Wanita Langit.
Aku bukan tak mau menulis sama seperti para ksatria, sesuatu yang bisa di bilang bagus dengan rima yang aduhai. Lihat saja tulisan-tulisan para ksatria itu, mereka menorehkan pena dengan kata-kata yang aku justru bingung memaknainya. Terlalu banyak makna yang aku dapatkan dari apa yang mereka tuliskan itu. Aku justru pusing membacanya. Ah, mungkin aku terlalu bodoh sayang.
Tapi ini benar, kalaupun tulisan para ksatria itu membuatku pusing, aku menikmatinya. Tulisan mereka benar-benar aduhai, tak ubahnya seperti para cendikia zaman dulu.
Aku yakin kau pasti tau siapa itu Socrates, Aristoteles dan Platos. Ya, aku lebih senang menyebutnya Platos bukan Plato seperti kebanyakan orang, aku yakin kau tahu alasanku Wanita Langit.
Sebut saja mereka 3 serangkai filsuf. Kata-kata yang mereka hasilkan sungguh sangat mengguah hati dan otak, sampai-sampai setiap yang membacanya bisa menginterpretasikannya bermacam-macam. Kau sudah membaca karya-karya mereka kan?
Kau juga mungkin mengenal Rene Descartes. Cogito Ergosum Adalah kalimat yang yang fenomenal yang dia hasilkan. Cuma dengan kalimat itu, siapapun bisa menguliti Tuhan, bahkan membunuh dan menghidupkan Tuhan kapan mu dia mau. Eksistensi manusia benar-benar hanya dinilai dari apa yang dia pikirkan, termasuk apa yang sudah kubilang tadi bahwa setiap manusia bisa mengukur eksistensi Tuhan.
"Aku berpikir maka aku ada", hebatkan kalimat itu?
Siapapun bisa memikirkan Tuhan dan menganggap tuhan ada, tapi siapapun juga bisa tidak memikirkan Tuhan dan menganggap Tuhan itu hanya bualan kosong.
Aku ingat bagaimana dulu salah satu guruku berkata bahwa Tuhan adalah tokoh fiktif favoritnya. kau Tahu kenapa alasanya? Karena Tuhan tak mau menunjukan jati dirinya. Bagi guru-ku itu, setiap yang tidak mau menunjukan jati dirinya adalah pengecut, adalah fiktif.
Aku ingin seperti para filsuf itu. Mencintai kebijaksanaan dan hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Aku ingin melihat bumi ini dari ujung ke ujung, menulisnya lalu ku persembahkan buatmu.
Kau boleh saja tak mampu mengelilingi isi bumi ini, tapi minimal kau bisa membaca apa yang aku tuliskan itu.
Kau tahu kenapa aku ngotot ingin menjadi kesatria pena?
Bagiku pena lebih tajam dari pada pedang. Aku ingat bagaimana sang pejuang di Tanah Pertiwi pernah mengatakan bahwa "Suara ku akan lebih lantang dari alam kubur". Dia itu Tan Malaka, sang pejuang yang selalu berganti nama dan dekat dengan para proletarian sama sepertimu sekarang.
Kamu jangan salah, dia berganti nama bukan karena takut dengan orang penjajah, dia hanya berpikir ke depan. Kalau sampai dia tertangkap maka tamatlah semua riwayatnya. Coba bayangkan kalau dia tertangkap lebih awal, mungkin aku, kau dan semua manusia di tanah pertiwi ini tak akan bisa membaca karya-karyanya. Jadi, jangan kau bilang dia pengecut, justru apa yang dia lakukan adalah untuk kemaslahatan bersama. Dia ingin mengabarkan kondisi saat itu melalui tulisan-tulisannya.
Kau sudah baca tulisan Tan Malaka?
Bukan cuma Tan Malaka, Kau ingat Pramoediya Ananta Toer yang aku ceritakan dulu?
Ah, aku suka dengan karya-karyanya, bahkan sampai sekarang saja masih banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa seorang pram bisa menulis sebagus itu dalam kondisi yang jauh lebih buruk dari sekarang. Nanti kupinjamkan kau buku "BUMI MANUSIA", kau wajib membacanya.
Wanita Langit, entah kenapa aku ingin seperti para ksatria itu. Bukan 3 Filsuf atau Descartes, bukan juga Tan malaka atau Pramoediya tapi mereka yang lain. Ah, kau pura-pura lupa.
Sudah kuceritakan dari awal kalau kemarin aku melihat tulisan-tulisan para kesatria mu di istana dulu. Ya, kesatria itu yang ku maksud.Para kesatria yang tulisannya membuatkau pusing dengan rima yang aduhai. Aku menikmati tulisan-tulisan mereka. Kalaupun terlihat masih belia, tapi untuk ukuran seumuran mereka, tulisannya cukup menarik.
Memang, tulisan mereka tak lebih dari pengalaman hidup yang mereka alami sendiri, lantas apa bedanya dengan Pram atau Tan, sama saja, hanya pengemasannya saja yang beda. Mungkin saja kiblat mereka ke 3 serangkai Filsuf itu yang lebih senang
bermain kata-kata, lebih senang membuat para pembaca pusing tujuh
keliling. Tapi jangan pernah kau samakan mereka dengan Tan atau Pram, masih terlalu jauh. Kan sudah kubilang kalau mereka itu penulis belia sama sepertiku. Tapi jangan juga kau tidak mengapresiasi apa yang mereka tulis, nikamti saja apa yang mereka bagi dengan kita.
Wanita langit.
Aku semakin gemas untuk mengikuti jejak para kesatria. Tapi apakah aku bisa?
Kau tahu aku hanyalah putra petani, putra ploretarian. Tak mungkin bisa menyamai para kesatria itu.
Hidupku diperhitungkan orang pun hanya karena kau dekat dengan mu. Tapi sepertinya orang-orang tidak akan lagi menganggapku ada, toh kau bukan lagi suami Sultan kan?
Kau sekarang sama dengan gadis-gadis desa. Mandi di sungai yang mengalir dari darah nadi mu.
Sudahlah jangan ingatkan aku tentang peristiwa itu lagi, bagiku sekarang yang paling penting adalah melihatmu seperti burung. Bebas dan tak lagi terbelenggu rantai Istana.
Aku hanya ingin bercerita. Aku ingin seperti para kesatria pena.
Wanita langit, sebentar lagi aku akan datang mengahmapirimu, mandi di sungai dan menanam padi bersama para petani. Jangan kau patahkan semangatku untuk menulis. Aku punya keyakinan besar, suatu saat nanti aku bisa mengelilingi bumi sama hanya dengan Galileo. Akan ku tulis semua pengalaman itu. Dan ku persembahkan untuk mu. Ah, aku semakin tak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan Istana ini.
Wanita Langit, bagaimana kabar adik ku?
Masihkah dia suka memancing di pinggir sungai?
Aku dengar dia sedang membantu petani memanen padi, benarkah itu?
Ah sunggu bahagianya aku mendengar itu.
Jagalah dia sampai aku menghampirimu.
Ingat apa yang aku katakan tadi, jaga adik ku, jaga sungai mu dan nantikan aku di pinggir sungai kebijaksanaan.







0 komentar:
Posting Komentar