Banyak dari sahabat-sahabat saya yang memiliki pasangan, ya anggap saja itu adalah pasangan hidup mereka. Minimal selama adanya seseorang di sampingnya, mungkin mereka merasa bisa menikmati hidup. kalau tidak ada? sebenarnya sama saja, toh hidup terus berlanjut selama Tuhan masih mengizinkan.
Tidak sedikit dari mereka yang meluapkan sepenuh cinta pada pasangannya. Jangan pernah bertanya cinta yang seperti apa, karena saya juga bingung makna cinta itu sendiri. Semua orang berhak menginterpretasikan cinta sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Asa pun terus di pupuk sampai mendekati puncak himalaya, mungkin setinggi itu. mulai dari sama-sama bermimpi akan berakhir di pelaminan, tak akan meninggalkan satu sama lain sampai ajal yang memisahkan sampai bermimpi memiliki anak-anak yang lucu. Ah malah terlihat lucu.
Ini zama modern, wajar kalau ada perempuan dan laki-laki harus pacaran, harus ciuman bibir, harus tidur berdua, Ah, menjijikan. Ya, bisa jadi betul kata teman saya bahwa pikiran saya memang kolot, saya kampungan. Saya tak bisa berpikir seperti kebanyakan orang kota, orang-orang yang di luar batas kewajaran. Memilih wanita yang di kasihi lalu hidup dalam asa yang melambung tinggi, sekalinya asa itu tertiup angin ketidakpercayaan, semua cinta ikut terbang, sayang berubah menjad kata paling menjijikan, bahkan untuk sekedar saling sapa saja rasanya ingin muntah.
Mungkin itulah pikiran orang-orang kota, begitu gampang menginterpretasikan cinta. Ketika nafsu bergelora melihat wajah cantik, melihat pantat yang aduhai, melihat payudara bak semangka, maka cinta telah muncul dalam hatinya. Sungguh menjijikan.
Setiap orang memang berhak menginterpretasikan cinta dengan bentuk apapun, tapi tidakah menjijikannya orang-orang yang hanya melihat cinta dari pantat dan payudara?. Cinta itu bersih, cinta itu adalah naluri. Cinta tidak pernah dan tidak akan bisa di lebur dengan payudara, cinta tak bisa di lebur dengan kuluman manis bibir si gadis. Cinta dekat dengan hati, dekat dengan Tuhan.
Pikiran saya memang kolot, saya masih belum bisa menerima jika cinta di sejajarkan dengan hal material. Material mungkin bisa jadi penghantar, tapi tidak kah bisa kah memilih material yang lebih baik ketimbang pantat dan payudara?.
Saya jadi ingat bagaimana kebanyakan ustad berkilah soal poligami. "Ini sunah rosul, rosul saja istrinya empat. Bukan kah di bolehkan kalau siap untuk adil?". Betul, itu memang sunah rosul, tapi bukan kah masih banyak sunah rasul yang lain yang bisa dicontoh?, kenapa selalu mau enaknya saja?,
Kenapa juga dengan begitu mudahnya memaknai cinta berdekatan dengan hawa nafsu?. Iya, mungkin benar bahwa cinta dan hawa nafsu hanya di pisahkan oleh kulit ari, dan yang percaya kalimat itu adalah orang TOLOL. Sekali lagi cinta dan nafsu itu seperti langit dan bumi, sejauh kutub utara ke selatan. Ke dua nya jelas berbeda.
Saya juga bukan orang yang bersih, orang suci seperti para rabi. Saya juga manusia biasa yang memiliki nafsu, tapi bukankah kita di beri akal oleh Tuhan untuk memilah mana yang namanya nafsu ddan mana itu cinta?, Kalau semua dileburkan, maka jangan heran kalau benar dan salah saja sulit di bedakan lagi. Ketika cinta dan nafsu sudah dilebur, maka salah akan jadi benar, dan benar hanyalah pembenaran.
Ah sudahlah, lama-lama saya mau muntah melihat tingkah manusia-manusia kota yang tolol. Silahkan kalian berpikir dan bertindak seseuai apa yang kalian mau. Silahkan kalian sejajarkan cinta dengan payudara, samakan cinta dengan pantat montok. Akan ada masanya kalian akan di penggal oleh tindakan kalian sendiri.








0 komentar:
Posting Komentar