Jumat, 14 Juni 2013

Alangkah Lucunya Memutus Silaturahmi

Orang bijak mengatakan bahwa menyambung tali silaturahmi tidak lain adalah untuk memperpanjang umur. Rasanya nasihat itu demikian adanya. Kalau dulu saya sempat memikirkan apa korelasi yang nyata antara silaturahmi dan memperpanjang umur?, namun makin kesini saya semakin paham, bahwa manusia memang butuh manusia lainnya untuk tetap hidup di dunia ini. Coba saja kalau kita tak mampu menjaga silaturahmi dengan orang lain?, jangan harap ada orang yang mau menolong saat kelaparan, jangan heran juga kalau cemooh dan kata-kata kotor atau mungkin keadaan mengancam nyawa sring kita dapatkan.
Aneh bin Ajaib, bahwa kadang banyak manusia yang mengumbar seribu alasan pembenaran hanya untuk memutus tali silaturahmi, rugi? Jelas, memutus silaturahmi adalah kerugian terbesar dalam hidup. Ingat, manusia adalah Zoon Politicon begitulah sang maestro filsafat bilang, Aristoteles. Manusia adalah makhluk sosial yang keberadaannya tidak akan pernah bisa di lepaskan dari manusia lainnya. Dengan memutus tali silaturahmi, apapun itu alasan pembenarannya, apapun caranya apapun keadaannya, hanyalah dimiliki oleh orang-orang dungu. Orang-orang yang tidak mau bebagi dan di beri oleh dan dengan sesama.
Saya punya cerita yang unik, lucu dan menggelitik, setidaknya ini buat saya.
Seorang kawan, lebih tepatnya adik saya sedang ngambek, sedang marah dan tak mau lagi silaturahmi dengan saya. Alasannya?, hanya karena ingin berkembang dan tidak ketergantungan. Lucu, hanya karena ingin berkembang dan takut ketergantungan kita malah melepaskan diri dari track yang sudah di bangun. Dengan cara pembelaan apapun, jelas bahwa sikap seperti itu adlah sikap orang dungu yang menyalahkan oran lain dan keadaan atas ketidakmampuan untuk berkembang. Oya, adik saya banyak dan mereka bisa berkembang sebagai mana kebanyakan orang, lantas ingin berkembang seperti apa?, hanya karena iri dengan orang lain yang sudah lebih maju?. dan kemudian mencari segala macam pembenaran hanya karena ingin berkembang?
Berkembanglah sesuai rotasi hidup, berkembanglah sesuai hukum alam. Bahwa ketika manusia ingin berkembang yang dilakukan bukan hanya diam, tapi bangun..bangun..bangun.
Bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang di beri akal ingin berkembang tapi tak ada yang kita lakukan sama sekali?, bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang lebih sempuran dari pada makhluk lain ingin berkembang tapi hanya diam seperti kucing hendak buang air?
Saya ingat pepatah seorang ulama bahwa jika manusia ingin berkembang maka satu hal yang perlu di lakukan, yaitu HIJRAH. Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tapi juga perpindahan pola hidup. Rubahlah pola hidup, dan jadikan pola hidup yang dipakai memang panas untuk mengucapkan "SAYA INGIN BERKEMBANG"
Alhasil, adiku yang baik hatinya itu semakin lucu, komunikasi sudah enggan. Bahkan kalau saya datang untuk menemuinya saja, buru-buru dia banting pintu dan menguncinya dari dalam, ah semakin telihat saja bahwa dia justru menjadi lebih layu sebelum berkembang.
Banyak kejadian lucu yang saya alami dengan adik saya itu, lucu dengan sikap dia yang semakin hari jauh dari kejujuran, memang kebohongan itu cuma saya saja. Lagi-lagi itu dilakukan karena dia ingin berkembang. hargai saja, kalaupun saya bingung harus menghargai sikap bodoh itu seperti apa. Satu sebenarnya sikap yang tak jelas, jika memang takut ketergantungan dengan saya, kenapa tidak takut ketergantungan dengan orang lain selain saya?, toh sampai hari ini pun dia masih ketergantungan dengan orang lain. Pembenaran-pembenaran bodoh itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
Akibatnya jelas, bahwa ketika segala macam pembenaran dilakuakan hanya untuk memutus tali silaturahmi,  maka benih-benih kebohongan, kebencian akan semakin tumbuh. Berkembang memang, tapi bukan justru yang berkembang adalah kebodohan dan kedunguan. Mungkin, adiku yang baik hati itu lupa bahwa kita hidup bukan utntuk diri kita saja, kita hidup tidak hanya ada rasa senang tapi ada rasa susah. Hari ini boleh saja kita senang, tapi masih bisa kah besok kita tertawa?

0 komentar:

Posting Komentar