Sabtu, 18 Mei 2013

Sendiri, Ini Bukan Kutukan

Ini bukan kutukan, lebih dari 5 Tahun saya menggunakan nama aku jejaring sosial dengan nama belakang "Sendiri". Entah apa yang dulu membuat saya begitu tertarik dengan nama "Sendiri" yang pasti ada sebuah ketenangan ketika saya menggunakan nama itu. Mungkin bagi saya pribadi hidup pada hakikatnya adalah sendiri mulai kita di lahirkan sampai Tuhan tak lagi memberikan kesempatan untuk tinggal di dunia.
Saya percaya bahwa ini bukan lah kutukan karena saya terlalu bahagia menggunakan nama "sendiri", hingga akhirnya sampai hari ini pun saya masih tetap sendiri. Ya, ini lagi-lagi bicara pasangan hidup. Bagi sebagian orang mungkin usia saya sudahlah cukup untuk mendapatkan pasangan hidup, hidup dalam bingkai rumah tangga bahagia bersama anak-anak yang lucu. Tapi Entah saya justru tak pernah terpikir sampai sejauh itu. Pikiran itu memang sempat muncul dulu, tapi sekarang saya justru asik dengan dunia ke"sendiri" an saya.
Memang, sesekali saya merasa iri jika melihat orang yang menggandeng pasangannya atau hanya sekedar berbincang lewat telepon. Rasanya seperti dunia hanya milik mereka berdua saja. Apa mungkin itu yang saya takutkan?, ketika manusia menyukai sesuatu maka sesuatu yang lainnya akan di anggap tidak ada?. Lagi-lagi ini pembelaan.
Satu tahun yang lalu ada seorang gadis manis datang di kehidupan saya. Katanya dia tertarik dengan bahasa-bahasa yang saya tuangkai lewat jejaring sosial, itulah yang sempat dia katakan pada saya. Kalimat-kalimat aduhai itu sebenarnya bukan buat dirinya, tapi buat wanita lain yang saya jumpai saat berkunjung ke rumah sahabat yang di timpa musibah. Tuhan sungguh maha bijaksana, dalam musibah saja selalu ada himkah. 
Wanita itupun tahu bahwa bahasa aduhai itu bukan buat dirinya, tapi tetap saja dia kagum dengan kelebihanku mengolah kata, ah bagiku itu bukanlah kelebihan. Pada akhirnya dia pun datang ke kota dimana aku tinggal sampai sekarang. Ikut menyelami dunia ku dan berbaur bersama teman-teman yang hidup dalam panasnya aspal jalanan.
Saya sungguh tertarik dengan perjuangannya, tapi entah kenapa saya justru lebih nyaman menjadikannya sebagai teman yang bisa membahagiakan. Saya ingat pepatah orang pintar bahwa kebahagiaan yang paling nyata itu pada saat kita sedang mendekati orang yang di sayang, setelah "dapat" justru seperti ada perasaan bahagia yang hilang. Itulah kenapa saya tak bisa jika harus kemudian menjalin sebuah komitmen "pacaran". Entah apa alasannya, saya sendiri tak bisa mengungkapkan, saya seolah nyaman dengan kesendirian dan hilir mudik manusia yang datang di kehidupan saya sendiri, walaupun mereka hanya datang lalu pergi lagi.
Tak berbagi kabar, si Wanita lugu itupun akhirnya menyerah pada keadaan, mencak-mencak karena merasa apa yang menjadi pengorbanannya tak berbalas komitmen pacaran dari saya. Hem, lagi-lagi status menjadi hal yang penting bagi wanita.
Lama setelah itu saya memutuskan untuk hidup dalam ke-sendiri-an. Hilir mudik wanita dan manusia seluruhnya hanya saya jadikan sebagai pelengkap dalam menapaki jengkal kehidupan. Saya sudah cukup senang ketika mereka ada ketika saya sakit ataupun saya senang tanpa harus menyandang status "pacaran". Tapi kadang saya juga merasa kesepian di saat tak ada seorangpun manusia yang bisa menemani saya d saat-saat sulit. Semua orang memang punya kesibukannya sendiri-sendiri.
Hari ini, usia saya bertambah, banyak orang yang mulai menanyakan apakah saya sudah memiliki asa untuk mempersunting gadis dan berumah tangga dengannya?. Bahkan ada yang menyangsikan ke-lelaki-an saya. Sungguh lucu. Jujur saya masih belum tahu. Saya masih belum memeiliki apa-apa, materi saya masih nol, apalagi jasmani, kosong melompong.
Lagi-lagi bagi saya mempersunting seorang wanita bukan perkara mudah, bukan hanya menjadi urusan saya dan si wanita itu, tapi lebih kepada mempersatukan 2 (dua) keluarga.
Dan akhirnya, saya hanya bisa berkata bahwa Biarkanlah hidup sesuai kehendak Tuhan, Saya percaya bahwa rencana Tuhan lebih sempuran ketimbang apa yang di rencanakan manusia.
Bagiku hidup biarkan lah menjadi sendiri sampai pada masanya Tuhan menitipkan orang kepercayaannya untuk berbagi kasih dan mengasihi. Toh bukan kah Tuhan maha mengetahui apa yang terbaik untuk manusia? Toh bukankah pada masanya Tuhan akan menitipkan sesuatu jika kita sudah di rasa mampu bertanggung jawab atas titipan itu?
Hari ini, saya hanya ingin meningkatkan kualitas diri, mempertajam intuisi guna mampu menapaki jejak-jejak kehidupan. Dan tentunya agar saya siap menerima titipan indah Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar