Mau tidak mau keputusan ini harus diambil. Ini memang keutusan yang berat, namun seberat apapun ini harus dilakukan. Bagi sebagian orang atau mungkin kebanyakan orang ini adalah keputusan yang sederahan atau mungkin terkesan di lebih-lebihkan tapi bagi saya in jelas keputusa yang berat. toh bukan kah setiap orang memilikikerumitannya sendiri-sendiri/
Keputusan ini sempat diambil oleh orang terdekat saya dulu, namun ternyata dia hanyalah bualan kosong. Yang dia lakukan tidak lebih hanya untuk menarik perhatian orang lain, menerima belas kasihan orang lain. hanya untuk di bujuk agar dia mau kembali lagi berjalan bersama menjalankan apa yang sudah di sepakati. Jujur saya santa kecewa sekarang, kalau saja saya tahu bahwa apa yang dilakukannya hanya untuk menarik perhatian orang lain saya malas untuk membujuknya. Bahkan sampai merendahkan diri saya hanya untuk memintanya untukbalik lagi bersama.
Keputusan yang akan saya ambil adalah benar, benar tidak akan saya tarik kata-kata ini seprti halnya apa yang sering saya lakukan dulu. Kalau pun romantisme persahabatan begitu sayang untuk di tinggalkan tapi tetap saja tidak ada yang lebih menyakitkan selain pengkhianatan.
Tidak ada toleransi atas pengkhianatan. Toh bukan kah dalam hidup ini yang di cari adalah kesetiaan?, seperti halnya baginda rasulAllah kepada Allah SWT yangs etia sampai akhir hayat?. lantas untuk apa mempertahankan segala hal jika didalamnya sudah terjadi pengkhianatan?
Menjaidi sangat teriris sembilu, ketika orang yang selama ini di bangga-banggakan, diagungkan bahkan selalu diprioritaskanadalam segala halnya kemudian dia mengatakan hal yang bagi saya tidak pantas untuk diucapkan. bayangkan saja, apapun yang diminta selalu saya berusaha untuk menyepakatinya, berusaha menyediakan sesuai kemampuan maksimal saja, namun ternyata saya justru di anggap manusia picik, manusia yang memiliki otak dangkal yang hanya bisa mengkritik.
ini bukan sebuah pembelaan, tai rasanya sebagai manusia yang memiliki usia jauh diatas mereka saya merasa menjadi wajar untuk diperlakukan lebih terhorat. DIperlakukan sebagaimana usia saya yang terpaut sekitar 4 tahun.
emang bukan menjadi sebuah keharusan jika usia menjamin tingkat kedewasaan, tapi bukan kah Agama pun tengah mengajarkan pada kita semua bahwa penghargaan bukan saja melihat tingkat kedewasaan. minimal menghargai sebagai sesama manusia. Kalaupun itu tidak bisa dilakukan, bukan kah Tuhan pun mengajarkan pada semua mansia untuk menghargai sesama makhluk ciptaan-Nya?.
inilah dilema hidup, keputusan yang harus saya ambil adalah membuang semua romantisme persahabatan. bagi saya hari ini yang lebih penting bukan lagi mereka melainkan egoisitas yanga da dalam diri. Hari ini, saya akan berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan pernah ada kata memaafkan bagi siapapun sampai ajal menjemput saya. Sampai tuhan tak lagi memberikan kesempatan saya untuk mengeluarakan kata-kata dari mulut.
Ini memang tak baik, saya sadar. tapi rasanya hanya inilah obat dari buah kesabaran selama ini.
Sudah cukup semua dilakukan dengan mengedapank kan hati nurani. Hari ini sepertinya jalan kekerasana menjadi sebuah solusi paling kongkrit untuk membasuhluka yang teramat dalam.
Selamat jalan sabahat tercinta, hari ini kita akan berbeda arah. Kita akan kembali menjadi manusia yang tak mengenal satu sama lain atau bahkan saling menusukan piasu.
Selamat jalan sabahat tercinta, hari ini kita akan berbeda arah. Kita akan kembali menjadi manusia yang tak mengenal satu sama lain atau bahkan saling menusukan piasu.
inilah janji







0 komentar:
Posting Komentar