Sabtu, 06 April 2013

Wanita Langit dan Istana Raja Sultan

Jangan lagi kau kembali ke istana itu, Istana itu kini sudah hancur dan Sang sultan yang congkak itupun sudah tak tahu kemana..
Kembali lah pada sungai yang mengering, aliri dengan darah yang menetes dari urat nadi mu.

Wahai Wanita langit, aku mencintaimu dengan penuh kebijaksanaan.
Aku merindukan Istana itu, tapi aku sadar bahwa kau dicipta bukan untuk hidup dalam istana megah.
Kau ada untuk menjadi dewi yang mengairi seluruh sawah-sawah petani.

Wahai wanita langit, kini urat nadi mu hampir terputus. Seluruh darah mu telah mengalir deras.
cepat lah kau lari ke sungai itu, biar sawah-sawah petani tak lagi tandus.

Biarkan istana mu retak lalu hancur, jangan lagi kau pikirkan itu.
Biarkan kemegahan itu kini menjadi puing, dan kau memnjadi dewi bagi para petani.
Darah mu adalah darah kaum-kaum proletar.
Biarkan menetes, mengalir dan membanjir.

Wanita langit, aku mencintaimu dengan kebijaksanaan.
Aku rindu teh buatan mu, walau sering kau sajikan dalam cangkir tanah yang retak.
Aku tetap menikmati.
bagiku tak ada teh yang lebih nikmat selain buatan mu, selain dalam cangkir yang retak.

Biarkan lah cangkir itu tertinggal dalam istana yang kini jadi puing.
Bagi ku, melihatmu menjadi dewi bagi para proletarian menjadi lebih penting, dari pada melihat kecongkakan mu dalam istana sang Sultan.

Wahai Wanita langit, Kini para petani dan kaum-kaum proletarian telah bersuka cita.
Berkat nadimu, berkat darahmu yang membanjiri sungai-sungai itu.
Kini sungai-sungai itu telah menjadi harapan hidup bagi kaum yang dulu pernah kau siksa.
Yang dulu kau jadikan budak.

Wahai wanita langit, kini kau taampak cantik
baumu seharum bunga kasturi dari syurga.
Aku semakin mencintaimu dengan kebijaksanaan.

0 komentar:

Posting Komentar