Akhirnya kalian bisa berkumpul bersama.
Wanita langit yang kucintai dan adik yang kembali bijaksana.
Sekarang tinggal giliran ku yang melarikan diri.
Aku masih terjebak di puing-puing Istana sang Sultan.
Aku sendiri dengan kecongkakakn.
Kalian kini telah damai dengan para petani, para proletarian.
Aku disini bukan untuk mengambil alih Istana sang Sultan, aku berencana untuk membangunnya kembali.
Ah, ternyata tenagaku sudah habis. keringatku sudah terkuras bablas.
Aku harus melarikan diri.
Kau tahu adikku?
Istana yang dulu kita tinggalin kini sudah hancur
Sultan congkak itu telah lari tunggang langgang.
Dia lari meninggalkan Istana ini, Istana yang dulu megah.
Sudah kau tak usah kembali kesini lagi, karena aku pun ingin bersamamu bercocok tanam kebaikan.
Disini bukan tempat yang cocok untuk aku dan juga kalian.
Wanita langit yang kucintai
aku ingin hidup bersamamu dipinggir sungai kebijaksanaan.
Sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
bersama adiku yang kini tengah bercocok tanam kebaikan bersama para petani dan kaum proletarian lain.
Aku ingin lari, ingin bebas dari Istana Sultan yang congkak.
Entah kenapa, aku menjadi sama dengan kalian dulu, di Istana ini aku menjadi congkak.
Tapi tenanglah kekasih.
Tenanglah adik ku
Aku akan hidup bersama kalian.
Mengairi sungai kebijaksanaan dan menanam benih-benih harapan.
Aku dengar para petani, kaum-kaum proletarian kini telah merdeka?
Kalian luar biasa.
Teruslah seperti itu kekasih, jangan biarkan sungai itu mengering, agar sawah-sawah para petani tak lagi tandus.
Jangan biarkan mereka kelaparan seperti dulu lagi adiku, bantulah mereka bercocok tanam.
Sebentar lagi aku pergi dari sini, aku sedang mencari gelas retak mu.
Semoga saja masih bisa kutemukan dan kupersembahkan untuk mu wahai wanita langit, sang kekasih bijaksana.
Kita akan minum teh hangat bersama.
bercinta dengan penuh bijaksana.







0 komentar:
Posting Komentar