Jumat, 24 Mei 2013

Mereka Hadir Kembali

Lelah mungkin sempat saya rasakan kemarin hari, bersama teman saya pergi untuk menemui sang donatur. Akhir-akhir ini saya memang di sibukan dengan project yang lumayan besar. Ini bukan project yang menghasilkan uang tapi lebih kepada pengalaman. Saya tidak tahu sampai kapan saya hanya mengerjakan project untuk menmbah pengalaman, mencari uang, mungkin nanti. Pasti ada saatnya.
Ini adalah bentuk pengabdian, kalau pun bahasanya terlalu berat cuma saya bingung menggantinya dengan apa. Ini memang pengabdian atas apa yang telah saya dapatkan dari pendahulu-pendahulu saya.
Masuk dunia kampus dan bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya belajar banyak tentang segala hal termasuk bagaimana menjadi manusia bermanfaat. Saya ingat perkataan seorang wanita yang menggandeng tangan saya pertama kali di kampus, "De, orang besar adalah mereka yang mampu membuat orang lain menjadi besar". Perkataan itulah yang sampai sekarang selalu menjadi rel saya untuk melakukan sesuatu.
Dengan menumpang bus jurusan merak, saya dan teman bergegas menuju pelabuhan merak, Celana Jeans dan kemeja ala eksekutif muda pun kami persiapkan demi image. Image memang tak bisa di tolak bahwa itu penting. Tujuannya hanya satu, menemui donatur yang sebenarnya sudah kami kenal. Yang satu adlalah pendahulu saya dan satunya lagi adalah wanita yang saya bimbing, sebut saja begitu. Intinya kedua nya adalah orang yang dilahirkan dari rumah yang sama yaitu jurusan komunikasi Untirta.
Keringat boleh mengucur, rasa haus boleh saja menjalar di keronkongan, tapi semangat tentu berkobar lebh dari itu semua. Semangat kami untuk bersilaturahmi dengan sang donatur itupun tak lepas dari keinginan akan suksesnya project nya sedang kami jalankan. Kami di temui oleh sang kaka angkatan. Ah, beliau ternyata sudah luar biasa, kepala humas di salah satu perusahaan BUMN. Saya pikir kami akan duduk-dudk kaku dengan keringat yang semakin banjir, ternyata itu di luar apa yang kami bayangkan. Kami di sambut dengan hangat, bahkan kesalahan besar yang kami lakukan hanya di anggap lelucon penuh tawa. 
Saling bertukar kabar dan infomasi tentang project yang akan di jalankan, kami pun sesekali mengenang dunia kampus. Memang, kami tak hidup dalam masa yang sama, saya masuk kampus di tahun 2007, teman yang sedari tadi membuntuti pun masuk di tahun 2011 sedangkan abang kami yang sekarang menjadi kepala humas BUMN itu masuk di tahun 2002. Jarak angkatan boleh saja jauh, tapi rasa bangga akan kampus membuat kami lepas menceritakan masa-masa indah selama di bangku kuliah. Seerti ada sebuah koneksi yang saya sendiri bingung melukiskannya, yang pasti kami begitu nyaman dengan tawa renyah sembari sesekali meminum kopi yang di sediakan si abang office boy.
Akhirnya, si wanita yang kami tunggu-tunggupun datang, sekretaris GM (General Manager). Dia bukan orang yang asng bagi saya. 1 tahun lebih kami bekerja sama ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Dia sudah lulus satu tahun yang lalu dan dengan keahlian yang dia pelajai selama kami bekerjasama itulah akhirnya posisi seketaris pun dengan mudah di dapatnya.
Keputusan sudah di buat, project poposal yang kami ajukan ternyata di setujui oleh yang punya perusahaan. Memang tidak banyak tapi lumayan lah untuk mengbati rasa lelah kami berdua. Tak beda jauh dengan sang Kepala Humas, Sekretaris cantik ini pun ramah bebincang dengan kami. Bahkan salam hangat dan cium tangan dari sang sekretaris sempat dilakukan untuk saya.
Ada yang membuat perasaan saya bangga saat itu, saat kepala humas menjelaskan bahwa sebelum melakukan kontrkak kesepakatan, perusahaan harus melakukan analisis swot terlebih dahulu terhadap proposal project yang sedang kami jalankan untuk menjadi bahan evaluasi ke depan. Namun di sela-sela penjelasan sang kepala humas tersebut, sekretaris cantik itupun menyela dengan kalimat yang sangat halus "tenang pak, kalau bang hedi pasti sudah khatam masalah seperti itu, saya juga kan banyak belajar dari dia". Saya benar-benar bangga ketika kalimat itu di ucapkan. Ini bukan soal saya merasa hebat di sanjung tapi karena ada pengakuan yang jelas dari sang adik yang saya bimbing dulu. Dia ternyata cukup hafal dengan kebiasaan saya bahwa dalam melakukan apapun analisis swot harus menjadi patokan. 
Denag hati terbuka saya menawarkan diri untuk membantu melakukan analisis swot itu, itung-itung untuk mempercepat proses cairnya anggaran yang kami ajukan saja. Ya, tak ada salahnya juga mencoba kemampuan.
Akhirnya setelah panjang lebar, sekretaris cantik itu pun meninggalkan kami karena harus sesegera mungkin menuliskan laoran untuk proses pencairan anggaran, memang tak bisa hari itu juga, tapi dia menjanjikan minggu depan sudah ada di tangan kami, menyusul kamipun ikut pamit kepada kepala humas. Sebenarnya saya masih mau berlama-lama disana, namun sayangnya ada tamu yang lebih penting yang harus di urusi.
Hari ini, setidaknya saya dan teman saya dapat sebuah pengalaman baru, ilmu baru dan tentunya sensai baru menhadapi orang-oang penting dalam perusahaan.
Ada sebuah cita-cita yang menggantung kuat dalam pikiran saya, semoga ada juga dalam pikiran teman saya. Jika orang-orang yang saya temui barusan tadi saja bisa menjadi orang-orang hebat, kenapa saya tidak. Toh bukankah saya punya pengalamn yang lebih banyak ketimbang mereka dulu?.
Ada kalimat menarik yang sampai sekarang masih saya ingat "dunia kerja bukan lah untuk mereka yang cerdas, tapi mereka yang mampu memahami rekan kerjanya, mampu beradaptasi, jujur dan disiplin" kata kepala humas

0 komentar:

Posting Komentar