Entah saya harus berkata apa, kalaupun belum diketahi kebenarannya tetap saya saya shock dan merasa berdosa peristiwa itu sudah terjadi. Jujur, tak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran saya bahwa kejadian menjijikan itu akhirnya terjadi dalam hidup saya. Tepatnya bukan dalam hidup saya langsung namun masih tetap dalam lingkaran kehidupan saya. Katakanlah peristiwa itu terjadi pada teman saya.
Saya tak tahu menahu soal kejadian itu, yang membuat saya kaget karena kejadian itu menimpa orang yang tak pernah terpikir sedikitpun dalam pikiran saya. Sedikitpunn tidak sama sekali.
Sudah seminggu ini saya berada di luar kota, menikmati kota jogja dan mengulang romantisme masa lalu yang aduhai. Hampir setiap malam saya menghabiskan waktu di warung kopi dengan teman-teman disini, menyaksikan kehidupan malam kota Jogja.Namun, ketenangan yang saya dapatkan disini justru terusik dengan kabar yang menyentak ulu hati. Semua berawal ketika saya mendapati pesan singkat yang dikirim teman dari tanah kelahiran sana. kurang lebih pesannya seperti ini
"Bang, kalau abang lagi butuh duit, apa yang abang biasanya lakukan?"
Ya, pesan itu terlihat sangat wajar, kalaupun memang kecurigaan sempat menyerang ulu hati saya. Tidak biasanya dia mengirim pesan seperti itu. Biasanya kami hanya bertukar kabar dan bercerita tentang organisasi yang dipimpinnya disana. Namun pesan yang saya terima waktu itu, seolah ingin mengabarkan bahwa tengah terjadi sesuatu.
Karena tak ada pulsa saya tak membalas pesan itu, sampai pesan ke duapun muncul menanyakan apakah saya sedang sibuk atau tidak. Saya tetap tak membalasnya, kali ini bukan karena tak ada pulsa tapi karena saya malas melayani pesan-pesan yang masuk ke dalam telepon genggam saya.
Akhirnya tepat di pagi hari saya mencoba melihat keadaan di dunia maya, siapa tahu saja ada yang bisa saya ajak berdiskusi atau sekedar ngobrol santai. Dari semua yang sedang online tak ada satupun yang menarik mata saya untuk menyapanya sampai pada akhirnya saya menemukan sebuah topik yang menarik untuk di bicarakan bersama teman di ujung sebrang sana, dan sayang nya posisi dia sedang offline. Tebak-tebak buah manggis, saya pun memaksakan diri mengirimkan pesan chatting, dan Alhamdulilah akhirnya mendapat respon positif. Ternyata, sahabat di ujung sana sedang online, namun mungkin karena takut terganggu dengan tangan-tangan iseng yang mengajaknya memanjakan jari-jari akhirnya appear offline pun dia pilih. Appear offline adalah keadaan dimana kita sebenarnya sedang online namun menyembunyikan statusnya agar terlihat offline oleh orang lain. namun kita masih bisa melihat orang lain yang sedang online.
Akhirnya pebicaraan pun dimulai dengan saya menceritakan mimpi yang saya alami. Bukan mengada-ngada saya memang memimpikannya. Dalam mimpi itu saya benar-benar bahagia, bercanda dengannya dan ya intinya semua terasa senang. Ini mungkin obat rindu yang Tuhan berikan kepada saya. Jujur, hampir sebulan ini saya menemukan sosok berbeda dari teman saya itu. jangankan untuk bercanda dan berbagi tawa, hanya untuk bertegur sapa saja lmalah terhitung jari, bahkan pernah suatu hari teman saya itu buru-buru mengunci pintu kamarnya hanya karena kedatangan saya.
Pembicaraan un berlanjut dengan keprihatinan saya terhadap teman-teman dekat yang sebentar lagi harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar SPP. Saya tahu persis bahwa sebagian dari mereka adalah orang yang tak punya banyak rupiah, jadi kalaupun SPP di kampus ku terhitung masih murah namun tetap saya mereka merasa terbebani. Sampai akhirnya pembicaraan kami bermuara pada satu orang, dia teman kami juga. Seorang pimpinan organisasi yang namanya kami usung berdasarkan kesepakatan bersama.
Dengan tegas, teman di ujung sebrang sana menuliskan kalimat yang sangat menyayat hati, kurang lebih seperti ini :
"bang, jujur ya, sebenarnya si "anu" bukan pusing karena tak punya duit buat bayar SPP, tapi dia sedang kena kasus"
Dengan nada penasaran saya pun memintanya menceritakan kasus yang sedang dialami teman kami yang satu itu, namun teman di ujung sebrang sana hanya memberikan clue dan itu sudah cukup jelas buat saya.
Bagai tersengat aliran listrik ribuan volt saya kagetnya minta ampun. bagaimana kejaidan seperti itu terjadi pada orang yang saya anggap mustahil untuk melakukannya. Anak santri dan terhitung cerdas. bagi saya dia sudah cukup dewasa untuk memilah sampai batas mana dia harus bergaul dengan orang lain, memilah-milih mana yang baik dan mana yang benar.
Namun kata-kata meyakinkan terus saya dapatkan dari teman di ujung sebrang sana, :
"kalau mau jelasnya abang langsung tanya saja ke orangnya, dia bakal sms abang. Saya sudah suruh dia buat terung terang ke semuanya"
Ini benar-benar sudah gila. Semua benar-benar diluar kendali Apa yang saya takutkan selama ini benar-benar terjadi dalam kehidupan saya. Kalaupun saya bukan seorang rabbi, namun bagi saya sudah jelas apa-apa yang di nyatakan haram dalam agama adalah Haram hukumnya dan tak dapat di negosiasikan. Saya pikri dia anak yang cerdas dan tahu agama, tapi fakta ini telah meruntuhkan seluruh kepercayaan saya.
Sekarang saya tak tahu harus berbuat apa. harus menolongnya kah atau membiarkan dia ada dalam masalah itu. Bagaiamanapun dia memang teman sekaligus adik buat saya, namun melihat fakta yang terjadi di depan saya benar-benar tak percaya dan hampir saja saya kehilangan kesadaran bahwa dia adalah orang yang pernah saya kenal.
Saya ingat sebuah nasihat seorang ulama di kampung halaman saya " Salah adalah salah dan benar adalah benar. Jika hari ini orang lain tidak tahu kesalahan Anda bukan berarti Anda tidak bersalah, itu semua karena kasih Tuhan yang masih melindungi Anda, menyembunyikan kesalahan Anda dan memberi Anda kesempatan untuk sadar. namun ingatlah bahwa sesungguhnya azab Allah sangat pedih, Jika Anda tak bisa melihat nikmat Tuhan yang satu itu, maka yakinlah bahwa Allah tidak segan-segan untuk membuka semua aib Anda".
Ya Allah ya Rabb, saya benar-benar memohon ampun atas segala kesalahan. Mungkin bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh sahabat saya itu adalah hal yang awajar, tapi tidak bagi saya. Saya adalah orang kampung yang masih berpikiran kolot. bagi saya, hidup bukanlah soal kesenangn dan nafsu semata, tapi ada norma dan agama yang menjadi filter agar kita bisa mawas diri.
"Ya Allah Ya Rabb, Jika apa yang terjadi adalah esalahan saya mendidik adik-adik saya. maka hamba memohon ampun kepada Engkau, biarlah hamba yang menerima apa yang seharusnya hamba terima atas kesalahan ini"
Ya,Allah ya Rab, salah adalah salah. Dan benar adalah benar. Hamba percaya bahwa keduanya tidak akan pernah bisa dilebur dengan cara apapun. Semua hamba serahkan kepada Engkau ya Rabb. Semoag Engkau memberikan kebaikan untuk semuanya.
Adiku, Sahabatku, cepatlah sucikan diri. Sadarlah bahwa Allah sudah menunjukan kekuasaanNya, dan kita tak dapat menolak itu. Satu hal yang wajib kita sadari bahwa kita telah melupkana nikmat Tuhan, kita lupa bersyukur bahwa Tuhan selama ini masih menyimpan aib kita ara kita mamu bertobat dan memohon ampunanya. Percayalah adiku, bahwa ini hanyalah secuil dari rahasia kita yang Tuhan buka di depan mata manusia.
Smpai di publikasikannya tulisanini, saya belum tahu persisi bagaimana kejadiannya. Namun entah kenapa intuisi saya selalu menggiring pada hal-hal yang mengerikan. Hal yang diluar batas kewajaran orang bermoral, orang kuliahan dan orang beragam. Astaghfirullahal'adzim








0 komentar:
Posting Komentar