Minggu, 23 Juni 2013

Adiku, Tuhan telah menunjukan Kuasa-Nya

Entah saya harus berkata apa, kalaupun belum diketahi kebenarannya tetap saya saya shock dan merasa berdosa peristiwa itu sudah terjadi. Jujur, tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran saya bahwa kejadian menjijikan itu akhirnya terjadi dalam hidup saya. Tepatnya bukan dalam hidup saya langsung namun masih tetap dalam lingkaran kehidupan saya. Katakanlah peristiwa itu terjadi pada teman saya.
Saya tak tahu menahu soal kejadian itu, yang membuat saya kaget karena kejadian itu menimpa orang yang tak pernah terpikir sedikitpun dalam pikiran saya. Sedikitpunn tidak sama sekali.
Sudah seminggu ini saya berada di luar kota, menikmati kota jogja dan mengulang romantisme masa lalu yang aduhai. Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di warung kopi dengan teman-teman disini, menyaksikan kehidupan malam kota Jogja.Namun, ketenangan yang saya dapatkan disini justru terusik dengan kabar yang menyentak ulu hati. Semua berawal ketika saya mendapati pesan singkat yang dikirim teman dari tanah kelahiran sana. kurang lebih pesannya seperti ini 
"Bang, kalau abang lagi butuh duit, apa yang abang biasanya lakukan?"
Ya, pesan itu terlihat sangat wajar, kalaupun memang kecurigaan sempat menyerang ulu hati saya. Tidak biasanya dia mengirim pesan seperti itu. Biasanya kami hanya bertukar kabar dan bercerita tentang organisasi yang dipimpinnya disana. Namun pesan yang saya terima waktu itu, seolah ingin mengabarkan bahwa tengah terjadi sesuatu.
Karena tak ada pulsa saya tak membalas pesan itu, sampai pesan ke duapun muncul menanyakan apakah saya sedang sibuk atau tidak. Saya tetap tak membalasnya, kali ini bukan karena tak ada pulsa tapi karena saya malas melayani pesan-pesan yang masuk ke dalam telepon genggam saya.
Akhirnya tepat di pagi hari saya mencoba melihat keadaan di dunia maya, siapa tahu saja ada yang bisa saya ajak berdiskusi atau sekedar ngobrol santai. Dari semua yang sedang online tak ada satupun yang menarik mata saya untuk menyapanya sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah topik yang menarik untuk di bicarakan bersama teman di ujung sebrang sana, dan sayang nya posisi dia sedang offline. Tebak-tebak buah manggis, saya pun memaksakan diri mengirimkan pesan chatting, dan Alhamdulilah akhirnya mendapat respon positif. Ternyata, sahabat di ujung sana sedang online, namun mungkin karena takut terganggu dengan tangan-tangan iseng yang mengajaknya memanjakan jari-jari akhirnya appear offline pun dia pilih. Appear offline adalah keadaan dimana kita sebenarnya sedang online namun menyembunyikan statusnya agar terlihat offline oleh orang lain. namun kita masih bisa melihat orang lain yang sedang online.
Akhirnya pebicaraan pun dimulai dengan saya menceritakan mimpi yang saya alami. Bukan mengada-ngada saya memang memimpikannya. Dalam mimpi itu saya benar-benar bahagia, bercanda dengannya dan ya intinya semua terasa senang. Ini mungkin obat rindu yang Tuhan berikan kepada saya. Jujur, hampir sebulan ini saya menemukan sosok berbeda dari teman saya itu. jangankan untuk bercanda dan berbagi tawa, hanya untuk bertegur sapa saja lmalah terhitung jari, bahkan pernah suatu hari teman saya itu buru-buru mengunci pintu kamarnya hanya karena kedatangan saya.
Pembicaraan un berlanjut dengan keprihatinan saya terhadap teman-teman dekat yang sebentar lagi harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar SPP. Saya tahu persis bahwa sebagian dari mereka adalah orang yang tak punya banyak rupiah, jadi kalaupun SPP di kampus ku terhitung masih murah namun tetap saya mereka merasa terbebani. Sampai akhirnya pembicaraan kami bermuara pada satu orang, dia teman kami juga. Seorang pimpinan organisasi yang namanya kami usung berdasarkan kesepakatan bersama.
Dengan tegas, teman di ujung sebrang sana menuliskan kalimat yang sangat menyayat hati, kurang lebih seperti ini :
"bang, jujur ya, sebenarnya si "anu" bukan pusing karena tak punya duit buat bayar SPP, tapi dia sedang kena kasus"
Dengan nada penasaran saya pun memintanya menceritakan kasus yang sedang dialami teman kami yang satu itu, namun teman di ujung sebrang sana hanya memberikan clue dan itu sudah cukup jelas buat saya.
Bagai tersengat aliran listrik ribuan volt saya kagetnya minta ampun. bagaimana kejaidan seperti itu terjadi pada orang yang saya anggap mustahil untuk melakukannya. Anak santri dan terhitung cerdas. bagi saya dia sudah cukup dewasa untuk memilah sampai batas mana dia harus bergaul dengan orang lain, memilah-milih mana yang baik dan mana yang benar.
Namun kata-kata meyakinkan terus saya dapatkan dari teman di ujung sebrang sana, :
"kalau mau jelasnya abang langsung tanya saja ke orangnya, dia bakal sms abang. Saya sudah suruh dia buat terung terang ke semuanya"
Ini benar-benar sudah gila. Semua benar-benar diluar kendali Apa yang saya takutkan selama ini benar-benar terjadi dalam kehidupan saya. Kalaupun saya bukan seorang rabbi, namun bagi saya sudah jelas apa-apa yang di nyatakan haram dalam agama adalah Haram hukumnya dan tak dapat di negosiasikan. Saya pikri dia anak yang cerdas dan tahu agama, tapi fakta ini telah meruntuhkan seluruh kepercayaan saya.
Sekarang saya tak tahu harus berbuat apa. harus menolongnya kah atau membiarkan dia ada dalam masalah itu. Bagaiamanapun dia memang teman sekaligus adik buat saya, namun melihat fakta yang terjadi di depan saya benar-benar tak percaya dan hampir saja saya kehilangan kesadaran bahwa dia adalah orang yang pernah saya kenal.
Saya ingat sebuah nasihat seorang ulama di kampung halaman saya " Salah adalah salah dan benar adalah benar. Jika hari ini orang lain tidak tahu kesalahan Anda bukan berarti Anda tidak bersalah, itu semua karena kasih Tuhan yang masih melindungi Anda, menyembunyikan kesalahan Anda dan memberi Anda kesempatan untuk sadar. namun ingatlah bahwa sesungguhnya azab Allah sangat pedih, Jika Anda tak bisa melihat nikmat Tuhan yang satu itu, maka yakinlah bahwa Allah tidak segan-segan untuk membuka semua aib Anda".
Ya Allah ya Rabb, saya benar-benar memohon ampun atas segala kesalahan. Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh sahabat saya itu adalah hal yang awajar, tapi tidak bagi saya. Saya adalah orang kampung yang masih berpikiran kolot. bagi saya, hidup bukanlah soal kesenangn dan nafsu semata, tapi ada norma dan agama yang menjadi filter agar kita bisa mawas diri.
"Ya Allah Ya Rabb, Jika apa yang terjadi adalah esalahan saya mendidik adik-adik saya. maka hamba memohon ampun kepada Engkau, biarlah hamba yang menerima apa yang seharusnya hamba terima atas kesalahan ini"
Ya,Allah ya Rab, salah adalah salah. Dan benar adalah benar. Hamba percaya bahwa keduanya tidak akan pernah bisa dilebur dengan cara apapun. Semua hamba serahkan kepada Engkau ya Rabb. Semoag Engkau memberikan kebaikan untuk semuanya.
Adiku, Sahabatku, cepatlah sucikan diri. Sadarlah bahwa Allah sudah menunjukan kekuasaanNya, dan kita tak dapat menolak itu. Satu hal yang wajib kita sadari bahwa kita telah melupkana nikmat Tuhan, kita lupa bersyukur bahwa Tuhan selama ini masih menyimpan aib kita ara kita mamu bertobat dan memohon ampunanya. Percayalah adiku, bahwa ini hanyalah secuil dari rahasia kita yang Tuhan buka di depan mata manusia.

Smpai di publikasikannya tulisanini, saya belum tahu persisi bagaimana kejadiannya. Namun entah kenapa intuisi saya selalu menggiring pada hal-hal yang mengerikan. Hal yang diluar batas kewajaran orang bermoral, orang kuliahan dan orang beragam. Astaghfirullahal'adzim

Kamis, 20 Juni 2013

Bercumbu dengan malam

Entah saya kapan kehidupan ini akan berlanjut. Menikmati aroma malam dan berujung pada pagi yang terbawa kantuk. Semua bukan tanpa sebab, lagi-lagi kepuasan menjadi tameng pembelaan yang paling mujarab.
Raga renta, entah bagaimana kondisi jiwa, sepertinya sudah tak lagi muda. Tapi bisa saja jiwa ini pun meronta, bukan karena tak suka namun mungkin saja bahagia menikmati setiap aroma malam.
Sudah lama kehidupan seperti ini saya jalani. Awalnya memang hanya sebatas duduk malam sambil menunggu pagi, namun makin kesini ternyata malam menyuguhkan nuansa romatisme yang gemulai. Deru mesin memang selalu saja ada, namun tak seperti siang, aroma malam tetap saja memberikan kedamaian.
Mata boleh saja terkantuk hebat, tapi jemari seolah enggan berhenti menari. Otak pun ikut melompat kegirangan, ikhlas terus berputas mereproduksi setiap kalimat yang mendatangkan puing-puing rupiah.
Orang boleh saja mencibir, tapi bagi mereka yang merasa tertolong, justru raga ini adalah dewa. Memang mereka tak mau tahu apakah sudah rapuh atau belum, yang ingin mereka dengar adalah kabar baik bahwa urusan mereka mampu terselesaikan dalam semalam.
Inillah cinta satu malam, begitu populer dalam kehidupan saya. Bercumbu dengan layar 14 inci, bercinta dengan papan ketik yang merintih keras. Selalu setiap malam dengan aroma ketenangan.
Jika mereka tak peduli dengan raga rapuh ini, saya juga sebenarnya tak peduli siapa mereka. Ini adalah bagian dari roda hidup yang mesti berputar, tidak boleh berhenti karena sekalinya berhenti maka tidak ada lagi kata hidup. Semua akan mati, dan sia-sia.
Biarkan mereka menggerus semua tenaga yang saya punya, membobol pikiran yang masih bisa berputar. Selama ada sisa-sisa tenaga dan pikiran saya masih siap menjalani ini semua. Ini bukan semata-mata hal pragmatis, tapi semua berlanjut karena kepuasan.
Itulah malam, kedamaian dan kepuasan selalu di suguhkan. Cumbu dan pelukan hangat boleh saja tak ada, tapi cinta mengalir begitu deras.
Saya semain mencintai malam, semakin mencintai layar 14 inci. Denganya saya bisa memaksa otak menambah kapasitasnya. 
Akhirnya, malam telah berlanjut sampai pagi. Mungkin ada baiknya, saya menunggu malam berikutnya. Bercumbu kembali dan meihat jemari menari dengan gemulai lagi

Perjalanan Revolusioner

Hari ini saya datang kembali di jogja, sudah hampir seminggu saya di kota ini. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan, lebih tepatnya kegiatan-kegiatan produktif, selebihnya saya hanya berkumpul dengan teman-teman lama, di warung kopi dan sesekali di tempat karaoke. Tujuan saya datang lagi ke kota ini pun memang untuk itu, menghidupkan kembali romantisme masa lalu yang sempat pudar.
Dulu, saya terhitug sering datang ke kota gudeg ini, menyambangi teman-teman dan hanya untuk itu. Romantisme yang terbangun sungguh luar biasa, saya seperti menemukan keluarga baru disini. Ketika datang ke kota ini saya tak pernah takut kelaparan atau tidur di emperan, mereka siap kapan saja menampung saya.
Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya saya bisa mengenal kota ini, masa kecil memnuat saya trauma untuk pergi ke kota-kota yang jauh. Mental yang di bangun oleh kedua orang tua memang tak begitu baik, rasa percaya diri yang rendah memicu ketakutan saya yang berlebihan, terlebih lagi ketakutan untuk pergi ke kota yang jauh dari jangkauan pikiran saya sebelumnya.
Keberanian saya muncul saat menginjakan kaki ke bangku kuliah. Tujuan saya masuk kuliah hanya satu, saya ingin belajar dan mengembangkan diri. Menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Pribadi yang penuh ketakutan.
Tahun 2009 adalah awal saya melakukan sebuah perjalanan revolusioner. Bermula dari ajakan senior untuk ikut serta dalam sebuah organisasi berskala nasional, saya pun akhirnya memiliki keberanian untuk pergi ke 5 (lima) kota sekaligus. Bandung adalah kota pertama yang saya sambangi, kemudian jogja, malang, surabaya dan terakhir saya berhenti di Jakarta. Setiap kota tentu menyimpan sisi romantisme yang berbeda. DI bandung misalnya, di kota inilah saya disambut dengan adzan subuh yang sangat syahdu, sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke kota gudeg. Semangkuk mie rebus dan kopi hangat saya santap dengan lahap, kira-kira pukul 05.00 WIB saya tiba di terminal leuwi panjang waktu itu. 
Dengan bermodal uang dari organisasi saya melakukan perjalanan tersebut, menyambangi benteng peninggalan belanda di Jogjakarta menjadi lokasi ke-2 dari perjalanan revolusioner yang saya lakukan dulu. Disinilah saya bertemu dengan kawan-kawan luar biasa yang sedang mensosialisasikan tentang media literasi. Mereka mencoba mempersuasi masyarakat untuk turut serta cerdas dalam memilih program-program televisi yang di suguhkan. DI sadari atau tidak, program-program televisi yang beredar saat itu memang menjijikan. Hampir semua tayangan televisi dengan latah menyiarkan hal-hal mistis dan mitos. Tayangan kekerasan masih juga merajai, bahkan adegan-adegan berbahaya yang kapan saja bisa menginfluence anak sering sekali di tayangkan oleh televisi Indonesia. Semua sudah berbicara kapitalistik, siapapun yang memiliki modal, tentu akan dengan sangat mudah menciptkan budaya dan ideologi baru. Akhirnya lagi-lagi masyarakat yang di korbankan.
Di kota Jogja lah saya bertemu dengan teman-teman omah idjo, tempat saya menginap dan tempat saya belajar bagaimana mahasiswa Jogja meramu sebuah kreatifits menjadi karya. Saya juga banyak belajar dari masyarakat jogja, mereka begitu mencintai sang Sultan. Masa bodo dengan banyak tudingan di luar bahwa Kota Jogja telah menyalahi konstitusi karena membangun negara dalam negara, mereka juga tak peduli dengan ocehan orang luar bahwa dominasi kerajaan keraton dalam politik Kota Jogja telah mematikan unsur-unsur demokrasi. Saya sendiri tentu sepakat dengan masyakarat Jogja, toh jika inti dari demokrasi sendiri tidak lain adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan perihal dominasi politik kasultanan, tentu itu juga atas keinginan masyarakat sendiri dan selama ini pun masyarakat Jogja masih nyaman-nyaman saja di pimpin oleh sang Sultan. Ya, terlepas masyarakat yang mana, yang jelas demokrasi di Jogaj tak perlu menghabiskan uang negara berlebihan.
Selesai menikmati gudeg dan mengintari Malioboro, saya berangkat ke kota Malang. Disinilah saya menemukan nuansa romantisme yang indah, adalah Ryan, Tomo, Bintang dan Anggi menjadi 4 sekawan yang melengkapi kehadiran saya di Kota Apel ini. Mereka selalu siap mengantar saya kemanapun saya mau, dan di Kota Batu saya melihat panorama alam ciptaan sang Khalik yang luar biasa. Di tengah kabut hutan yang tebal, saya menemukan air terjun yang indah. Air itu mengalir deras disertai bunyi yang gemuruh. Indah dan menenangkan.
Saya sebenarnya enggan untuk pulang kembali ke kampus, mendengarkan ocehan-ocehan dosen yang hanya copy paste dari buku. Bagi saya menjenuhkan konsep mengajar seperti itu, malah mahasiswa seolah di cekoki pikiran orang lain, bukan diajarkan untuk menciptakan pikiran mereka sendiri. Atau paling jago juga saya di paksa untuk melihat slide materi yang norak, hanya membaca lalu dengan kuasanya sang dosen mengkomandoi kami untuk mengerjakan tugas yang sama sekali tak kami pahami. Meminjam Kalimat Soe Hok Gie yang saya modifikasi "Dosen tak layak, sudah saatnya masuk keranjang sampah".
Tapi mau tidak mau saya memang harus kembali, ada tanggung jawab besar di kampus. Kebetulan waktu itu saya pimpinan organisasi di kampus, memang tidak besar, tapi bukan itu ukurannya. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, besar kecilnya tergantung bagaimana kita mau menyelesaikan tanggung jawab itu.
Saya pun meninggalkan kota Malang, berangkat ke Ibu Kota dan bertemu dengan kawan-kawan baru, yang menginspirasi saya bahwa hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara yang Tuhan ciptakan dengan berbagai macam skenario. Adalah Teater Sendiri Ciputat yang memberikan pelajaran berarti itu, mereka sedang menyelenggarakan pentas khusus di gendung Japan Foundation. Selain teater yang mereka suguhkan, pameran lukisan nan apik pun telah menyedot ribuan pengunjung waktu itu dan saya salah satu dari mereka.
Romantisme masa lalu memang indah untuk di kenang, itulah kenapa saya datang kembali ke Kota Jogja.
Kalaupun tak seromantis dulu, tapi Jogja tetaplah Jogja. Kota Istimewa yang tak kan tergantikan oleh kota manapun.

Sabtu, 15 Juni 2013

Mencintai dengan Sederhana

Saya begitu mencintainya, seperti akar yang enggan terpisah dari batang pohon, membuatnya tetap kokoh dan menghadang terpaan angin. Entah sampai kapan cinta yang begitu dalam ini tertanam, mungkin lusa sudah berubah menjadi hal lain. Sama halnya dengan akar, kadang musim kemarau membuatnya tak tahan terus-menerus men suply air untuk kekasih yang dicintainya, pohon. Itulah saya, yang mungkin saya masih bisa bertahan sampai kemarau panjang yang dapat merenggut cinta yang dalam ini.
Saya mencintainya dengan sederhana, bukan bermaksud untuk mencopy apa yang di sampaiakan oleh sang penyair terdahulu, tapi memang begitulah adanya bahwa saya mencintainya dengan sederhana. Dengan melihat senyumnya saja saya sudah berbunga hati. Apalagi kalau berbalas kata yang begitu panjang sampai pada sebuah kesimpulan kami telah melakukan sebuah percintaan erotis dalam percakapan.
Saya tidak pernah mau ditanya kapan, kenapa atau bagaimana saya mencintainya, karena bagi saya cinta bukanlah sebuah pertanyaan melainkan jawaban atas kegelisahan hati. Semua kegelisahan, kegundahan dan rasa was-was seolah sirna ketika senyum ranum mengembang dari bibirnya, itulah cinta yang sederhana.
Mungkin banyak orang bertanya kenapa cinta begitu menggugah rasa, menghilangkan perasaan sedih dan bisa juga mendatangkannya. Melenyapkan perasaan sakit dan kadang bisa mendatangkannya. Cinta jika dimaknai secara sederhana sebenarnya sama saja dengan rasa yang lain, memiliki dua sisi yang kadang dapat mendatangkan dan bisa jadi menghilangkan.
Saya sendiri tidak tahu kapan tepatnya saya mulai mencintai dia, karena sekali lagi bagi saya cinta tak perlu ditanya kapan, yang jelas hari ini dan mungkin sampai kemarau datang saya masih bisa memberikan cinta yang sederhana ini, mensuply air pada pohon yang kehausan.
Tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya bahwa saya bisa mencintai nya sesederhana ini, begitu sederhana dan kadang menguras air mata.
Ah, mungkin diluar sana orang akan bilang bahwa saya terlalu cengeng untuk seorang laki-laki. Saya sendiri jadi bingung memaknai itu semua. Toh bukan kah cinta memang begitu adanya, membuat si kuat menjadi lemah, dan yang lemah seketika mampu menjadi layaknya super hero. Cinta bisa membuat cengeng tapi dengan seketika cinta juga akan mampu membuat seseorang begitu sabar, tegar dan siap menghadapi segala macam peliknya hidup.
Saya tak peduli lagi apa yang orang bincangkan tentang kelelakian saya, saya terlalu cengeng untuk seorang ketua sebuah organisasi nasioanl. Sekali lagi, ini sama sekali tidak ada hubungannya. Saya hanyalah manusia yang sama dengan yang lainnya, memiliki rasa, memiliki cinta dan memiliki Tuhan terus mengawasi. Bagi saya hidup hanyalah bagaimana kita memaknai cinta itu sendiri. Hidup adalah menghidupkan cinta, medatangkan kedamaian dan meredam rasa amarah yang kadang menjadi batu kerikil yang membuat seseorang berpindah trak kehidupan.
Inilah cinta, sebuah kata sederhana.
Aku mencintai mu dengan sederhana, hanya ingin mengokohkan pohon dengar akar yang suatu saat mati dalam musim kemarau panjang.

Jumat, 14 Juni 2013

Alangkah Lucunya Memutus Silaturahmi

Orang bijak mengatakan bahwa menyambung tali silaturahmi tidak lain adalah untuk memperpanjang umur. Rasanya nasihat itu demikian adanya. Kalau dulu saya sempat memikirkan apa korelasi yang nyata antara silaturahmi dan memperpanjang umur?, namun makin kesini saya semakin paham, bahwa manusia memang butuh manusia lainnya untuk tetap hidup di dunia ini. Coba saja kalau kita tak mampu menjaga silaturahmi dengan orang lain?, jangan harap ada orang yang mau menolong saat kelaparan, jangan heran juga kalau cemooh dan kata-kata kotor atau mungkin keadaan mengancam nyawa sring kita dapatkan.
Aneh bin Ajaib, bahwa kadang banyak manusia yang mengumbar seribu alasan pembenaran hanya untuk memutus tali silaturahmi, rugi? Jelas, memutus silaturahmi adalah kerugian terbesar dalam hidup. Ingat, manusia adalah Zoon Politicon begitulah sang maestro filsafat bilang, Aristoteles. Manusia adalah makhluk sosial yang keberadaannya tidak akan pernah bisa di lepaskan dari manusia lainnya. Dengan memutus tali silaturahmi, apapun itu alasan pembenarannya, apapun caranya apapun keadaannya, hanyalah dimiliki oleh orang-orang dungu. Orang-orang yang tidak mau bebagi dan di beri oleh dan dengan sesama.
Saya punya cerita yang unik, lucu dan menggelitik, setidaknya ini buat saya.
Seorang kawan, lebih tepatnya adik saya sedang ngambek, sedang marah dan tak mau lagi silaturahmi dengan saya. Alasannya?, hanya karena ingin berkembang dan tidak ketergantungan. Lucu, hanya karena ingin berkembang dan takut ketergantungan kita malah melepaskan diri dari track yang sudah di bangun. Dengan cara pembelaan apapun, jelas bahwa sikap seperti itu adlah sikap orang dungu yang menyalahkan oran lain dan keadaan atas ketidakmampuan untuk berkembang. Oya, adik saya banyak dan mereka bisa berkembang sebagai mana kebanyakan orang, lantas ingin berkembang seperti apa?, hanya karena iri dengan orang lain yang sudah lebih maju?. dan kemudian mencari segala macam pembenaran hanya karena ingin berkembang?
Berkembanglah sesuai rotasi hidup, berkembanglah sesuai hukum alam. Bahwa ketika manusia ingin berkembang yang dilakukan bukan hanya diam, tapi bangun..bangun..bangun.
Bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang di beri akal ingin berkembang tapi tak ada yang kita lakukan sama sekali?, bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang lebih sempuran dari pada makhluk lain ingin berkembang tapi hanya diam seperti kucing hendak buang air?
Saya ingat pepatah seorang ulama bahwa jika manusia ingin berkembang maka satu hal yang perlu di lakukan, yaitu HIJRAH. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga perpindahan pola hidup. Rubahlah pola hidup, dan jadikan pola hidup yang dipakai memang panas untuk mengucapkan "SAYA INGIN BERKEMBANG"
Alhasil, adiku yang baik hatinya itu semakin lucu, komunikasi sudah enggan. Bahkan kalau saya datang untuk menemuinya saja, buru-buru dia banting pintu dan menguncinya dari dalam, ah semakin telihat saja bahwa dia justru menjadi lebih layu sebelum berkembang.
Banyak kejadian lucu yang saya alami dengan adik saya itu, lucu dengan sikap dia yang semakin hari jauh dari kejujuran, memang kebohongan itu cuma saya saja. Lagi-lagi itu dilakukan karena dia ingin berkembang. hargai saja, kalaupun saya bingung harus menghargai sikap bodoh itu seperti apa. Satu sebenarnya sikap yang tak jelas, jika memang takut ketergantungan dengan saya, kenapa tidak takut ketergantungan dengan orang lain selain saya?, toh sampai hari ini pun dia masih ketergantungan dengan orang lain. Pembenaran-pembenaran bodoh itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
Akibatnya jelas, bahwa ketika segala macam pembenaran dilakuakan hanya untuk memutus tali silaturahmi,  maka benih-benih kebohongan, kebencian akan semakin tumbuh. Berkembang memang, tapi bukan justru yang berkembang adalah kebodohan dan kedunguan. Mungkin, adiku yang baik hati itu lupa bahwa kita hidup bukan utntuk diri kita saja, kita hidup tidak hanya ada rasa senang tapi ada rasa susah. Hari ini boleh saja kita senang, tapi masih bisa kah besok kita tertawa?

Rabu, 12 Juni 2013

Menjaga Kesucian Hati

Malam boleh saja larut, angin boleh saja menumbangkan kesehatan, tapi saya tak gentar untuk menerima nasihat-nasihat peneduh hati. Di saat hati sedang kacau, rasa sedang tak karuan, nasihat dari orang yang lebih dahulu menapaki kakinya ke dunia ini memang menjadi obat yang paling mujarab.
DI kaki bukit Pulosari saya menemui beliau, bersama kawan yang setia mengemudikan motor dengan lincah dan sangat hati-hat. Bukan para noral atau cenayang yang kami temui, tapi seorang guru yang mampu menenangkan jiwa. 
Hampir tengah malam kami tiba disana, di sambut oleh sapaan hangat dan romantisme keluarga harmonis. sepasang cangkir antik berisi air teh hangat pun tersedia di atas meja dan siap untuk di santap. Cuaca malam itu memang terasa berbeda dari biasanya, lebih dingin dan menusuk tulang.
Menunggu sang guru yang sedang berbincang dengan istrinya, kami menunggunya di ruang tamu di temani putra kesayangannya. Ya putra nya adalah teman kami juga, satu kampus dan malah sering sekali kami menghabiskan waktu bersama di kala senggang.
Tayangan film kolosal di salah satu televisi suasta Indonesai menemani obrolan kami, dan saya pun tak basa-basi langsung ke pokok masalah. Saya tak banyak bicara, memang tujuan saya datang kesini bukan untuk bicara tapi hanya untuk mendengarkan. 
Dengan sedikit agak malu, saya mengatakan bahwa akhir-akhir ini hati saya sedang gundah, perasaan saya kalut dan kadang emosi saya sampai ke ubun-ubun. Saya seolah menjadi bukan saya, bahkan ketidak sukaan saya terhadap orang lain kadang memnggiring pikiran saya untuk melakukan sesuatu yang negatif.
Sang guru hanya tersenyum dengan bijaksana, dan ketika kalimat demi kalimat keluar dai mulutnya, saya hanya bisa menahan tangis. Saya benar-bena tersadarkan dengan apa yang di katakannya, bahwa hidup bukan lah soal kekerasan. Se-tidak-suka apapun kita terhadap orang lain, kekerasan tetaplah bukan jalan keluarnya. Baginya, hidup damai adalah impian semua orang termasuk saya. Beliau mengatakan bahwa bersikukuh dengan keinginan memang lah baik, namun jika memaksakan semua jalan demi mencapai tujuan, justru akan banyak syetan yang mengikuti. 
Saya benar-benar semakin tersentak dengan semua yang di katakan beliau. Saya ingat bagaimana saya memiliki niatan jelek terhadap orang-orang yang sudah menyakiti hati saya, menghina dan merendahkan derajat saya sebagai manusia.
"hati manusia di jaga oleh malaikat, kalau saja semua manusia bisa menjaga apa yang ada dalam dirinya, percayalah bahwa apapun kekuatan dari luar tak akan pernah bisa masuk" kurang lebih itulah yang di sampiakna beliau pada kami waktu itu.
Saya baru mengerti bahwa segala masalah yang timbul selama ini dalam hidup mausia semua karena ulah manusia itu sendiri yang tak mampu menjaga kesucian hati. Iri dengki kadang mampu meruntuhan keteguhan hati dan itulah awal mula syetan telah menanam benih-benih kebencian pada hati manusia. Itu bukanlah salah syetan, semua terjadi karena manusia sendii yang tak mampu enjaga kesucian hati.
Entah kekuatan apa yang dimiliki sang guru, belaiu mencoba menebak-nebak kejadian pahit yang pernah saya alami semasa hidup. Beliau menjabarkan tahun-tahun sulit saya menjalani hidup. Percaya tidak percaya tapi apa yang di katakannya memang lah benar. Kesulitan hidup saya berawal setelah ibunda tercinta wafat. Meninggalkan kami sekeluarga dan juga kenangan dan cita-cita saya. Hilangnya ibu saya darikehidupan dunia, ternyata telah membuat setengah dari nyawa saya hilang juga. Saya gamang dan serba bingung untuk menjalani hidup.
Tak terasa waktu semakin larut, dan kami pun masih asyik dengan obrolan hangat pembangun jiwa. Waktu itu, ada nasihat yang sangat luar biasa buat saya sebelum kami semua pergi ke pembaringan. 
"JIka manusia ingin hidup damai, jangan ernah mencari apapun diluar dari dirinya. Cukup menjaga kecuain hati, balik ke dalam hatinya dan menyelami siapa sebenarnya dirinya tersebut. Hakikatnya, manusia di lahirkan ke dunia tidak lain adalah untuk mengenal dirinya sendiri."