Adiku kini kau telah besar, Mungkin tak kusadari itu, tapi kenyataan membuka mataku bahwa kau memang telah besar.
Ya, kini kau telah dewasa, Tumbuh menjadi dewa.
Aku kini tak sanggup lagi melihatmu, melihat dasar hatimu yang paling dalam.
Kau tahu adiku. Para Dewa itu congkak. Aku melihat itu dalam dirimu.
Adik ku, pergilah ke sungai yang dialiri darah wanita Langit.
Disana kau akan menemuakn kebijaksanan.
Dahulu, sang wanita langit pun sama dengan mu.
Dia adalah wanita desa yang di pinang sang SUltan yang kaya raya.
Tinggal di Istana megah dan kecongkakan pun mulai membinasakan butir-butir kebijaksanaan yang melekat dalam hati nya.
Kau tahu adiku, Wanita langit itupun hancur.
cangkir retak yang biasa dia pakai untuk menyajikan teh hangat untuk ku tak sempat dia bawa dalam Istana sang Sultan.
Istana itu hancur adik ku, Istana itu telah menjadi puing, dan Sang sultan telah lari tungang langgang membawa kecongkakannya.
Adiku yang diliputi amarah.
Pergilah secepatnya ke sungai darah.
Sungai yang kini menjadi harapan bagi kaum-kaum proletarian.
Sungai itu adalah darah sang wanita Langit. SUngai itu adalah nadi sang wanita langit.
Sungai itu adalah sumber kebijaksanaan bagi mereka yang diliputi amarah.
Tahu kah kau adiku, kini sang wanita langit terlihat begitu cantik dengan segala kebijaksanaan.
cepat-cepatlah kau lari. Cepat-cepatlah kau sambangi sungai itu. Dan kembalilah menjadi adiku yang penuh kebijaksanaan.
Adiku, aku rindu kau yang dulu
yang tak memelihara kecongkakan dalam hatimu.
Adiku, menjadi dewa memang impian banyak manusia
namun ketika kau tak bisa mengendalikan kesaktian mu
maka percayalah kecongkakan akan mampu mengalahkan kebijaksanaan yang tertanam dalam hatimu.
Pergilah ke sungai darah segera adiku, jadilah kau raja bagi para kaum proletarian.
Singkirkan semua ego yang melekat dalam dirimu, kecongkakan yang kini merengggut benih kebijaksanaan.
Adiku, aku mencintamu dengan penuh kebijaksanaan.







0 komentar:
Posting Komentar