Saya begitu mencintainya, seperti akar yang enggan terpisah dari batang pohon, membuatnya tetap kokoh dan menghadang terpaan angin. Entah sampai kapan cinta yang begitu dalam ini tertanam, mungkin lusa sudah berubah menjadi hal lain. Sama halnya dengan akar, kadang musim kemarau membuatnya tak tahan terus-menerus men suply air untuk kekasih yang dicintainya, pohon. Itulah saya, yang mungkin saya masih bisa bertahan sampai kemarau panjang yang dapat merenggut cinta yang dalam ini.
Saya mencintainya dengan sederhana, bukan bermaksud untuk mencopy apa yang di sampaiakan oleh sang penyair terdahulu, tapi memang begitulah adanya bahwa saya mencintainya dengan sederhana. Dengan melihat senyumnya saja saya sudah berbunga hati. Apalagi kalau berbalas kata yang begitu panjang sampai pada sebuah kesimpulan kami telah melakukan sebuah percintaan erotis dalam percakapan.
Saya tidak pernah mau ditanya kapan, kenapa atau bagaimana saya mencintainya, karena bagi saya cinta bukanlah sebuah pertanyaan melainkan jawaban atas kegelisahan hati. Semua kegelisahan, kegundahan dan rasa was-was seolah sirna ketika senyum ranum mengembang dari bibirnya, itulah cinta yang sederhana.
Mungkin banyak orang bertanya kenapa cinta begitu menggugah rasa, menghilangkan perasaan sedih dan bisa juga mendatangkannya. Melenyapkan perasaan sakit dan kadang bisa mendatangkannya. Cinta jika dimaknai secara sederhana sebenarnya sama saja dengan rasa yang lain, memiliki dua sisi yang kadang dapat mendatangkan dan bisa jadi menghilangkan.
Saya sendiri tidak tahu kapan tepatnya saya mulai mencintai dia, karena sekali lagi bagi saya cinta tak perlu ditanya kapan, yang jelas hari ini dan mungkin sampai kemarau datang saya masih bisa memberikan cinta yang sederhana ini, mensuply air pada pohon yang kehausan.
Tidak pernah terbayangkan dalam pikiran saya bahwa saya bisa mencintai nya sesederhana ini, begitu sederhana dan kadang menguras air mata.
Ah, mungkin diluar sana orang akan bilang bahwa saya terlalu cengeng untuk seorang laki-laki. Saya sendiri jadi bingung memaknai itu semua. Toh bukan kah cinta memang begitu adanya, membuat si kuat menjadi lemah, dan yang lemah seketika mampu menjadi layaknya super hero. Cinta bisa membuat cengeng tapi dengan seketika cinta juga akan mampu membuat seseorang begitu sabar, tegar dan siap menghadapi segala macam peliknya hidup.
Saya tak peduli lagi apa yang orang bincangkan tentang kelelakian saya, saya terlalu cengeng untuk seorang ketua sebuah organisasi nasioanl. Sekali lagi, ini sama sekali tidak ada hubungannya. Saya hanyalah manusia yang sama dengan yang lainnya, memiliki rasa, memiliki cinta dan memiliki Tuhan terus mengawasi. Bagi saya hidup hanyalah bagaimana kita memaknai cinta itu sendiri. Hidup adalah menghidupkan cinta, medatangkan kedamaian dan meredam rasa amarah yang kadang menjadi batu kerikil yang membuat seseorang berpindah trak kehidupan.
Inilah cinta, sebuah kata sederhana.
Aku mencintai mu dengan sederhana, hanya ingin mengokohkan pohon dengar akar yang suatu saat mati dalam musim kemarau panjang.
Aku mencintai mu dengan sederhana, hanya ingin mengokohkan pohon dengar akar yang suatu saat mati dalam musim kemarau panjang.








0 komentar:
Posting Komentar