Selasa, 22 April 2014

Romantisme Masa Lalu dan Cita-cita Masa Depan

Pagi selalu memberikan inspirasi, itulah mungkin kenapa gua selalu menunggu pagi datang dari pada harus terlelap tidur. Selain adzan subuh yang selalu terdengar merdu, suara mengeongnya Boni juga gua kangenin. Entah apa yang ngebuat gua jadi gila kaya sekarang, segala hal tentang hidup gua selalu saja gua kaitin sama keberadaan Boni. Semakin kesini gua semakin khawatir buat ninggalin Boni dalam waktu yang lama, kalau sekedar beli makan ke warung sebelah, Boni tak pernah rewel. Saking sayangnya sama Boni, gua selalu gak bisa lepas dari dia, bahkan terkadang gua gak bakalan ada di kasur kamar kos sebelum Boni tidur di samping gua. Sudah seperti anak sendiri, sebelum Boni tidur, gua gak bakalan tidur, malah kalaupun Boni sudah lelap, kadang gua tetep gak bakalan tidur. Ya, selain nunggu pagi yang penuh inspirasi, gua takut kebablasan tidur dan keduluan bangun sama Boni, dan akhirnya gua gak ngedengerin suara ngeongnya si Boni yang berisik tapi seksi itu. Tapi terkadang kalau gua bener kebablasan tidur, Boni yang ngebangunin gua dengan suara mengeong nya. Ah, Boni memang pengertian.
Malam tadi gua agak sedikit khawatir buat ninggalin Boni, tapi karena ini urusan yang amat sangat penting terkait dengan perut gua dan Boni, mau gak mau gua ninggalin dia. Jam 8 malam gua berangkat ke kampus, rencana awal mau nemuin investor kantong, tapi karena gak jadi akhirnya kebablasan kumpul-kumpul dan bernostalgia bareng kawan-kawan seperjuangan di UMC (Untirta Movement Community).
Pelataran kampus menjadi tempat favorite kami ngobrolin segala hal, termasuk tentang kami dulu dan perjuangan hidup yang harus dilakukan. Kalaupun kebelakang kami sempat bersebrangan pandangan, tapi harmonisasi masa silam tak bisa kami elakan. Rasa rindu akan dialektika, membuat kami dipertemukan kembali.
Obrolan diawali dengan topik mencari Presiden ideal untuk Indonesia, sampai akhirnya kami semua berkesimpulan bahwa tak perlu memperdebatkan kriteria pemimpin yang ideal untuk bangsa ini, semua jelas telah termaktub dalam pancasila. Siapapun yang minimal mendekati dengan ruh pancasila, itulah yang paling cocok menjadi Presiden negara ini. Kalaupun terdengar utopis tapi ini bukan tanpa alasan. Kami menyakini bersama bahwa masih ada sosok-sosok yang paham betul dan tahu bagaimana cara mengaplikasikan pancasila dengan benar dan digunakan untuk kemaslahatan anak bangsa.
Kami sepakat bahwa background profesi tak lagi menjadi soal, militer, politikus, ahli hukum bahkan tukang becak sekalipun tak jadi soal, yang jelas siapapun yang mau menjadi pimpinan negara ini wajib hukumnya untuk menjadikan pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan negara ini.
Seperti biasa diskusi malam kami disuguhi dengan kopi hitam, sebuah minuman wajib yang lumayan mujarab untuk menahan kantuk dan membuat otak sedikit lebih fresh. kandungan kafein dalam kopi jika dipakai sesuai takaran akan bisa meningkatkan daya ingat, tentu jangan berlebihan. Maka, jangan heran kalau hampir kebanyakan anak manusia di bumi ini menyukai kopi.
Ngomongin soal kopi gua jadi inget awal pertemuan gua sama Boni. Gua sempat gak suka bahkan benci banget sama Boni gara-gara dia numpahin kopi di tempat tidur gua, wajar gua marah karena itu tempat tidur satu-satunya yang gua punya dan jadi tempat gua buat ngerebahin badan setelah aktivitas. Bukan cuma itu, 3 buah seprei yang sudah gua cuci dengan susah payah habis di jadiin alas buang air besarnya si Boni. Gua akui memang itu salah gua, ngebiarin si boni kekunci di kamar seharian, mungkin dia bingung harus buang air besar dimana. Tapi Alhamdulilahnya sekarang dia sudah paham dimana harus buang air kecil ataupun buang air besar, gak pernah sembarangan. 
Boni memang banyak ngasih gua pelajaran berharga, sudah ngebuat gua yang tadinya benci sama dia jadi sayang banget. Dulu, kalau Boni coba-coba mau masuk ke kamar gua, langsung tendang. Saking bencinya gua jijik ngelihat dia, marah karena dia sudah numpahin kopi dan buang air besar sembarangan, tapi kesini gua semakin paham kalau dia butuh adaptasi di ruangan 4x3 meter ini. 
Adaptasi memang menjadi poin penting dalam menjalin hubungan antar sesama, apalagi sesama manusia --habluminannas-- termasuk apa yang gua lakuin tadi malam, adaptasi ulang dengan kawan-kawan lama. Maklum saja, gua sempat berbeda pandangan dengan mereka, dan sama sekali sudah tak mau lagi dikait-kaitkan dengan apapun tentang mereka atau tentang organisasi yang pernah ngebentuk gua dulu.  Dan malam tadi, gua akhirnya bisa ngebuka diri dan mau ngobrolin masalah organisasi yang dulu sama-sama ngebuat gua dan kawan-kawan gua seperti sodara. Gua boleh tak lagi menjadi bagian dari organisasi tersebut, tapi sejujurnya gua punya rasa yang mungkin jauh lebih khawatir tentang kondisi organisasi ketimbang mereka yang sekarang masih didalam. Hanya karena takut dianggap ikut campur dan sok peduli, akhirnya gua lebih memilih diam dan cuma bisa ngeliat kondisi organisasi dari luar.
Malam tadi, diskusi hangat mengalir di tengah-tengah rasa kangen yang ada di dada kami masing-masing. Bagi mereka mungkin biasa saja, tapi ini adalah titik awal gua mau  ngomongin lagi soal organisasi itu, setelah sekain lama gua sudah tak mau terlibat dalam obrolan apapun tentang itu.
Setelah rampung dengan diskusi soal sosok yang ideal untuk memimpin bangsa ini akhirnya kami dihadapkan pada persoalan apa yang harus dilakukan hari ini dan kedepan. Kami punya pandangan seragam bahwa untuk menciptakan negara yang ideal tentu bukan hanya tanggung jawab Presiden seorang, tapi menjadi tanggung jawab bersama segenap anak bangsa Indonesia, termasuk kami. Kami meyakini bahwa ketika berbicara negara maka akan dihadapkan pada konstitusi, maka ketika berbicara masalah negara ideal maka yang harus dibenahi adalah sistem nya terlebih dahulu, konstitusi negara. Akhirnya mau tidak mau siapapun yang punya cita-cita untuk menjadikan negara ideal memang harus melebur dalam menyusun sistem yang bisa menjadikan negara ini ideal. Yang harus dilakukan adalah melakukan pembasisan, bahasa yang paling sederhana adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mencoba menyelami apa yang sebetulnya mereka rasakan dan butuhkan agar kedepan jika Tuhan mengizinkan kami sebagai bagian dari penentu kebijakan sistem negara maka kami bisa tahu dan paham apa yang harus dilakukan. Dan tak harus dipungkiri bahwa pembasisan itu dilakukan sebagai bagian dari suksesi menjadi bagian dari penentu kebijakan.
Sebuah cita-cita luhur yang malam tadi coba kami rumuskan, kalaupun kedepan kami tak tahu apakah ini akan tetap berjalan sesuai dengan malam tadi atau justru berubah sebaliknya, yang jelas usaha menjadi kunci utama terlepas kemudian berhasil atau tidak tentu itu urusan belakangan. Keresahan bersama tentu ada pada komitmen, sejauh mana kami yang tadi malam begitu bergembira menyambut cita-cita baru ini bisa komitmen menjalankan itu dan tidak keluar dari track yang sudah disepakati bersama. Inilah yang gua bilang di tulisan sebelumnya, bahwa kadang keresahan lah yang akan menghidupkan perjuangan patriotik anak bangsa, apapun perjuangannya selama itu untuk kebaikan negara dan bangsa patut di apresiasi.
Romantisme masa lalu, terlihat jelas malam tadi, ketawa dengan ikhlas, saling berlempar kata yang menggelitik sampai kepada tarik urat kami lakukan, itu semata karena rasa rindu. Tak jarang kami menceritakan kembali pengalaman masa lalu ketika sama-sama dalam satu naungan Untirta Movement Community, dan itu membuat kami sama-sama menyadari bahwa kebersamaan terlalu mahal jika harus dikorbankan hanya karena ego masing-masing. Akhirnya kami menyepakati bahwa kesamaan organisasi tak lagi menjadi penting, yang paling utama adalah kesamaan nilai-nilai perjuangan. Terlepas kemudian gua sekarang dimana dan kawan-kawan ada dalam naungan apa, kami masih tetap satu garis perjuangan, sama-sama resah tentang kondisi Bangsa dan memiliki cita-cita untuk merubah itu semua, kecil atau besar perubahannya tak lagi jadi soal.
Ngobrolin negara sampai ke nostalgia masa lalu akhirnya kami akhiri dengan penuh rasa syukur tepat di pukul 02.00 dini hari. Waktu yang lumayan panjang untuk mempererat kembali tali persaudaraan. Saatnya saya kembali menikmati ruangan 3x4 bersama Boni si kucing manis.
Rasa syukur terus gua panjatkan sepanjang perjalanan pulang ke kosan, dan begitu bahagiannya ketika sampai, Boni langsung menyambut gua dengan suara mengeongnya. Senggol manja ditambah rasa kantuk yang sudah mulai menyerang, akhirnya Boni tertidur pulas di samping gua. Seperti biasa, kami berbagi alas tidur.

Senin, 21 April 2014

Rokok, Internet dan Negara Para Bandit

Ada dua hal yang gak bisa lepas dari hidup gua, Rokok dan internet. Keduanya adalah pasangan serasi yang tak bisa dipisahkan, selalu berjabat mesra nemenin malam-malam panjang gua. Ada internet gak ada rokok, kaya sayur tanpa garam, masih bisa dimakan tapi rasanya hambar, begitu juga sebaliknya., ada rokok tapi gak ada internet kayaknya gimana gitu, seperti ada sesuatu yang kurang, kurang komplit.
Gara-gara benda itu juga akhirnya si insomnia hadir di kehidupan gua. Gua akui, memang pertama kali insomnia datang bukan karena mereka berdua, tapi internet dan rokok patut menjadi tersangka utama karena sudah ngebuat insomnia gua makin akut. Dulu, Insomnia gua isi dengan hal-hal produktif,ngomongin negara bareng kawan-kawan seperjuangan gua sampe pala botak dan itupun bakal selesai kalau udah ngedenger adzan subuh, tapi sekarang insomnia gua pake buat duduk depan laptop, maen game, sapa-sapa teman lewat media sosial dan pastinya ngehasilin tulisan yang alakadarnya, kaya tulisan ini dan bisa sampai ketemu malem lagi baru pelukan mesra samaguling satu-satunya di kamar gua.
Rokok, kata orang itu penyakit dan gua juga sadar dengan itu, bahkan pemerintah kita tumben-tumbenan peduli sama masyarakat dengan ngasih larangan uyang lumayan keras “merokok bisa membunuh mu” kalaupun packaging rokoknya tetap saja unyu-unyu dan ngebuat orang pengen ngisep. Coba pemerintah buat aturan kalau rokok itu kemasannya dibuat nyeremin, atau batang rokoknya dibuat gede banget, pasti orang juga males buat ngisep. Ah namanya juga pemerintah, semua seperti formalitas. Mau gak mau memang pemerintah cuma bisa menghimbau, terlepas masyarakat tetap mau ngerokok atau tidak itu urusan masyarakat sendiri. Toh nantinya kalau masyarakat banyak yang sakit, pengadaan alat-alat kesehatan kan bisa ditambah anggarannya di APBN, duitnya tetep masuk kantong sang pembuat aturan. Ini namanya strategi, lu ngerokok pasti lu bakal sakit dan butuh obat, dan pemerintah sebagai pahlawan kebetulan pasti mau ngelindungi rakyatnya dari sakit, jadi jangan heran kalau anggaran kesehatan membengkak di APBN, yang sakit biarin aja mampus.
Kalau ngomongin soal pemerintah memang gak bakalan ada habisnya, ngomongin apa aja pasti ujung-ujungnya duit. Alih-alih buat pendidikan, banyak bangunan sekolah yang kena hembusan angin sepoi-sepoi aja langsung ambruk. Banyak juga petani yang gak bisa nyari ikan karena udah banyak di jarah sama negeri tetangga. Belum lagi soal listrik, jangan heran deh kalau di negara ini masih banyak yang belum nikmatin fasilitas listrik negara, wong hampir kebanyakan pasokan listrik dinikmati perusahaan-perusahaan mewah pemilik modal, penyumbang kantong aparat.
Lu mungkin masih inget kalau negara kita itu dijuluki negara agraris, negara subur buat diolah sebagai lahan pertanian. Dan lu juga pasti mengamini bahwa para petani di negeri ini masih miskin, tahu kenapa?, harga beli gabah murah banget bos, tapi beras dipasaran mahal nya naudzubilah. Belum lagi banyak beras impor yang katanya lebih berkualitas, padahal sama saja, sama-sama bisa buat dimakan. Gak usah nyari siapa pelakunya, jelas ini kelakuan aparat negara. Bikin aturan yang jelas-jelas gak berpihak pada petani lokal, hanya pada perusahaan pengolah hasil pertanian.
Garis pantai negara Indonesia itu merupakan 3 besar di dunia, tapi jangan heran kalau negara ini masih impor garam, aneh bin ajaib. Belum lagi ikan, pasokan ikan dinegeri ini selalu disebut kurang, yang padahal lautan yang masuk di wilayah kekuasaan negara ini amat luas. Menurut gua bukan kurang, tapi senagaja di kurang-kurangin, biar para pejabat ada pemasukan tambahan. Kalau pemerintah serius nanganin pasokan ikan di negara ini, harusnya pemerintah siap pasang badan buat kapal-kapal raksasa tetangga yang nyuri ikan di perairan Indonesia. Lah, ini dibiarin, mau bilang ini oknum?, berapa banyak oknum aparat yang maen mata di negeri ini?, gak heran kalau negeri ini disebut negara para bandit.
Kurang dari 2 minggu ke belakang gua ngeliat tayangan televisi yang menurut gua amat sangat miris. Masyarakat yang tinggal di dekat pabrik raksasa pengolahan pertambangan justru hidup serba kekurangan. Banyak rumah mereka yang atapnya masih pake “daun”, kalaupun ada pake genteng itu pun genteng-genteng murah yang gampang bocor. Akses jalan ke tempat itu jangan di tanya, masih tanah, beda sama komplek karyawan perusahaan raksasa di depannya, megah dan mulus. Masih banyak masyarakat yang gak pakai listrik dan mereka harus pakai genset yang dibayar patungan, sedangkan di komplek karyawan perusahaan raksasa migas yang ada didepannya hampir 24 jam listrik gak pernah mati, lampu-lampu jalan aja gak pernah dimatiin, terang benderang. Lu bisa nemuin keadaan kaya apa yang gua jelasin diatas itu di Provinsi Riau-Pekanbaru. Kalian jangan pernah tanya dan gimana freeport dan perusahaan raksasa lain mengeksploitasi tanah pertiwi. Semua sama saja, demi keuntungan si empunya modal sama pemerintah, duitnya pemerintah buat siapa?, buat ngegemukin perutnya sendiri.
Capek ya kalau ngomongin pemerintah terus, kayaknya gak ada baik nya bener. Sory juga gua harus generalisir semuanya, lagian kayaknya gak ada aparat yang baik di negeri ini. Ya mungkin ada satu dua lah, tapi kebayang kan lu dari sekian bejubelnya aparat negara dan besarnya anggaran negara yang dikeluarkan buat gaji mereka kalau hanya satu atau dua orang yang bener?. Lagi-lagi gak salah kalau kita sebut ini negara bandit.
Semua apa yang gua tulis diatas memang tidak didukung fakta-fakta yang real, ini hanya celoteh anak bangsa yang setiap malam ngegunain akses internet buat nyari informasi, makanya gua bilang di awal kalau internet adalah salah satu yang wajib jadi tersangka munculnya insomnia di hidup gua. Karena internet inilah gua jadi jarang tidur dan selalu geregetan ngeliat nasib negara, gua jadi tahu sedikit tentang derita ibu pertiwi. Gua gak bisa apa-apa, lagi-lagi gua cuma bisa ngelakuin apa yang bisa gua lakuin. Gak mungkin kan gua bunuh-bunuhin tuh aparat yang gak bener, lagian siapa gua, jagoan?, jadi gua cuma bisa nulis alakadarnya kaya gini, numpahin segala kegelisahan gua tentang kondisi bangsa, karena dari kegelisahan itu biasanya akan muncul sebuah perjuangan patriotik.
Ngomongin soal perjuangan yang patriotik, gua agak sedikit salut sama pemerintah. Oya, kalian pasti pernah liat iklan “kebaikan internet” kan?. Nah menurut gua itu satu dari sekian banyak perjuangan pemerintah buat ngenalin guna nya internet karena diakui atau tidak masyarakat Indonesia itu melek tekhnologi tapi gak melek informasi, banyak dari kita yang punya alat-alat tekhnologi komunikasi super canggih tapi jarang yang ngegunainnya buat akses informasi yang dibutuhin. Nah kurang lebih iklan kebaikan internet itu buat ngegambarin ke masyarakat bahwa internet itu bisa ngasih kebaikan buat hidup penggunanya. Kalau internet dipakai dengan bener, bisa ngebawa lu buat melihat dunia. Tapi gak sedikit juga anak bangsa yang ngegunain internet cuma buat ngeliat film porno, bahkan sekuat apapun pemerintah ngeblock website porno tetap saja bisa di bobol. Entah karena proteksi nya kurang mantap atau memang orang Indonesia itu cerdas-cerdas, tapi sayangnya ngegunain kecerdasannya Cuma buat kaya begituan.
Buat gua internet jelas ngebantu banget. Segala hal disetiap leosok bumi ini Cuma lewat internet bisa gua pantau. Gak mungkin kan gua dateng ke paris Cuma buat ngukur menara eiffel, lewat internet gua bisa tau berapa ketinggiannya. Sampai lebaran monyet juga gua gak mungkin bisa jalan ke rusia, tapi lewat internet gua bisa tahu gimana keadaan negara adidaya tersebut.
Nah, akhirnya gua cuma mau bilang kalau rokok dan internet itu bisa lu paduin buat ngisi keghidupan lu. Rokok itu bisa ngebunuh lu, jangan nolak argumentasi itu, karena guajuga yakin kalau semakin banyak orang merokok maka semakin rentan dia kena penyakit, begitu juga dengan internet, kalau lu gak ngegunainnya dengan bijaksana, bisa juga internet ngebuat hidup lu berantakan, atau bahkan mati sekalipun. Jangan coba-coba dah ngegunain internet cuma buat ngeliat orang telanjang, jangan sekali-kali juga lu ngegunain internet buat main judi online, pasti ketagihan dan ujung-ujungnya hidup lu jadi rusak. Rokok dann Internet keduanya lu harus padukan dengan bijaksana, minimal bisa ngebuat hidup lu bisa jauh lebih berarti buat orang-orang di sekitar lu, syukur-syukur karena dua benda itu lusa bisa ngasih perubahan buat bangsa ini, kalau soal begadang dikit sih gak jadi soal.

Politik dan Korupsi, kembali pada pribadi masing-masing

Harmonisasi saya sama Boni makin terasa, dan malam ini kami lagi-lagi dipertemukan pada sebuah ruangan terbuka diamana mata kami sama-samamenyaksikan layar 14 inchi. Televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan hiruk pikuk perpolitkan bangsa. Seolah tak ada ruang untuk informasi lain, hampir semua media massa menyuguhkan informasi tentang politik. Mungkihkah politik memang sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat selain harga beras?, atau bisa jadi bahwa keputusan politik akan sangat mempengaruhi kesejahteraan nelayan. Untuk itulah semua media secara berjamaah menginformasikan tentang politik. Petani harus berjibaku untuk mencari informasi tentang harga pupuk atau harga jual gabah, nelayan yang membutuhkan informasi cuaca hanya di suguhi oleh janji-janji basi tentang kesejahteraan. Realitanya, semua janji hanyalah bualan untuk memperoleh kekuasaan, dan media mash terus menggiring masyarakat untuk menganggap bahwa politik menjadi hal yang lebih penting ketimbang beras dan kelayakan atap rumah.
Ada politik, ada juga korupsi. Dan yang mencengangkan tentu kasus korupsi yang dilakukan oleh Hadi Purnomo, Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Republik Indonesia, sebuah lembaga yang sangat bersahabat dengan lembaran-lembaran rupiah. Kalaupun beliau di tetapkan sebagai tersangka korupsi bukan pada pada kasus BPK tetapi sebagai Mantan Dirjen Pajak, semua sama saja, sama-sama berdekatan dengan rupiah. Sebenarnya tak terlalu mencengangkan, toh sebelum-sebelumnya pun masyarakat sudah di cekoki dengan berita korupsi yang lebih membuat emsoi naik ke ubun-ubun. Sebut saja kasus Bailout Century, Wisma Atlet dan tragedi daging sapi yang dibalut dengan daging mentah ayam kampus. Jadi, soal kasus Hadi Purnomo ini menjadi kasus yang tak lagi membuat saya terperangah. Mengutip apa yang disampaikan Ikhsanudin Nursyi “pejabat yang berdekatan dengan uang sudah pasti rentan untuk melakukan korupsi, jangan kaget” kurang lebih seperti itu.
Ada benarnya pernyataan ekonom tersebut, siapapun yang berdekatan dengan uang memang begitu rentan untuk tergoda, dan akhirnya keimanan seolah entah kemana, mungkin disimpan sebentar saat bercumbu dengan uang dan akan dipakai kembali saat kampanye untuk menarik simpati para pemeluk taat. Jadi, jangan heran juga kalau kemudian banyak calon-calon pensayasa yang memakai peci atau kerudung sebagai simbol bahwa mereka alah religus dan dekat dengan Tuhan.
Susah memang kalau ngomongin soal politik dan korupsi di negeri ini, seperti jamur di musim hujan, kecil dan tumbuh menjadi banyak lalu kemudian besar. Entah siapa yang bisa menyelesaikannya?, mungkin ada baiknya Tuhan turun tangan langsung. Tuhan memang menjadi solusi paling mujarab setiap permasalahan, termasuk politik transaksional yang sedang marak di informasikan banyak media di Indonesia.
Pegal kalau harus ngomongin politik dan korupsi di negeri ini?. Tapi mau bagaimana lagi, informasi yang lain seolah tak dapat ruang, sedangkan kita sebagai orang awam hanya bisa mendapatkan informasi dari media-media itu-itu saja. Mau tidak mau memang kita harus menyerapnya. Sebetulnya ada hal lain yang bisa kita nikmati, sinetron misalnya. Kalaupun memang sinetron di televisi kita hampir kebanyakan jauh dari unsur-unsur realitas. Sekali lagi semua hampir sama, menyeret masyarakat pada kebutuhan non-primer. Sinetron di negara ini tak lebih dari penyebaran paham-paham baru, konsumtif. Tak ada satu sinetron pun yang mengajarkan manusia Indonesia untuk kembali mengamalkan nilai luhur bangsa. Mengurusi diri sendiri, mobil mewah, rumah mewah, sepatu branded, dan segala aksesoris yang biasa di pakai oleh orang-orang luar Indonesia. Lantas untuk apa semua itu?, agar manusia Indonesia mau mengkonsumsi segala hal yang ditayangkan. Jadi jangan heran kalau kemudian ada anak yang dengan ikhlas menggorok leher ibunya hanya karena ingin di belikan telephone genggam terbaru.
Ngomongin media di Indonesia sepertinya njelimet, sama halnya politik dan juga korupsi. Entah harus dari mana menyelesaikannya. Solusi pasti ada, cuma belum ditemukan saja titik awalnya. Dan mungkin, negara ini bisa gagah kembali, entah pernah menjadi gagah atau tidak, tapi dari buku-buku sejarah tentu kita tahu bahwa negara ini pernah menjadi sentral dari peradaban dunia. Andai si Boni bisa baca juga, mungkin dia akan tahu bagaimana gagahnya negara ini dahulu.
So, who’s to be blame?, yang jelas kita gak bisa nyalahin Boni si kucing lucu yang suka berisik kalau jam tengah malam. Kalau kata Mario Teguh, kita tak harus mencari siapa yang salah, tapi apa yang bisa kita lakukan. Dan saya masih bingung apa yang harus saya lakuin dan benar kata temen saya bahwa hidup gak segampang omongan Mario Teguh. Ngelakuin apapun di negara ini seolah percuma, tak akan mampu merubah nasib anak bangsa. Lagi-lagi mungkin hanya untuk urusan perut sendiri. Atau mungkin itu juga yang ada dipikiran para pejabat Bangsa ini?, saking rumitnya memikirkan permasalahan bangsa, akhirnya mendingan memikirkan perut sendiri saja. Rasanya kok hampir semua solusi akan kembali pada kalimat “semua tergantung pribadi masing-masing”, kalau pribadi masing-masing sudah berkualitas maka negara pun akan berjalan beriringan, lantas kalau seperti itu, untuk apa juga ada negara?, bubarkan saja.
Well, saya sebagai orang awam akhirnya cuma bisa menikmati apa yang disuguhkan, seperti sebuah dagelan dalam lawak srimulat, anggap saja semuanya adalah lucu-lucu-an. Minimal, kelakuan-kelakuan bodoh para pejabat negeri ini bisa membuat kita tertawa lebar, kalaupun sebenarnya dalam tawa yang kita keluarkan ada masa depan pahit yang harus ditanggung oleh kita dan generasi-generasi berikutnya.
Entah apa yang ada dipikiran si Boni setelah ini, mungkin dia akan semakin suka nemenin saya nonton tv dan akhirnya dia semakin bersyukur karena sudah dilahirkan sebagai kucing yang tak perlu memikirkan nasib negara yang crut-marut ini. Hanya makan dan tidur tanpa dibebani apapun.

Minggu, 20 April 2014

Ini Dunia, Bukan Syurga, Boni!!

Ini masih tentang Boni, kucing lucu yang sudah jadi piaraan semua penghuni kosan. Boni sudah bukan milik pribadi gua atau si tetangga, tapi semua memiliki rasa yang sama buat Boni, sayang.
Boni, kucing yang sebatang kara sama kaya si lebah Hachi, semoga saja masih pada ingat dengan film kartun itu. Kalau Hachi gigih buat nyari dimana ibunya, Boni anteng dengan kehidupannya yang sekarang. Mungkin dia sudah putus asa buat ketemu sama ibu atau bapaknya, memilih pasrah dan survive menjalani hidup tanpa siapa-siapa, kecuali kami penghuni kosan Pak Asep yang berbaik hati merawat dia dengan penuh cinta.
Gua pribadi sudah mencintai Boni jauh sebelum penghuni kos yang lain merasa iba dengan kehidupan Boni, dan hampir setiap malam Boni lebih memilih tidur di kamar gua. Sebenarnya dia bukan gak mau tidur dengan temen-temen kosan gua yang lain, cuma mereka seperti menutup pintu. Kasihan mungkin iya, tapi untuk berbagi alas tidur dengan Boni mereka enggan. Katanya bukan karena mereka gak mau, tapi masih takut dengan naluri binatang Boni. Wajar memang, gua saja yang setiap malam tidur bareng dia sering baret-baret gara-gara di cakar, entah itu tangan-kaki atau malah muka sekalian. Bagi mereka Boni tetaplah binatang yang punya naluri memangsa tapi bagi gua, Boni tetaplah makhluk tuhan yang sama kaya manusia, punya rasa.
Malam ini Boni tidur pules setelah tadi di kasih makan banyak. Boni adalah kucing yang gak pilih-pilih makanan. Selama ga lembek dan masih enak buat di gigit, Boni makan lahap. Dan untuk pertama kalinya juga Boni lebih memilih tidur di bawah rak piring bukan di samping gua. Mungkin saking ngantuknya jadi dia gak sempat pindah ke atas kasur. Mirip sama gua, kalau sudah ngantuk berat, dimanapun gua bisa tidur.
Pernah suatu ketika selepas acara IMIKI (Ikatan mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia) di Bandung dan ini pertama kalinya gua gabung di organisasi bertarap nasional, gua tidur di emperan Ciwalk. Saking ngantuknya gua gak bisa ngikutin kemauan teman-teman gua buat keliling mall, dan alhasil gua cuma nunggu di emperan depan Jco sambil rebahan dan akhirnya gua ketiduran. Dan yang gak bisa gua lupain lagi, ketika gua bangun, di depan sudah tersedia dengan mantap bekas gelas air mineral yang di isi koin. Ah, gua hapal benar ini kerjaan temen-temen gua. But It’s ok, karena hal itulah semua gak bisa gua lupain.
Belum lagi ketika gua masih aktif-aktifnya hidup di kampus, hampir setiap waktu bahkan tidur di kampus pun sering gua lakuin. Saking ngantuknya nunggu dosen, gua biasanya tidur di saung perjuangan. Spot yang biasa gua dan kawan-kawan seperjuangan gunakan buat diskusi dan ngebahas segala hal yang urgent tentang organisasi dan permasalahan Banten dan Indonesia. Semua tinggal kenangan, orang-orang dan juga organisasinya. Mungkin nama nya masih ada, tapi gerakannya justru tak pernah keliatan. Bisa dibilang ini jadi masalah klasik hampir semua organisasi kemahasiswaan masa sekarang, masuk angin. Entah karena ada pihak-pihak yang masuk dengan memberikan hal-hal yang jauh lebih menarik atau mungkin karena sudah lelah berjuang. Perjuangan memang hampir sama dengan keyakinan (iman), terlalu pluktuatif. Jika tak diasah, perlahan akan tipis dan akhirnya hilang.
Ngomongin soal tidur dan si Boni kucing kesayangan, tentu gua paham betul kenapa kemudian akhir-akhir ini Boni lebih sering tidur cepet, itu bagian dari perjuangan. Rasa lelah setelah seharian mencari makanan ngebuat Boni jadi lebih sering capek. Gua sendiri gak begitu sanggup nyediain makanan buat dia, seadannya, sepunyanya saja, sisanya dia cari sendiri. Lagi pula ini bagian dari latihan juga, toh gak selamanya dia akan hidup sama gua. Mungkin setelah gua gak nge-kos disini, gua udah gak bisa lagi hidup sama dia.
Banyak dari temen-temen gua juga yang sudah ambil jalan hidup masing-masing. Namanya juga hidup, kadang ada pertemuan tapi perpisahaan adalah sebuah kepastian. Layaknya bayi yang dilahirkan kedunia, suatu saat dia akan kembali pada sang Pencipta. Seperti halnya kemarin, sebelum ada Boni, sahabat sekamar gua yang selalu nemenin gua kapan pun. Karena dia sudah sadar, akhirnya perpisahan gak bisa di elakan. Yang mngebuat gua nyesek sebenernya bukan perpisahaanya tapi kalimat “sudah sadar” dan “seharusnya gua gak kenal lu sejak mahasiswa baru” ngebuat mental gua langsung anjlok. But, yasudah lah namanya juga hidup. Setiap orang berhak mengambil jalan hidupnya masing-masing, terlepas caranya bagaimana, itu hak masing-masing juga. Toh bagi gua pribadi, gak nyesel pernah ketemu dan berbagi apapun yang gua punya buat dia. Semoga semua bermanfaat. Mungkin memang Tuhan punya rencana lain buat hidup gua, termasuk ngedatangin Boni di kehidupan gua.

Entah sudah berapa orang hadir dan kemudian pergi di kehidupan gua, termasuk di kehidupan kalian. Semua bukan tanpa sebab. Yakin lah bahwa semuanya sudah digariskan oleh Tuhan, termasuk perpisahan. Yang perlu di ingat bahwa efek kupu-kupu itu memang ada. Jika suatu saat kesuksesan menghampiri hidup kita maka jangan pernah lupa terhadap orang lain yang entah itu mengecilkan kita atau mendukung setiap langkah kita, karena bagaimanapun mereka memiliki peran dengan caranya masing-masing.
Perpisahan dan pertemuan sebut saja sebagai anugerah Tuhan. mempertemukan dua manusia untuk saling silaturahmi, menjajaki dan kemudian menghimpun menjadi ikatan saudara, kalau tak cocok tentunya perpisahan tak bisa dielakan, bahkan tak jarang kemudian berbalas kesakit hatian. Anggap saja itu anugerah Tuhan, tak perlu di sesali karena dari semuanya kita pasti akan dapat banyak pelajaran bermakna. Percaya saja bahwa apapun yang Tuhan kasih tidak akan pernah tidak memiliki manfaat. Bahkan, seonggok kotoran sapi pun bisa diolah menjadi pupuk.
Ngomongin soal kucing, gua emang gak terlalu suka sama yang namanya binatang. Jijik, lebih tepatnya geli kalau harus bersentuhan langsung sama mereka. Takut juga kadang ada, takut di gigit, di cakar dan hal lain yang membahayakan. Tapi dengan kehadiran Boni, gua jadi belajar banyak, bahwa bagaimanapun mereka memang binatang yang punya naluri sebagai pemburu, dan mereka juga makhluk Tuhan yang punya rasa. Dan gua bersyukur dengan kehadiran Boni di kehidupan gua, sama halnya gua bersyukur dengan kehadiran orang-orang terbaik yang pernah Tuhan kasih buat hidup gua.
Gua jadi inget kata-kata sahabat sekamar gua dulu. “Ini Dunia, bukan Syurga” sebuah kalimat sederhana yang sarat akan makna. Ini memang dunia, tempat dimana kebaikan dan kejahatan kadang begitu sulit untuk diraba, jika salah sedikit saja memaknainya maka jangan heran kalau kemudian pertumpahan darah bisa terjadi. Ini bukan syurga yang didalamnya hanya ada kebaikan, ini juga bukan neraka yang di dalamnya hanya ada keburukan, ini dunia sebuah dimensi perpaduan keduanya.
Boni, juga mungkin sadar bahwa ini dunia. Ada manusia yang baik sama dia, tapi gak menutup kemungkinan ada juga manusia yang jahat sama dia. Boni selalu waspada, sedikit saja di pressure, gigi nya yang sudah mulai tumbuh siap di tancapkan kedaging sang pengusik, termasuk gua.
Boni, di tengah kelelapan tidurnya, selalu ngasih gua inspirasi. Termasuk tulisan malam ini, semua hadir karena Boni. Selamat tidur Boni, semoga Tuhan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mu, untuk ku dan untuk orang-orang yang sama-sama kita kasihi.

Minggu, 06 April 2014

Boni, Politik dan Cinta Sama Rasa

Seperti biasa malam ini gua di temenin sama si kucing, kata tetangga sih namanya Boni, maklum ini bukan kucing gua, tapi udah gua anggep kaya kucing gua sendiri, bodo amat lah tetangga marah juga. Yang jelas, ini kucing tiap malem tidur di samping gua.
Gua emang hidup sendiri, sebenarnya ada gadis ting-ting di sebrang pulau yang sudah siap komitmen sama gua, tergantung keseriusan gua ngejalanin komitmen itu. Gadis itu fine-fine saja sampai sekarang, dalam artian dia masih enjoy ngejalanin semua ativitasnya tanpa gua di samping dia. Gua juga begitu, kalaupun terkadang muncul perasaan ingin ketemu dan ngehabisin waktu sehari saja bareng dia, tapi semua cuma kemauan doang, karena gua kepisah sama lautan. Jauh dan menghabiskan ongkos yang gak sedikit. Well, akhirnya cuma si Boni yang setia ada sama gua setiap malem.
Kisah cinta, pergulatan hidup, keluarga, kuliah sampai ke hal politik gua share bareng Boni. Ya, dia memang gak ngeluarin sepatah kata pun, tapi yang pasti minimal gua ada teman buat cerita. Sebenarnya bukan gak ada teman sama sekali, kesannya gua gak punya temen. Cuma rasa-rasanya gua lebih nyaman sama Boni. Gak banyak omong dan cuma bisa mengeong. Kalau ngobrol sama temen-temen gua yang cerdas abis di kampus, susah bener, merasa paling pinter dan paling bener, ujung-ujung nya cuma diskusi kusir tanpa hasil, kalapun kadang gua butuh itu. Itulah kenapa gua nyaman sama Boni.
Malam ini, gua cerita soal perasaan gua, malam kemarin gua cerita soal politik. Bagi gua politik dan cinta itu sama saja, keduanya perihal meyakinkan orang. Kalau dalam cinta lu harus ngeyakini calon pasangan lu dan keluarganya, dan kalau dalam politik lu wajib ngeyakinin konstituen lu supaya lu bisa melenggang jadi penguasa. Cinta tentu harus pakai politik, sebut saja politik rasa, dan politik harus pakai cinta. Berkenalan dan kemudian menjalin komitmen bagi gua itu bagian dari politik, dimana disitu ada proses meyakinkan orang lain. Kenapa sekarang banyak banget politikus yang gak bener, itu semua karena mereka--politikus-- gak pernah berpolitk dengan cinta. Mana ada cinta kalau mereka lebih senang poya-poya ngabisin uang negara di luar negeri sedangkan rakyat nya harus makan alakadarnya. Si Boni cuma mengeong, entah setuju atau mungkin juga tidak. Tapi gua yakin dia setuju, soalnya dia ngerasain gimana susahnya nyari makan. Sehari saja kadang dia cuma makan sekali dan itupun jauh dari nutrisi.
Ngomongin soal politik di bangsa ini rasa-rasanya sudah mencapai titik jenuh, kepercayaan publik udah ludes gak kesisa, gak ada tokoh yang di percaya lagi sama publik untuk memimpin bangsa, kalaupun ada itu cuma claim dari tokoh nya saja. Tapi gak tahu juga, kalau gua pribadi jelas gak percaya sama tokoh manapun. Kata orang ada satu tokoh yang merakyat banget, dan cocok buat mimpin bangsa yang kaya dan keliatan miskin ini, santun dan mau berbaur dengan masyarakat, tapi bagi gua dia sama saja. Bukan nya dia di besarkan media?. Bagi gua, tokoh yang satu ini adalah tokoh yang dimanfaatin sama media, ya lebih tepatnya saling manfaatin. Si tokoh dapat popularitas tinggi, dan media dapet keuntungan milyaran dari hasil beritanya. Dan hasilnya tokoh ini bisa dibilang premature dalam memimpin bangsa. Kita memang butuh sosok segar dalam memimpin bangsa, tapi bukan juga tokoh hasil rekaan media.
Belum lagi calon yang katanya gagah, tegas dan gak mencla-mencle. Tapi bukan kah dia penjahat masa lalu?. Kata orang yang sering baca buku, dia itu penjahat HAM alias Hak Asasi Manusia. Masa berakhirnya orde baru yang digantikan oleh reformasi harus dibayar oleh darah, darah mahasiswa dan aktivis yang di culik oleh sang tokoh itu. Apa mungkin dia sudah berubah. Gelas retak mungkin bisa saja utuh kembali, tapi rentah untuk rapuh, bekas goresan akan tetap ada. Jadi ada kemungkinan ia akan mengulanginya lagi ketika jadi orang nomor satu di negeri ini. Kalimat sederhananya, “kalau sebagai bawahan saja dia melakukan itu, apalagi sebagai atasan”. Mungkin akan banyak lagi yang diculik, dan kebebasan untuk bersuara di negeri ini akan hilang. Kita akan sama kaya si Boni yang cuma bisa mengeong tanpa melakukan protes atas kebijakan yang gak populis buat rakyat.
Ngomongin politik di negeri ini emang gak ada habisnya, yang ada pala jadi nyut-nyutan, mata jadi ikut nangis ngeliat penderitaan rakyat yang gak beruntung, kadang dada juga jadi sesak kalau liat politikus yang cuma bisa ngabisin anggaran negara. Makanya malem ini gua stop ngomongin politik sama Boni, gua pengen cerita soal rasa yang sekarang ada di hati gua.
Malam ini gua kangen banget, pengen bertegur sapa, kalaupun cuma lewat telepon rasanya sudah sedikit mengobati. Tapi sayangnya, sang pujaan hati sepertinya lelah, maklum saja dia adalah wanita yang sangat produktif. Ini bukan soal kehamilan, tapi produktif dalam aktivitas. Sepertinya setiap menit yang dia lewatin selalu saja menghasilkan karya. Entah buat dinikmatin sama dirinya sendiri ataupun sama orang lain. Gua tentu maklum, dan malah gua bangga ada gadis seluar biasa itu mau sama gua.
Sudah hampir dua bulan jalan hubungan gua sama dia, ini bukan pacaran karena kami tidak lagi ada di tahap itu. Ini adalah komitmen dua manusia yang berjenis kelamin beda untuk sama-sama mengarungi rumah tangga. Kami sudah komitmen bahwa ada masanya kami harus menyatukan diri dalam rumah tangga, bukan sekarang. Mungkin sekarang Tuhan baru ngizinin gua buat hidup sekamar sama Boni, bukan sama dia. Tapi kalaupun sama Boni, kami gak ngelakuin perbuatan mesum, wajar kalau sekedar pelukan hangat, anggap saja itu pelukan persahabatan.
Boni, kucing kampung yang ditinggal ibunya. Katanya di temuin di depan kampus sama tetangga kosan, dia bawa dan rawat sampai sekarang. Tapi justru Boni lebih deket sama gua. Gua kasian ngeliat dia, ngebayangin kalau gua jadi dia yang gak punya keluarga. Makan karena belas kasihan orang, bahkan tidur saja harus numpang di tempat orang. Yang bikin gua kasihan sama Boni, dia itu jomblo, mudah-mudahan di bisa cepet dapet pasangan, gua Ikhlas.
Itulah kenapa gua sayang banget sama Boni. Udah gua anggep kaya adik gua sendiri. Bagi gua binatang punya naluri cinta yang lebih jujur. Gua sih gak ngerti bahasa mereka, tapi hidup mereka sederhana, gak neko-neko kaya manusia. Dan Boni ga kaya kebanyakan manusia, sudah di kasih hati malah minta jantung. Tapi gak buat manusia yang udah gua ceritain diatas, si gadis manis asal Makassar.
Gua selalu maklum dengan apa yang dia lakuin disana, karena gua yakin dia pun kaya gitu sama gua. Kepercayaan itu jadi modal utama buat hubungan jarak jauh, apalagi harus dipisahin sama lautan. Yang jelas do’a-do’a gak bakalan pernah putus buat dia dan keluarganya, dan tentu buat keluarga gua dan semua orang yang deket sama gua.
Gua kangen sama dia, tapi memahami bahwa ini bagian dari resiko yang harus dijalani, bagi gua itu jadi ga masalah.Cukup liat photo dia dan gua langsung ceritain semua sama Boni. Dan Boni cuma bisa mengeong.

Program semu menjelang pemilu

Mendekati pemilihan umum yang sebentar lagi bakal di gelar di negeri ini, saya jadi semakin was-was. Saya khawattir siapapun yang menang toh pada kahirnya mereka tidak akan membawa perubahan untuk bangsa ini. Bagi saya apa yang ditawarkan oleh sang calon kuasa adalah sesutau yang semu, yang hanya sebagai penyenang hati masyarakat bawah. Semua tidak lebih dari iming-iming memperoleh kekuasaan, setelah nanti duduk, mereka justru tak mau beranjak untuk melihat kaum-kaum bawah yang terkepung oleh budaya baru yang telah mengikis nilai luhur bangsa.
Seperti halnya di kampus, saya selalu wanti-wanti buat siapapun yang mau mencalonkan diri jadi penguasa. bagi saya indikator kesuksesan penguasa bukan pada berhasilnya program-program (normatif) itu dilaksanakan, tapi lebih kepada bagaimana costum & (kemudian) budaya bisa terbentuk, budaya sebagai mahasiswa yaitu kembali menggaungkan nilai-nilai akademin, penelitian dan mengabdikan dirinya hanya semata-mata untuk masyarakat. Kalau untuk ukuran bangsa saya orang yang agak tidak peduli dengan kesejahteraan, toh se-sejahtera apapaun kita di era pertumbuhan ekonomi di dunia yang semakin pesat saya rasa kita akan terus merasa kekuragan, itu juga menjadi sifat serakah manusia. jadi, justru yang harus dibangun adalah bagaimana buday-budaya luhur Indonesia itu kembali ada di hati setiap anak Bangsa. Budaya Gotong royong yang merupakan nilai persatuan dan kesatuan bangsa seolah telah luntur di makan zaman. Jarang sekali kita bisa melihat orang bergotong royong tanpa harus mendapatkan imbalan,membantu manusia lain tanpa mengharapkan lembaran rupiah, semua dinilai secara materi, gotong royong entah sudah kemana.
Budaya individualis bagi saya adalah point utama kemerosotan bangsa, ini pula lah yang menjadi landasn dari sebuah paham di dunia yang di sebarkan oleh negara-negara maju, Liberal. Coba anda bayangkan, ketika anda mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan perbuatan salah justru anda mendapatkan jawaban "Hidup hidup gua, kenapa lu ngurusin hidup gua, urus saja hidup lu sendiri". Bahkan yang lebih parah ketika Anda mengajak seseorang kepada kebaikan, shalat misalnya, anda akan mendapatkan jawaban yang sederhana tapi inilah nilai-nilai individualis yang dibangun "Shalat itu urusan saya sama Allah, jadi udah deh jangan suka ngingetin, gua ga mau shalat karena lu". 
Sadar atau tidak, memang harus diakui bahwa kalimat-kalimat sederhana itu terbentuk karena costum (kebiasaan) dan akhirnya menjadi budaya yang telah mngikis nilai-nilai luhur bangsa ini. Itu baru gotong royong dan individualis. Belum budaya-budaya lain, dan jelas bangsa ini telah ikit dalam arus perubahan budaya dunia.
Saya rasa kita masih ingat betul dengan kasus Darsem dan Sutinah, 2 orang TKi yang siap di pancung di negeri Arab. Penguasa negara ini seolah enggan membantu mereka, dan budaya gotong royong pun akhirnya kembali. Semua kalangan berbondong-bondong menggalang dukungan untuk menyelamatkan dua anak bangsa yang di kuras tenaga di negeri orang. Dan Alhamduliah keduanya bisa diselamatkan, terlepas kemudian siapa yang membayar uang tebusan, saya rasa nilai-niali gotong royong itulah yang diperlukan untuk bangsa ini. Lantas haruskah budaya itu kembali pada bangsa ini dengan adanya kasus memilukan?. Semoga saja tidak. Inilah tugas si kuasa memikirkan bagaimana budaya itu lahir kembali tanpa harus mengecilkan bangsa sendiri di mata dunia.
Itulah kenapa sang penguasa, bagi saya, bukan cuma harus berkutat pada kalimat kesejahteraan sosial, pendidikan gratis, kesehatan gratis, tapi sudah memiliki visi yang jauh lebih visioner yaitu mengemballikan budaya luhur Bangsa. Percuma kita menjadi negara maju, negara yang kaya rasa, negara yang sejahtera tapi nilai indovidualis masih sangat kentara. Percuma kita menjadi orang kaya, lalu di sebalh kita ada yang kelaparan dan kita tidak mau sedikitpun mengikhlaskan diri untuk membelikannya makan.
Mendekati pemilu semoga saya, anda dan kita semua bisa belajar bahwa pendidikan gratis, kesehatan gratis dan segala sesuatu yang gratis adalah program-program semu, semua itu tak akan pernah terwujud sebelum si kuasa mampu mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa.

Sabtu, 05 April 2014

Karpet Lusuh dan Tumpukan Dosa Kecil

Pagi ini Tuhan kembali mengingatkan saya dengan caraNya yang sangat sederhana. Di tengah kebahagiaan yang luar biasa menjelang adzana shalat subuh berkumandang, nikmat Tuhan datang dengan cara yang tak terduga.
Entah sudah berapa tahun karpet berwarna pelangi itu tak di cuci oleh sang pemilik. Tergelatk seperti tak terurus di depan pintu kosan. Selimut milik teman yang dipinjamkan ke tetangga kosan akhirnya akan kembali ke pemilik sebenarnya lagi, namun sayang baik si pemilik maupun si peminjam, keduanya sama sekali tak pernah memperhatikan keadaan si karpet. Lusuh dan berdebu, jangan kan di pegang, bahkan membayangkannya saja rasanya sudah gatal-gatal. Tapi yang anehnya si pemilik dan si peminjam justru tetap nyaman dengan keadaan demikian. Setiap malam, tikar itu setia berada di bawah tubuh si peminjam yang lelah karena rutinitas, dan setiap hari pula tikar itu tak pernah tersentuh air sekalipun.
Tikar yang tergelaetak di depan kosan yang kata si peminjam akan dimabil oleh si pemilik itu pun saya ambil dan saya cuci. Syukur-syukur nanti ini menjadi hak milik saya, toh mereka tak mau mengurusnya.
Bermodal ember kecil yang biasa saya gunakan sebagai penampung air untuk mandi, saya rendam tikar itu. Tidak sampai 10 menit, air yang tadinya jernih berubah total layaknya air got. Berkali-kali saya ganti air rendaman tetap saja warnanya berubah hitam. Saya jadi semakin gatal membayangkan kalau saya harus tidur diatas tikar itu.
Semalaman saya rendam karpet lusuh itu, dan menjelang dini hari saya coba melihat siapa tahu saja ada perubahan dengan air rendamannya, ternyata masih saja tetap sama, berubah hitam pekat. Entah sudah berapa kali saya ganti air rendaman. Positifnya, tentu karena semua kotoran yang ada dalam karpet itu jadi terangkat, namun lama-lama saya capek juga. Apakah sekotor ini kah, sampai semalaman saya rendam air rendaman terus berubah hitam?. 
Di tengah rasa letih, dini hari, saya terbawa pada sebuah pelajaran hidup. Mungkin inilah yang di sebut berkah subuh. Saya membayangkan bagaimana kalau diri saya yang harus direndam. Akan kah sekotor ini?, sungguh sangat menakutkan jika diri saya yang sekotor karpet ini, berkali-kali di cuci masih saja tetap kotor. 
Saya jadi teringat akan dosa-dosa dan kesalahan yang pernah saya perbuat selama hidup. Dosa-doa itu bagaikan debu yang tertumpuk rapi di atas karpet pelangi. Sedikit diawal, namun jika dibiarkan bahkan direndam semalaman pun akan tetap kotor. Itukah diri saya sekarang?, dosa-dosa itu begitu hitam, tergambar jelas layaknya air rendaman karpet pagi ini.
Kadang kita memang tidak sadar akan setiap kesalahan yang diperbuat, apalagi kesalahan-kesalahan kecil, sepele. Kita kadang menanggap kesalahan-kesalahan kecil seperti sesuatu yang tak perlu di khawatirkan, dan dibiarkan yang pada akhirnya menjadi kesalahan yang menumpuk. Sebuah dosa kecil, kemudian menjadi besar, kemudian akan menyeret kita pada akhir hidup yang menyakitkan.
Subuh adalah renungan. dan kali ini saya mencoba merenungkan kembali apa yang sudah saya perbuat selama ini tidak lebih dari dosa-dosa kecil, yang suatu saay saya yakin akan menjadi penghambat bagi perjalanan hidup saya. Tak usah berpikir dulu tentang kehidupan setelah mati, kita percaya saja itu ada, tapi perjalanan dalam hidup ini pun tentu tidak akan pernah menemukan kedamaian jiak kesalahan-kesalahan kecil itu dibiarkan dan menjadi dosa yang mengganjal. 
Kesalahan kecil adalah kerikil yang harus disingkirkan, bukan ditendang dengan kaki, karena bisa saja kita tergelincir dan jatuh. Ada tangan yang bisa mengambilnya dengan lembut. Maka renungkan lah, bahwa kesalahan itu sudah harusnya di berhentikan. Dan jika kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu ada kaitannya dengan orang lain., maka segeralah dengan kelembutan hati untuk meminta maaf. karena bagaimana pun Tuhan tidak akan pernah turut campur persoalan minta maaf antar kedua manusia, manusia itu sendirilah yang bisa menyelesaikannya.
 Dan pada akhirnya, karpet itu pun perlahan kini sudah mulai terlihat bersih, air rendaman tak sehitam yang sudah-sudah. Kedamaian subuh masih saya rasakan, suara sang muadzin akan tetap terdengar syahdu. Tuhan tak akan pernah berhenti memberikan rahmat pada makhluk yang mau belajar dari hal-hal kecil.

Selamat Pagi Tuhan
Selamat Pagi Mariesa Giswandhani, Selamat Shalat Subuh :)

Jumat, 04 April 2014

Seperti Sebelumnya, Adzan Subuh

Seperti sebelumnya, adzan subuh selalu terdengar begitu merdu, mendamaikan hati yang entah sedang dalam kondisi apa. Siapapun yang mengumandangkan adzan subuh selalu terdengar istimewa, mungkin karena udara pagi hari yang sejuk, suara adzan pun terbawa oleh kesejukan angin dan berhembus di telinga saya setiap pagi, syahdu dan mendamaikan.
Seperti sebelumnya, saya masih setia di depan layar 14 inchi. Bukan untuk persoalan yang serius tapi hanya sekedar mengisi waktu luang untuk mendengarkan syahdu nya adzan subuh, mendamaikan. 
Seperti sebelumnya, rutinitas yang tak begitu padat kadang membuat jenuh datang di kehidupan. Jenuh bukan karena sibuk, bukan karena mumet tapi karena tak ada yang dikerjakan. Dan adzan subuh selalu memberikan kedamaian. 
Seperti sebelumnya saya tak bisa melakukan apa-apa, hanya diam di depan layar 14 inchi tanpa menghasilkan karya apa-apa. Ingin menulis tapi rasanya bingung apa yang harus ditulis. kalaupun tulisan ini hadir dan bisa masuk dalam pori-pori otak yang membacanya, ini hanya tulisan alakadarnya utnuk mengusir kebosanan, untuk menunggu sang muadzin mengumandangkan adzan subuh yang mendamaikan hati. 
Entah kenapa dengan otak beberapa hari ini, tak bisa diajak kerja sama, tak bisa diajak berpikir keras, yang ada hanya santai dan berleha-leha. Anekdot bahwa otak yang tidak dipakai akan mahal harga jualnya mungkin tepat untuk otak saya. Selama ini hanya memikirkan segala hal yang semu, tidak menghasilkan apa-apa, idelais tidak apalagi pragmatis. Mungkin sedikit iya, tapi semua masih alakadarnya.
Ingin sebenarnya saya seperti kebanyakan orang hebat yang bisa menuangkan ide-idenya kedalam barisan-barisan kalimat, tidak harus puitis dengan liuk bahasa yang aduhai, cukup menulis dan bisa dinikmati rasanya luar biasa. tapi sampai sekarang tak ada perubahan, hanya alakadarnya.
Sebut saja ini bagian dari kesalahan masa lalu, saya orang yang paling malas untuk ikut dalam kelas menulis, yang pada kahirnya inilah kualitas tulisannya, alakadarnya dan tak ada esesni. hanya tulisan semua, untuk mengisi waktu luang menunggu sang muadzin subuh.
Setidaknya pagi ini saya kembali mendengar adzan subuh, kalaupun tak menghasilkan apa-apa dalam semalam, kedamaian tetap merasuk dalam bathin yang paling dalam. Dan setidaknya pagi ini saya bisa bertegur sapa dengan sang pujaan hati di pulau sebrang.
"Selamat pagi mbak yu, Sudah Shalat subuh?"
"Kalaupun aku yang ngingetin kamu, tapi shalat kamu harus tetep karena Allah ya. Kamu jangan pernah marah kalau ada orang yang ngingetin kamu shalat, apalagi sampai mengganggu tidur nyenyak mu, dia bukan mau kamu shalat karena dia. Dia cuma tidak mau kamu di ingetin langsung sama Tuhan, jadi kita harus sama-sama bersyukur"

Selamat Pagi Mbak Yu
Selamat menjalankan Perintah Sang Khalik