Malam boleh saja larut, angin boleh saja menumbangkan kesehatan, tapi saya tak gentar untuk menerima nasihat-nasihat peneduh hati. Di saat hati sedang kacau, rasa sedang tak karuan, nasihat dari orang yang lebih dahulu menapaki kakinya ke dunia ini memang menjadi obat yang paling mujarab.
DI kaki bukit Pulosari saya menemui beliau, bersama kawan yang setia mengemudikan motor dengan lincah dan sangat hati-hat. Bukan para noral atau cenayang yang kami temui, tapi seorang guru yang mampu menenangkan jiwa.
Hampir tengah malam kami tiba disana, di sambut oleh sapaan hangat dan romantisme keluarga harmonis. sepasang cangkir antik berisi air teh hangat pun tersedia di atas meja dan siap untuk di santap. Cuaca malam itu memang terasa berbeda dari biasanya, lebih dingin dan menusuk tulang.
Menunggu sang guru yang sedang berbincang dengan istrinya, kami menunggunya di ruang tamu di temani putra kesayangannya. Ya putra nya adalah teman kami juga, satu kampus dan malah sering sekali kami menghabiskan waktu bersama di kala senggang.
Tayangan film kolosal di salah satu televisi suasta Indonesai menemani obrolan kami, dan saya pun tak basa-basi langsung ke pokok masalah. Saya tak banyak bicara, memang tujuan saya datang kesini bukan untuk bicara tapi hanya untuk mendengarkan.
Dengan sedikit agak malu, saya mengatakan bahwa akhir-akhir ini hati saya sedang gundah, perasaan saya kalut dan kadang emosi saya sampai ke ubun-ubun. Saya seolah menjadi bukan saya, bahkan ketidak sukaan saya terhadap orang lain kadang memnggiring pikiran saya untuk melakukan sesuatu yang negatif.
Sang guru hanya tersenyum dengan bijaksana, dan ketika kalimat demi kalimat keluar dai mulutnya, saya hanya bisa menahan tangis. Saya benar-bena tersadarkan dengan apa yang di katakannya, bahwa hidup bukan lah soal kekerasan. Se-tidak-suka apapun kita terhadap orang lain, kekerasan tetaplah bukan jalan keluarnya. Baginya, hidup damai adalah impian semua orang termasuk saya. Beliau mengatakan bahwa bersikukuh dengan keinginan memang lah baik, namun jika memaksakan semua jalan demi mencapai tujuan, justru akan banyak syetan yang mengikuti.
Saya benar-benar semakin tersentak dengan semua yang di katakan beliau. Saya ingat bagaimana saya memiliki niatan jelek terhadap orang-orang yang sudah menyakiti hati saya, menghina dan merendahkan derajat saya sebagai manusia.
"hati manusia di jaga oleh malaikat, kalau saja semua manusia bisa menjaga apa yang ada dalam dirinya, percayalah bahwa apapun kekuatan dari luar tak akan pernah bisa masuk" kurang lebih itulah yang di sampiakna beliau pada kami waktu itu.
Saya baru mengerti bahwa segala masalah yang timbul selama ini dalam hidup mausia semua karena ulah manusia itu sendiri yang tak mampu menjaga kesucian hati. Iri dengki kadang mampu meruntuhan keteguhan hati dan itulah awal mula syetan telah menanam benih-benih kebencian pada hati manusia. Itu bukanlah salah syetan, semua terjadi karena manusia sendii yang tak mampu enjaga kesucian hati.
Entah kekuatan apa yang dimiliki sang guru, belaiu mencoba menebak-nebak kejadian pahit yang pernah saya alami semasa hidup. Beliau menjabarkan tahun-tahun sulit saya menjalani hidup. Percaya tidak percaya tapi apa yang di katakannya memang lah benar. Kesulitan hidup saya berawal setelah ibunda tercinta wafat. Meninggalkan kami sekeluarga dan juga kenangan dan cita-cita saya. Hilangnya ibu saya darikehidupan dunia, ternyata telah membuat setengah dari nyawa saya hilang juga. Saya gamang dan serba bingung untuk menjalani hidup.
Tak terasa waktu semakin larut, dan kami pun masih asyik dengan obrolan hangat pembangun jiwa. Waktu itu, ada nasihat yang sangat luar biasa buat saya sebelum kami semua pergi ke pembaringan.
"JIka manusia ingin hidup damai, jangan ernah mencari apapun diluar dari dirinya. Cukup menjaga kecuain hati, balik ke dalam hatinya dan menyelami siapa sebenarnya dirinya tersebut. Hakikatnya, manusia di lahirkan ke dunia tidak lain adalah untuk mengenal dirinya sendiri."








0 komentar:
Posting Komentar