu kemana..
Kembali lah pada sungai yang mengering, aliri dengan darah yang menetes dari urat nadi mu.

Wahai Wanita langit, aku mencintaimu dengan penuh kebijaksanaan.
Aku merindukan Istana itu, tapi aku sadar bahwa kau dicipta bukan untuk hidup dalam istana megah.
Kau ada untuk menjadi dewi yang mengairi seluruh sawah-sawah petani.

Wahai wanita langit, kini urat nadi mu hampir terputus. Seluruh darah mu telah mengalir deras.
cepat lah kau lari ke sungai itu, biar sawah-sawah petani tak lagi tandus.

Biarkan istana mu retak lalu hancur, jangan lagi kau pikirkan itu.
Biarkan kemegahan itu kini menjadi puing, dan kau memnjadi dewi bagi para petani.
Darah mu adalah darah kaum-kaum proletar.
Biarkan menetes, mengalir dan membanjir.

Wanita langit, aku mencintaimu dengan kebijaksanaan.
Aku rindu teh buatan mu, walau sering kau sajikan dalam cangkir tanah yang retak.
Aku tetap menikmati.
bagiku tak ada teh yang lebih nikmat selain buatan mu, selain dalam cangkir yang retak.

Biarkan lah cangkir itu tertinggal dalam istana yang kini jadi puing.
Bagi ku, melihatmu menjadi dewi bagi para proletarian menjadi lebih penting, dari pada melihat kecongkakan mu dalam istana sang Sultan.

Wahai Wanita langit, Kini para petani dan kaum-kaum proletarian telah bersuka cita.
Berkat nadimu, berkat darahmu yang membanjiri sungai-sungai itu.
Kini sungai-sungai itu telah menjadi harapan hidup bagi kaum yang dulu pernah kau siksa.
Yang dulu kau jadikan budak.

Wahai wanita langit, kini kau taampak cantik
baumu seharum bunga kasturi dari syurga.
Aku semakin mencintaimu dengan kebijaksanaan.