Hari ini saya sudah meyakinkan diri untuk menonaktifkan semua akun jejaring sosial yang saya miliki. Alasan ini bukan tidak berdasar, namun semua berangkat dari kekecewaan yang amat dalam baik terhadap kehidupan di jejaring sosial maupun di kehidupan nyata.
Sehari sebelum saya mulai meyakini diri untuk menonaktifkan jejaring sosial, saya mendapatkan perlakuan yang luar biasa menyakitkan hati. Mungkin bagi sebagian orang itu tidak terlalu besar, tapi bagi saya ini adalah masalah besar dalam hidup saya.
Saya diusir dari tempat tinggal sahabat yang sekaligus sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Tentu kenyataan pahit ini harus saya telan mentah-mentah. Lama menjalin silaturahmi ternyata harus mendapatkan pengusiran yang menyakitkan.
Sedari awal saya sudah mencoba untuk sabar dan terus sabar dalam menghadapai semua perlakuan yang tidak mengenakan dalam hidup saya. Di hindari hanya karena di angga Gay bagi saya adalah hinaan yang luar biasa, apalagi hal itu tidak saya ketahui, saya baru mengetahui setelah saya benar-benar menanyakannya dengan serius kenapa dia menghindar selama ini.
Alasan demi alasan yang di ungkapkan tentu membuat saya sakit hati, tapi lagi-lagi saya mencoba untuk sabar dan menerima semuanya dengan besar hati. Itu semua saya lakukan karena saya masih menganggap dia adalah sahabat dan juga adik terkasih.
Malam tadi adalah malam dimana saya akan meyakinkan diri untuk mulai antipati terhadap siapapun, di dunia nyata maupun di dunia maya.
Bagi saya hidup tak lebih dari sendiri, tanpa siapapun termasuk keluarga.
Saya meyakinkan diri untuk mengasingkan diri, menjalani hidup tanpa kehidupan orang-orang sekitar.
Bismillah atas nama Tuhan yang Maha Mengetahui segalannya, saya bersimpuh di hadapannya dan memohon dengan sungguh-sungguh bahwa saya siap menerima konsekuensi apapun dari keputusan saya.
Semoga Tuhan mau membalaskan kesakit hatian ku dengan caranya sendiri
Sehari sebelum saya mulai meyakini diri untuk menonaktifkan jejaring sosial, saya mendapatkan perlakuan yang luar biasa menyakitkan hati. Mungkin bagi sebagian orang itu tidak terlalu besar, tapi bagi saya ini adalah masalah besar dalam hidup saya.
Saya diusir dari tempat tinggal sahabat yang sekaligus sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Tentu kenyataan pahit ini harus saya telan mentah-mentah. Lama menjalin silaturahmi ternyata harus mendapatkan pengusiran yang menyakitkan.
Sedari awal saya sudah mencoba untuk sabar dan terus sabar dalam menghadapai semua perlakuan yang tidak mengenakan dalam hidup saya. Di hindari hanya karena di angga Gay bagi saya adalah hinaan yang luar biasa, apalagi hal itu tidak saya ketahui, saya baru mengetahui setelah saya benar-benar menanyakannya dengan serius kenapa dia menghindar selama ini.
Alasan demi alasan yang di ungkapkan tentu membuat saya sakit hati, tapi lagi-lagi saya mencoba untuk sabar dan menerima semuanya dengan besar hati. Itu semua saya lakukan karena saya masih menganggap dia adalah sahabat dan juga adik terkasih.
Malam tadi adalah malam dimana saya akan meyakinkan diri untuk mulai antipati terhadap siapapun, di dunia nyata maupun di dunia maya.
Bagi saya hidup tak lebih dari sendiri, tanpa siapapun termasuk keluarga.
Saya meyakinkan diri untuk mengasingkan diri, menjalani hidup tanpa kehidupan orang-orang sekitar.
Bismillah atas nama Tuhan yang Maha Mengetahui segalannya, saya bersimpuh di hadapannya dan memohon dengan sungguh-sungguh bahwa saya siap menerima konsekuensi apapun dari keputusan saya.
Semoga Tuhan mau membalaskan kesakit hatian ku dengan caranya sendiri







0 komentar:
Posting Komentar