Selasa, 09 April 2013

Kesatria Pena, Aku akan keliling Dunia

Wanita Langit.
Aku bukan tak mau menulis sama seperti para ksatria, sesuatu yang bisa di bilang bagus dengan rima yang aduhai.  Lihat saja tulisan-tulisan para ksatria itu, mereka menorehkan pena dengan kata-kata yang aku justru bingung memaknainya. Terlalu banyak makna yang aku dapatkan dari apa yang mereka tuliskan itu. Aku justru pusing membacanya. Ah, mungkin aku terlalu bodoh sayang.
Tapi ini benar, kalaupun tulisan para ksatria itu membuatku pusing, aku menikmatinya. Tulisan mereka benar-benar aduhai, tak ubahnya seperti para cendikia zaman dulu. 
Aku yakin kau pasti tau siapa itu Socrates, Aristoteles dan Platos.  Ya, aku lebih senang menyebutnya Platos bukan Plato seperti kebanyakan orang, aku yakin kau tahu alasanku Wanita Langit.
Sebut saja mereka 3 serangkai filsuf. Kata-kata yang mereka hasilkan sungguh sangat mengguah hati dan otak, sampai-sampai setiap yang membacanya bisa menginterpretasikannya bermacam-macam. Kau sudah membaca karya-karya mereka kan?
Kau juga mungkin mengenal Rene Descartes. Cogito Ergosum Adalah kalimat yang yang fenomenal yang dia hasilkan. Cuma dengan kalimat itu, siapapun bisa menguliti Tuhan, bahkan membunuh dan menghidupkan Tuhan kapan mu dia mau. Eksistensi manusia benar-benar hanya dinilai dari apa yang dia pikirkan, termasuk apa yang sudah kubilang tadi bahwa setiap manusia bisa mengukur eksistensi Tuhan.
"Aku berpikir maka aku ada", hebatkan kalimat itu?
Siapapun bisa memikirkan Tuhan dan menganggap tuhan ada, tapi siapapun juga bisa tidak memikirkan Tuhan dan menganggap Tuhan itu hanya bualan kosong. 
Aku ingat bagaimana dulu salah satu guruku berkata bahwa Tuhan adalah tokoh fiktif favoritnya. kau Tahu kenapa alasanya? Karena Tuhan tak mau menunjukan jati dirinya. Bagi guru-ku itu, setiap yang tidak mau menunjukan jati dirinya adalah pengecut, adalah fiktif.
Aku ingin seperti para filsuf itu. Mencintai kebijaksanaan dan hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Aku ingin melihat bumi ini dari ujung ke ujung, menulisnya lalu ku persembahkan buatmu.
Kau boleh saja tak mampu mengelilingi isi bumi ini, tapi minimal kau bisa membaca apa yang aku tuliskan itu.
Kau tahu kenapa aku ngotot ingin menjadi kesatria pena?
Bagiku pena lebih tajam dari pada pedang. Aku ingat bagaimana sang pejuang di Tanah Pertiwi pernah mengatakan bahwa "Suara ku akan lebih lantang dari alam kubur". Dia itu Tan Malaka, sang pejuang yang selalu berganti nama dan dekat dengan para proletarian sama sepertimu sekarang.
Kamu jangan salah, dia berganti nama bukan karena takut dengan orang penjajah, dia hanya berpikir ke depan. Kalau sampai dia tertangkap maka tamatlah semua riwayatnya. Coba bayangkan kalau dia tertangkap lebih awal, mungkin aku, kau dan semua manusia di tanah pertiwi ini tak akan bisa membaca karya-karyanya. Jadi, jangan kau bilang dia pengecut, justru apa yang dia lakukan adalah untuk kemaslahatan bersama. Dia ingin mengabarkan kondisi saat itu melalui tulisan-tulisannya.
Kau sudah baca tulisan Tan Malaka?
Bukan cuma Tan Malaka, Kau ingat Pramoediya Ananta Toer yang aku ceritakan dulu?
Ah, aku suka dengan karya-karyanya, bahkan sampai sekarang saja masih banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa seorang pram bisa menulis sebagus itu dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari sekarang. Nanti kupinjamkan kau buku "BUMI MANUSIA", kau wajib membacanya.

Wanita Langit, entah kenapa aku ingin seperti para ksatria itu. Bukan 3 Filsuf atau Descartes, bukan juga Tan malaka atau Pramoediya tapi mereka yang lain. Ah, kau pura-pura lupa.
Sudah kuceritakan dari awal kalau kemarin aku melihat tulisan-tulisan para kesatria mu di istana dulu. Ya, kesatria itu yang ku maksud.Para kesatria yang tulisannya membuatkau pusing dengan rima yang aduhai. Aku menikmati tulisan-tulisan mereka. Kalaupun terlihat masih belia, tapi untuk ukuran seumuran mereka, tulisannya cukup menarik.
Memang, tulisan mereka tak lebih dari pengalaman hidup yang mereka alami sendiri, lantas apa bedanya dengan Pram atau Tan, sama saja, hanya pengemasannya saja yang beda. Mungkin saja kiblat mereka ke 3 serangkai Filsuf itu yang lebih senang bermain kata-kata, lebih senang membuat para pembaca pusing tujuh keliling. Tapi jangan pernah kau samakan mereka dengan Tan atau Pram, masih terlalu jauh. Kan sudah kubilang kalau mereka itu penulis belia sama sepertiku. Tapi jangan juga kau tidak mengapresiasi apa yang mereka tulis, nikamti saja apa yang mereka bagi dengan kita.
 
Wanita langit.
Aku semakin gemas untuk mengikuti jejak para kesatria. Tapi apakah aku bisa?
Kau tahu aku hanyalah putra petani, putra ploretarian. Tak mungkin bisa menyamai para kesatria itu.
Hidupku diperhitungkan orang pun hanya karena kau dekat dengan mu. Tapi sepertinya orang-orang tidak akan lagi menganggapku ada, toh kau bukan lagi suami Sultan kan?
Kau sekarang sama dengan gadis-gadis desa. Mandi di sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
Sudahlah jangan ingatkan aku tentang peristiwa itu lagi, bagiku sekarang yang paling penting adalah melihatmu seperti burung. Bebas dan tak lagi terbelenggu rantai Istana.
Aku hanya ingin bercerita. Aku ingin seperti para kesatria pena.

Wanita langit, sebentar lagi aku akan datang mengahmapirimu, mandi di sungai dan menanam padi bersama para petani. Jangan kau patahkan semangatku untuk menulis. Aku punya keyakinan besar, suatu saat nanti aku bisa mengelilingi bumi sama hanya dengan Galileo. Akan ku tulis semua pengalaman itu. Dan ku persembahkan untuk mu. Ah, aku semakin tak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan Istana ini.

Wanita Langit, bagaimana kabar adik ku?
Masihkah dia suka memancing di pinggir sungai?
Aku dengar dia sedang membantu petani memanen padi, benarkah itu?
Ah sunggu bahagianya aku mendengar itu.
Jagalah dia sampai aku menghampirimu.
Ingat apa yang aku katakan tadi, jaga adik ku, jaga sungai mu dan nantikan aku di pinggir sungai kebijaksanaan.

Minggu, 07 April 2013

Raga dan Ruh Pinjaman

Kita tak pernah tahu kapan ajal datang mengahmpiri, memisahkan ruh dari raga pinjama sang pencipta.
Kita tak bisa melakukan apapun keculai hanya menanti dan menanti. Entah sampai kapan, tak ada satupun yang tahu.
Tuhan memang maha penyimpan rahasia dan kita tak akan pernah mampu menjangkaunya.
Sekeras apapun kita berusaha menebak, sepintar apapun kita berusaha menjawab maka akan tetap bertemu pada satu noktah kemustahilan.
Ruh dan maut hanyalah Tuhan yang tahu, hanyalah Tuhan yang mengatur. Kita, sekali lagi tak akan mampu menjangkaunya.
Manusia tak lebih dari wayang-wayang yang dimainkan sang Dalang. Semua tentu sesuai kehendak dalang. Berjalan ke timur lalu kemudian ke barat, berbelok ke utaran lalu ke selatan.
Tak ada yang bisa menolak, mengangguk kepala adalah mutlak.

Semua sudah di atur oleh manajemen sang pencipta.
Semua sudah sesuai kehendakNya.
Ingin melawan, lagi-lagi akan bertemu pada kemustahilan.

Jangan lah congkak
Jangalan sombong apalagi merasa diri menjadi paling benar.
Tak ada yang benar dan salah dalam hidup ini, yang ada adalah bagaimana cara kita menyikapi sebuah kebenaran dan ketidak benaran itu dengan kuasa sang khalik.

Sabtu, 06 April 2013

Wanita langit, Aku siap pergi dari istana ini

Akhirnya kalian bisa berkumpul bersama.
Wanita langit yang kucintai dan adik yang kembali bijaksana.
Sekarang tinggal giliran ku yang melarikan diri.
Aku masih terjebak di puing-puing Istana sang Sultan.
Aku sendiri dengan kecongkakakn.

Kalian kini telah damai dengan para petani, para proletarian.
Aku disini bukan untuk mengambil alih Istana sang Sultan, aku berencana untuk membangunnya kembali.
Ah, ternyata tenagaku sudah habis. keringatku sudah terkuras bablas.
Aku harus melarikan diri.

Kau tahu adikku?
Istana yang dulu kita tinggalin kini sudah hancur
Sultan congkak itu telah lari tunggang langgang.
Dia lari meninggalkan Istana ini, Istana yang dulu megah.
Sudah kau tak usah kembali kesini lagi, karena aku pun ingin bersamamu bercocok tanam kebaikan.
Disini bukan tempat yang cocok untuk aku dan juga kalian.

Wanita langit yang kucintai
aku ingin hidup bersamamu dipinggir sungai kebijaksanaan.
Sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
bersama adiku yang kini tengah bercocok tanam kebaikan bersama para petani dan kaum proletarian lain.
Aku ingin lari, ingin bebas dari Istana Sultan yang congkak.

Entah kenapa, aku menjadi sama dengan kalian dulu, di Istana ini aku menjadi congkak.
Tapi tenanglah kekasih.
Tenanglah adik ku
Aku akan hidup bersama kalian.
Mengairi sungai kebijaksanaan dan menanam benih-benih harapan.

Aku dengar para petani, kaum-kaum proletarian kini telah merdeka?
Kalian luar biasa. 
Teruslah seperti itu kekasih, jangan biarkan sungai itu mengering, agar sawah-sawah para petani tak lagi tandus.
Jangan biarkan mereka kelaparan seperti dulu lagi adiku, bantulah mereka bercocok tanam.
Sebentar lagi aku pergi dari sini, aku sedang mencari gelas retak mu.
Semoga saja masih bisa kutemukan dan kupersembahkan untuk mu wahai wanita langit, sang kekasih bijaksana.
Kita akan minum teh hangat bersama.
bercinta dengan penuh bijaksana.

Adiku, Larilah ke Sungai sang Wanita Langit

Adiku kini kau telah besar, Mungkin tak kusadari itu, tapi kenyataan membuka mataku bahwa kau memang telah besar.
Ya, kini kau telah dewasa, Tumbuh menjadi dewa.
Aku kini tak sanggup lagi melihatmu, melihat dasar hatimu yang paling dalam.

Kau tahu adiku. Para Dewa itu congkak. Aku melihat itu dalam dirimu.
Adik ku, pergilah ke sungai yang dialiri darah wanita Langit.
Disana kau akan menemuakn kebijaksanan.

Dahulu, sang wanita langit pun sama dengan mu.
Dia adalah wanita desa yang di pinang sang SUltan yang kaya raya.
Tinggal di Istana megah dan kecongkakan pun mulai membinasakan butir-butir kebijaksanaan yang melekat dalam hati nya.

Kau tahu adiku, Wanita langit itupun hancur.
cangkir retak yang biasa dia pakai untuk menyajikan teh hangat untuk ku tak sempat dia bawa dalam Istana sang Sultan.
Istana itu hancur adik ku, Istana itu telah menjadi puing, dan Sang sultan telah lari tungang langgang membawa kecongkakannya.

Adiku yang diliputi amarah.
Pergilah secepatnya ke sungai darah.
Sungai yang kini menjadi harapan bagi kaum-kaum proletarian.
Sungai itu adalah darah sang wanita Langit. SUngai itu adalah nadi sang wanita langit.
Sungai itu adalah sumber kebijaksanaan bagi mereka yang diliputi amarah.

Tahu kah kau adiku, kini sang wanita langit terlihat begitu cantik dengan segala kebijaksanaan.
cepat-cepatlah kau lari. Cepat-cepatlah kau sambangi sungai itu. Dan kembalilah menjadi adiku yang penuh kebijaksanaan.

Adiku, aku rindu kau yang dulu
yang tak memelihara kecongkakan dalam hatimu.
Adiku, menjadi dewa memang impian banyak manusia
namun ketika kau tak bisa mengendalikan kesaktian mu
maka percayalah kecongkakan akan mampu mengalahkan kebijaksanaan yang tertanam dalam hatimu.

Pergilah ke sungai darah segera adiku, jadilah kau raja bagi para kaum proletarian.
Singkirkan semua ego yang melekat dalam dirimu, kecongkakan yang kini merengggut benih kebijaksanaan.

Adiku, aku mencintamu dengan penuh kebijaksanaan.

Wanita Langit dan Istana Raja Sultan

Jangan lagi kau kembali ke istana itu, Istana itu kini sudah hancur dan Sang sultan yang congkak itupun sudah tak tahu kemana..
Kembali lah pada sungai yang mengering, aliri dengan darah yang menetes dari urat nadi mu.

Wahai Wanita langit, aku mencintaimu dengan penuh kebijaksanaan.
Aku merindukan Istana itu, tapi aku sadar bahwa kau dicipta bukan untuk hidup dalam istana megah.
Kau ada untuk menjadi dewi yang mengairi seluruh sawah-sawah petani.

Wahai wanita langit, kini urat nadi mu hampir terputus. Seluruh darah mu telah mengalir deras.
cepat lah kau lari ke sungai itu, biar sawah-sawah petani tak lagi tandus.

Biarkan istana mu retak lalu hancur, jangan lagi kau pikirkan itu.
Biarkan kemegahan itu kini menjadi puing, dan kau memnjadi dewi bagi para petani.
Darah mu adalah darah kaum-kaum proletar.
Biarkan menetes, mengalir dan membanjir.

Wanita langit, aku mencintaimu dengan kebijaksanaan.
Aku rindu teh buatan mu, walau sering kau sajikan dalam cangkir tanah yang retak.
Aku tetap menikmati.
bagiku tak ada teh yang lebih nikmat selain buatan mu, selain dalam cangkir yang retak.

Biarkan lah cangkir itu tertinggal dalam istana yang kini jadi puing.
Bagi ku, melihatmu menjadi dewi bagi para proletarian menjadi lebih penting, dari pada melihat kecongkakan mu dalam istana sang Sultan.

Wahai Wanita langit, Kini para petani dan kaum-kaum proletarian telah bersuka cita.
Berkat nadimu, berkat darahmu yang membanjiri sungai-sungai itu.
Kini sungai-sungai itu telah menjadi harapan hidup bagi kaum yang dulu pernah kau siksa.
Yang dulu kau jadikan budak.

Wahai wanita langit, kini kau taampak cantik
baumu seharum bunga kasturi dari syurga.
Aku semakin mencintaimu dengan kebijaksanaan.