Rabu, 30 Oktober 2013

Thank You Jeff, God Can Speak English

"Hidup ku boleh saja tak terencana dengan sempurna, tapi aku telah menyiapkan akhir dari segalanya"

Kurang lebih itulah sepenggal kalimat yang kubaca dalam buku "God, Do You Speak English", sebuah buku yang mengupas tentang perjalanan hidup manusia yang keluar dari zona nyamannya. Mereka adalah orang-orang sukses di bidangnya dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik dari orang kebanyakan, namun dengan penuh keyakinan mereka tinggalkan itu semua demi berbagi dan memberi dengan sesama umat manusia. Tak tanggung-tanggung mereka menjadi volunter di negara luar, menyelami kehidupan masyarakat asing dan berusaha berbagi apa yang mereka miliki.
Sebuah kalimat sederhana tadi, merupakan ungkapan dari lubuk hati paling dalam Jeff. Jeff merupakan tokoh yang dengan ikhlas membagi ceritanya dalam buku tersebut. Bagi Jeff, boleh jadi kehidupan yang dia jalan memang tidak terencana dengan sempurna, namun Jeff memiliki keyakinan pasti ada jalan akhir dari segalanya, Jeff bahkan bukan saja mengharapkan jalan akhir tesbut tapi dia sudah menyiapkan waktu untuk akhir itu datang dalam kehidupannya.
Kalimat sederhana dari manusia luar biasa telah terpatri dalam hati ku yang juga paling dalam. Bukan sekedar apopemia atau menghubung-hubungkan tapi rasa-rasanya apa yang Jeff alami benar-benar terjadi dalam hidup saya, setidaknya terkait kalimat sederhana itu.
Sama halnya dengan Jeff, aku tak pernah merencanakan hidup aku harus seperti apa dan kemudian menjadi apa, tapi aku memiliki sebuah keyakinan bahwa aku akan memiliki akhir dari setiap rutinitas hidup yang ku jalankan. Aku adalah aku yang telah mengenal batasanku sendiri, aku sudah tahu kapan aku harus memulai sesuatu dan aku pun harus tahu kapan aku mengakhiri sesuatu itu, walapun di tengah jalan aku tak pernah tahu kehidupanku seperti apa. Sudah ku bilang aku tak pernah merencanakan hidupku seperti apa dan akan menjadi apa kelak, tapi ku pastikan aku bisa memulai dan mengakhirinya.
Banyak kehidupan sudah ku jalani, setidaknya aku sudah mencicipi sejuknya udara pagi selama 24 tahun. Wow, bukan waktu yang singkat. Menikmati semua hal dengan sangat gratis, free pass from the God. Tapi setelah saya pikir-pikir ulang, jarang sekali saya mengucap syukur atas apa yang telah Tuhan berikan. Termasuk kemampuankau untuk memulai dan mengakhiri sebuah rutinitas. Itu bukan kah karunia Tuhan juga?. Itulah aku, tak pernah terencana menjalani hidup, membiarkan tangan Tuhan yang menjamahnya langsung.
Aku memuali apa yang aku mulai, dan akupun harus mengakhiri apa yang harus aku akhiri, dan terlepas di tengah-tengah sempurna atau tidak, biarkan tangan Tuhan yang bekerja.
Jeff, Thank you so much for the sentences. Bagi ku kalimat sederhana itu telah membangunkan ku dari mimpi yang panjang. Jeff, akan aku biarkan hidupku untuk Tuhan, dan menyerahkan sepenuhnya kepadaNya.
Tuahn dalah yang awal dan yang akhir

Kamis, 17 Oktober 2013

Diorama satu ruang

Sudahi saja, toh buat apa dipertahankan kalau ujungnya harus menangung rasa sakit hati yang dalam?
Kalau kau merasa nyaman kenapa juga haraus mengeluh atas apa yang sudah menjadi pilihan hidup. Sudahlah nikmati saja semua, toh kesakit hatian yang sekarang di rasakan adalah buat dari pilihan yang diambil.
Kenapa ketika rasa senang menyelimuti ruh, tidak ada satupun yang di salahkan, atau bahkan di puji. Tapi ketika awan hitam pekat datang dalam kehidupan, Kontan semua yang ada di dekat mata menjadi salah.
Ini namanya hidup, kadang ata senang, begitu juga susah. Ini realita, mungkin hari ini kita bahagia, tapi bisa saja sedetik kemudian kita mengecap sakit hati yang teramat dalam.
Sudah jangan di buat susah, lebih baik dinikmati saja semuanya.
Mengeluh adalah kesesatan, karena dengannya lah kita akan merasakan penyesalan yang amat dalam. Jangan pernah bersedih atas pemberian yang tak mendapatkan sapaan terima kasih, atau kesalahan yang orang buat tanpa berbalas kalimat maaf. Biarkan lah mengalir, berhembus layaknya angin. Kadang bisa menyejukan, tapi bisa juga membuat bangunan roboh.

Ini realita, diorama yang penuh dengan objek. Ini bukan patamorgana, ini realita. sekali lagi ini adalah realita yang harus di hadapi.
Kita bagaikan diorama, yang memiliki puluhan ruang dimensi yang bisa menyimpan segala hal. Termasuk bahagia dan kesedihan dalam satu ruangg. Jika senyum bisa tersimpah indah, kenapa kesedihan juga tak mampu dileburnya menjadi senyuman renyah?
Meleburlah menjadi satu, sebuah diorama yang penuh dengan dimensi materi yang menyatu dalam satu ruang.
Jiawa adalah manifestasi dari ide, jiwa adalah materi dan segala sifat adalah ide. maka meleburlah. Hilangkan segala keluh kesah dengan terus meleburnya menjadi senyum renyah.