Kamis, 30 Mei 2013

Cinta bukan lah payudara

Banyak dari sahabat-sahabat saya yang memiliki pasangan, ya anggap saja itu adalah pasangan hidup mereka. Minimal selama adanya seseorang di sampingnya, mungkin mereka merasa bisa menikmati hidup. kalau tidak ada? sebenarnya sama saja, toh hidup terus berlanjut selama Tuhan masih mengizinkan.
Tidak sedikit dari mereka yang meluapkan sepenuh cinta pada pasangannya. Jangan pernah bertanya cinta yang seperti apa, karena saya juga bingung makna cinta itu sendiri. Semua orang berhak menginterpretasikan cinta sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Asa pun terus di pupuk sampai mendekati puncak himalaya, mungkin setinggi itu. mulai dari sama-sama bermimpi akan berakhir di pelaminan, tak akan meninggalkan satu sama lain sampai ajal yang memisahkan sampai bermimpi memiliki anak-anak yang lucu. Ah malah terlihat lucu.
Ini zama modern, wajar kalau ada perempuan dan laki-laki harus pacaran, harus ciuman bibir, harus tidur berdua, Ah, menjijikan. Ya, bisa jadi betul kata teman saya bahwa pikiran saya memang kolot, saya kampungan. Saya tak bisa berpikir seperti kebanyakan orang kota, orang-orang yang di luar batas kewajaran. Memilih wanita yang di kasihi lalu hidup dalam asa yang melambung tinggi, sekalinya asa itu tertiup angin ketidakpercayaan, semua cinta ikut terbang, sayang berubah menjad kata paling menjijikan, bahkan untuk sekedar saling sapa saja rasanya ingin muntah.
Mungkin itulah pikiran orang-orang kota, begitu gampang menginterpretasikan cinta. Ketika nafsu bergelora melihat wajah cantik, melihat pantat yang aduhai, melihat payudara bak semangka, maka cinta telah muncul dalam hatinya. Sungguh menjijikan.
Setiap orang memang berhak menginterpretasikan cinta dengan bentuk apapun, tapi tidakah menjijikannya orang-orang yang hanya melihat cinta dari pantat dan payudara?. Cinta itu bersih, cinta itu adalah naluri. Cinta tidak pernah dan tidak akan bisa di lebur dengan payudara, cinta tak bisa di lebur dengan kuluman manis bibir si gadis. Cinta dekat dengan hati, dekat dengan Tuhan.
Pikiran saya memang kolot, saya masih belum bisa menerima jika cinta di sejajarkan dengan hal material. Material mungkin bisa jadi penghantar, tapi tidak kah bisa kah memilih material yang lebih baik ketimbang pantat dan payudara?.
Saya jadi ingat bagaimana kebanyakan ustad berkilah soal poligami. "Ini sunah rosul, rosul saja istrinya empat. Bukan kah di bolehkan kalau siap untuk adil?". Betul, itu memang sunah rosul, tapi bukan kah masih banyak sunah rasul yang lain yang bisa dicontoh?, kenapa selalu mau enaknya saja?,
Kenapa juga dengan begitu mudahnya memaknai cinta berdekatan dengan hawa nafsu?. Iya, mungkin benar bahwa cinta dan hawa nafsu hanya di pisahkan oleh kulit ari, dan yang percaya kalimat itu adalah orang TOLOL. Sekali lagi cinta dan nafsu itu seperti langit dan bumi, sejauh kutub utara ke selatan. Ke dua nya jelas berbeda.
Saya juga bukan orang yang bersih, orang suci seperti para rabi. Saya juga manusia biasa yang memiliki nafsu, tapi bukankah kita di beri akal oleh Tuhan untuk memilah mana yang namanya nafsu ddan mana itu cinta?, Kalau semua dileburkan, maka jangan heran kalau benar dan salah saja sulit di bedakan lagi. Ketika cinta dan nafsu sudah dilebur, maka salah akan jadi benar, dan benar hanyalah pembenaran.
Ah sudahlah, lama-lama saya mau muntah melihat tingkah manusia-manusia kota yang tolol. Silahkan kalian berpikir dan bertindak seseuai apa yang kalian mau. Silahkan kalian sejajarkan cinta dengan payudara, samakan cinta dengan pantat montok. Akan ada masanya kalian akan di penggal oleh tindakan kalian sendiri.

Jumat, 24 Mei 2013

Mereka Hadir Kembali

Lelah mungkin sempat saya rasakan kemarin hari, bersama teman saya pergi untuk menemui sang donatur. Akhir-akhir ini saya memang di sibukan dengan project yang lumayan besar. Ini bukan project yang menghasilkan uang tapi lebih kepada pengalaman. Saya tidak tahu sampai kapan saya hanya mengerjakan project untuk menmbah pengalaman, mencari uang, mungkin nanti. Pasti ada saatnya.
Ini adalah bentuk pengabdian, kalau pun bahasanya terlalu berat cuma saya bingung menggantinya dengan apa. Ini memang pengabdian atas apa yang telah saya dapatkan dari pendahulu-pendahulu saya.
Masuk dunia kampus dan bertemu dengan orang-orang hebat membuat saya belajar banyak tentang segala hal termasuk bagaimana menjadi manusia bermanfaat. Saya ingat perkataan seorang wanita yang menggandeng tangan saya pertama kali di kampus, "De, orang besar adalah mereka yang mampu membuat orang lain menjadi besar". Perkataan itulah yang sampai sekarang selalu menjadi rel saya untuk melakukan sesuatu.
Dengan menumpang bus jurusan merak, saya dan teman bergegas menuju pelabuhan merak, Celana Jeans dan kemeja ala eksekutif muda pun kami persiapkan demi image. Image memang tak bisa di tolak bahwa itu penting. Tujuannya hanya satu, menemui donatur yang sebenarnya sudah kami kenal. Yang satu adlalah pendahulu saya dan satunya lagi adalah wanita yang saya bimbing, sebut saja begitu. Intinya kedua nya adalah orang yang dilahirkan dari rumah yang sama yaitu jurusan komunikasi Untirta.
Keringat boleh mengucur, rasa haus boleh saja menjalar di keronkongan, tapi semangat tentu berkobar lebh dari itu semua. Semangat kami untuk bersilaturahmi dengan sang donatur itupun tak lepas dari keinginan akan suksesnya project nya sedang kami jalankan. Kami di temui oleh sang kaka angkatan. Ah, beliau ternyata sudah luar biasa, kepala humas di salah satu perusahaan BUMN. Saya pikir kami akan duduk-dudk kaku dengan keringat yang semakin banjir, ternyata itu di luar apa yang kami bayangkan. Kami di sambut dengan hangat, bahkan kesalahan besar yang kami lakukan hanya di anggap lelucon penuh tawa. 
Saling bertukar kabar dan infomasi tentang project yang akan di jalankan, kami pun sesekali mengenang dunia kampus. Memang, kami tak hidup dalam masa yang sama, saya masuk kampus di tahun 2007, teman yang sedari tadi membuntuti pun masuk di tahun 2011 sedangkan abang kami yang sekarang menjadi kepala humas BUMN itu masuk di tahun 2002. Jarak angkatan boleh saja jauh, tapi rasa bangga akan kampus membuat kami lepas menceritakan masa-masa indah selama di bangku kuliah. Seerti ada sebuah koneksi yang saya sendiri bingung melukiskannya, yang pasti kami begitu nyaman dengan tawa renyah sembari sesekali meminum kopi yang di sediakan si abang office boy.
Akhirnya, si wanita yang kami tunggu-tunggupun datang, sekretaris GM (General Manager). Dia bukan orang yang asng bagi saya. 1 tahun lebih kami bekerja sama ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Dia sudah lulus satu tahun yang lalu dan dengan keahlian yang dia pelajai selama kami bekerjasama itulah akhirnya posisi seketaris pun dengan mudah di dapatnya.
Keputusan sudah di buat, project poposal yang kami ajukan ternyata di setujui oleh yang punya perusahaan. Memang tidak banyak tapi lumayan lah untuk mengbati rasa lelah kami berdua. Tak beda jauh dengan sang Kepala Humas, Sekretaris cantik ini pun ramah bebincang dengan kami. Bahkan salam hangat dan cium tangan dari sang sekretaris sempat dilakukan untuk saya.
Ada yang membuat perasaan saya bangga saat itu, saat kepala humas menjelaskan bahwa sebelum melakukan kontrkak kesepakatan, perusahaan harus melakukan analisis swot terlebih dahulu terhadap proposal project yang sedang kami jalankan untuk menjadi bahan evaluasi ke depan. Namun di sela-sela penjelasan sang kepala humas tersebut, sekretaris cantik itupun menyela dengan kalimat yang sangat halus "tenang pak, kalau bang hedi pasti sudah khatam masalah seperti itu, saya juga kan banyak belajar dari dia". Saya benar-benar bangga ketika kalimat itu di ucapkan. Ini bukan soal saya merasa hebat di sanjung tapi karena ada pengakuan yang jelas dari sang adik yang saya bimbing dulu. Dia ternyata cukup hafal dengan kebiasaan saya bahwa dalam melakukan apapun analisis swot harus menjadi patokan. 
Denag hati terbuka saya menawarkan diri untuk membantu melakukan analisis swot itu, itung-itung untuk mempercepat proses cairnya anggaran yang kami ajukan saja. Ya, tak ada salahnya juga mencoba kemampuan.
Akhirnya setelah panjang lebar, sekretaris cantik itu pun meninggalkan kami karena harus sesegera mungkin menuliskan laoran untuk proses pencairan anggaran, memang tak bisa hari itu juga, tapi dia menjanjikan minggu depan sudah ada di tangan kami, menyusul kamipun ikut pamit kepada kepala humas. Sebenarnya saya masih mau berlama-lama disana, namun sayangnya ada tamu yang lebih penting yang harus di urusi.
Hari ini, setidaknya saya dan teman saya dapat sebuah pengalaman baru, ilmu baru dan tentunya sensai baru menhadapi orang-oang penting dalam perusahaan.
Ada sebuah cita-cita yang menggantung kuat dalam pikiran saya, semoga ada juga dalam pikiran teman saya. Jika orang-orang yang saya temui barusan tadi saja bisa menjadi orang-orang hebat, kenapa saya tidak. Toh bukankah saya punya pengalamn yang lebih banyak ketimbang mereka dulu?.
Ada kalimat menarik yang sampai sekarang masih saya ingat "dunia kerja bukan lah untuk mereka yang cerdas, tapi mereka yang mampu memahami rekan kerjanya, mampu beradaptasi, jujur dan disiplin" kata kepala humas

Sabtu, 18 Mei 2013

Sendiri, Ini Bukan Kutukan

Ini bukan kutukan, lebih dari 5 Tahun saya menggunakan nama aku jejaring sosial dengan nama belakang "Sendiri". Entah apa yang dulu membuat saya begitu tertarik dengan nama "Sendiri" yang pasti ada sebuah ketenangan ketika saya menggunakan nama itu. Mungkin bagi saya pribadi hidup pada hakikatnya adalah sendiri mulai kita di lahirkan sampai Tuhan tak lagi memberikan kesempatan untuk tinggal di dunia.
Saya percaya bahwa ini bukan lah kutukan karena saya terlalu bahagia menggunakan nama "sendiri", hingga akhirnya sampai hari ini pun saya masih tetap sendiri. Ya, ini lagi-lagi bicara pasangan hidup. Bagi sebagian orang mungkin usia saya sudahlah cukup untuk mendapatkan pasangan hidup, hidup dalam bingkai rumah tangga bahagia bersama anak-anak yang lucu. Tapi Entah saya justru tak pernah terpikir sampai sejauh itu. Pikiran itu memang sempat muncul dulu, tapi sekarang saya justru asik dengan dunia ke"sendiri" an saya.
Memang, sesekali saya merasa iri jika melihat orang yang menggandeng pasangannya atau hanya sekedar berbincang lewat telepon. Rasanya seperti dunia hanya milik mereka berdua saja. Apa mungkin itu yang saya takutkan?, ketika manusia menyukai sesuatu maka sesuatu yang lainnya akan di anggap tidak ada?. Lagi-lagi ini pembelaan.
Satu tahun yang lalu ada seorang gadis manis datang di kehidupan saya. Katanya dia tertarik dengan bahasa-bahasa yang saya tuangkai lewat jejaring sosial, itulah yang sempat dia katakan pada saya. Kalimat-kalimat aduhai itu sebenarnya bukan buat dirinya, tapi buat wanita lain yang saya jumpai saat berkunjung ke rumah sahabat yang di timpa musibah. Tuhan sungguh maha bijaksana, dalam musibah saja selalu ada himkah. 
Wanita itupun tahu bahwa bahasa aduhai itu bukan buat dirinya, tapi tetap saja dia kagum dengan kelebihanku mengolah kata, ah bagiku itu bukanlah kelebihan. Pada akhirnya dia pun datang ke kota dimana aku tinggal sampai sekarang. Ikut menyelami dunia ku dan berbaur bersama teman-teman yang hidup dalam panasnya aspal jalanan.
Saya sungguh tertarik dengan perjuangannya, tapi entah kenapa saya justru lebih nyaman menjadikannya sebagai teman yang bisa membahagiakan. Saya ingat pepatah orang pintar bahwa kebahagiaan yang paling nyata itu pada saat kita sedang mendekati orang yang di sayang, setelah "dapat" justru seperti ada perasaan bahagia yang hilang. Itulah kenapa saya tak bisa jika harus kemudian menjalin sebuah komitmen "pacaran". Entah apa alasannya, saya sendiri tak bisa mengungkapkan, saya seolah nyaman dengan kesendirian dan hilir mudik manusia yang datang di kehidupan saya sendiri, walaupun mereka hanya datang lalu pergi lagi.
Tak berbagi kabar, si Wanita lugu itupun akhirnya menyerah pada keadaan, mencak-mencak karena merasa apa yang menjadi pengorbanannya tak berbalas komitmen pacaran dari saya. Hem, lagi-lagi status menjadi hal yang penting bagi wanita.
Lama setelah itu saya memutuskan untuk hidup dalam ke-sendiri-an. Hilir mudik wanita dan manusia seluruhnya hanya saya jadikan sebagai pelengkap dalam menapaki jengkal kehidupan. Saya sudah cukup senang ketika mereka ada ketika saya sakit ataupun saya senang tanpa harus menyandang status "pacaran". Tapi kadang saya juga merasa kesepian di saat tak ada seorangpun manusia yang bisa menemani saya d saat-saat sulit. Semua orang memang punya kesibukannya sendiri-sendiri.
Hari ini, usia saya bertambah, banyak orang yang mulai menanyakan apakah saya sudah memiliki asa untuk mempersunting gadis dan berumah tangga dengannya?. Bahkan ada yang menyangsikan ke-lelaki-an saya. Sungguh lucu. Jujur saya masih belum tahu. Saya masih belum memeiliki apa-apa, materi saya masih nol, apalagi jasmani, kosong melompong.
Lagi-lagi bagi saya mempersunting seorang wanita bukan perkara mudah, bukan hanya menjadi urusan saya dan si wanita itu, tapi lebih kepada mempersatukan 2 (dua) keluarga.
Dan akhirnya, saya hanya bisa berkata bahwa Biarkanlah hidup sesuai kehendak Tuhan, Saya percaya bahwa rencana Tuhan lebih sempuran ketimbang apa yang di rencanakan manusia.
Bagiku hidup biarkan lah menjadi sendiri sampai pada masanya Tuhan menitipkan orang kepercayaannya untuk berbagi kasih dan mengasihi. Toh bukan kah Tuhan maha mengetahui apa yang terbaik untuk manusia? Toh bukankah pada masanya Tuhan akan menitipkan sesuatu jika kita sudah di rasa mampu bertanggung jawab atas titipan itu?
Hari ini, saya hanya ingin meningkatkan kualitas diri, mempertajam intuisi guna mampu menapaki jejak-jejak kehidupan. Dan tentunya agar saya siap menerima titipan indah Tuhan.

Selasa, 14 Mei 2013

Bukan Kado tapi Do'a penuh rasa

Banyak orang selalu berdebar penuh semangat menanti hari kelahiran terulang. semua semata-mata bukan karena menginginkan kado atau sekedar ucapan dari orang-orang terkasih. Hari ulang tahun adalah moment mendebarkan karena disanalah kita akan tahu apakah Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan alam, mendengarkan harmoni suara-suara binatang, hirup pikuk kehidupan manusia atau justru kita dicinta oleh-Nya dan kembali pulang kerumah keabadian.
Tidak hanya bagi kebanykana orang, bagi saya juga sama. Jujur, selain berdebar soal karunia Tuhan atas usia yang di berikan, momen ulang tahun adalah saatnya saya mendengar do'a-do'a dari orang-orang terdekat, orang terkasih dan mengasihi. Saya sebagai manusia yang jauh dari kata mulia, tentunya membutuhkan do'a-do'a itu sebagai pelumas dalam menapaki setiap jengkal kehidupan.
12 Mei 2013 adalah momen yang saya tunggu-tunggu kemarin. Hati saya berdebar, perasaan saya was-was, saya akan kembali di lahirkan oleh Tuhan dengan pribadi yang baru, dengan usia yang baru. Saya tentu saja berharap banyak ucapan selamat dan do'a-do'a di panjatkan, mengurapi kehidupan saya, mendamaikan dan akan mempercepat Tuhan menurunkan rahmatNya untuk saya. Namun, sungguh manusia hanya bisa berharap, entah Tuhan yang menentukan atau memang manusia itu sendiri yang terkadang lupa dengan hal-hal yang (mungkin) harus mereka ingat. Dari sekian banyak orrang-orang yang saya kasihi justru terhitung jari do'a-do'a suci yang yang di hantarkan kedepan Tuhan. Adalah Kornelius Adi Pratomo, sang sahabat nasrani itulah yang satu-satunya (mungkin) mengingat tanggal lahir saya.memanjatkan do'a dengan penuh ketulusan agar saya bisa lebih bersyukur dan matang dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan. Sisanya, hanya 5 (lima) orang yang saya temukan melalui aku jejaring sosial. Ya, saya amini semuanya dengan penuh rasa haru.
Tapi entah kenapa justru saya tetap saja merasa kecewa dengan apa yang saya dapatkan, entah karena saya kurang bersyukur terhadap apa yang Khalik berikan atau mungkin ini bisa dibilang manusiawi?. Entah kekecewaan ini karena apa datangnya, hati saya seolah di salib oleh perasaan sembilu yang teramat dalam. Orang-orang terkasih ternyata tak lagi mengasihi.
 Perkenalkan nama saya hedi, saya bukan orang yang populer tapi setidaknya saya cukup di kenal oleh teman-teman baik di kampus saya sendiri maupun sedikit di kampus orang lain. Sedari dulu saya memimpikan memiliki adik-adik lucu yang bisa saya berikan kasih sayang. Saya anak bungsu yang terlalu "berlebih" mendapatkan kasih sayang sehingga saya bingug harus disimpan, dibuang atau di bagi dengan orang lain. "Kasih sayang berlimpah" ini membuat saya merasa bahwa saya membutuhkan adik untuk sama-sama berbagi.
Kehidupan saya di kuliahan biasa-biasa saja, saya tidak terlalu cerdas tapi tidak juga bodoh. Saya aktif di organisasi, bahkan saking aktifnya sampai sekarang gelar sarjana belum juga di tangan. Aktif di organisasi membuat rasa sayang saya tercurah penuh pada organisasi yang saya jalankan, teman-teman satu organisasi saya pun bisa menerima saya apa adanya, minimal itu yang tercermin dari sikap mereka saat di depan saya, kalau di belakang saya tak mau pikirkan.
Kecintaan saya terhadap organisasi membuat saya enggan untuk melepaskannya. Bukan seperti Ir. Soekarno yang mentasbihkan diri ingin menjadi Presiden Seumur hidup, saya justru lebih berpikir pada siapa penerus saya. Saya tak mau organisasi yang pernah saya jalani di pegang kemudikan oleh orang yang tak tepat. Bukannya membangun bangunan lebih tinggi, ini justru malah meruntuhkannya.
Kecintaan itulah yang mendatangkan 5 orang adik-adik baru dalam kehidupan saya. Budy SUmitra, Rexy Fajrin Ismail, Antony Budi Mulya, Beny Fajar Ramadhan dan Yuda Wiranata. Entah kenapa saya senang menyebut mereka dengan kata Ber5. Kemunculan mereka dalam mengisi kehidupan saya, semakin mengukuhkan stigma orang lain bahwa saya memiliki satu organisasi baru, kurang lebih orang diluaran sana menyebutnya ABH (Anak Buah Hedi) padahal saya sendiri tak senang dengan kalimat itu. Ah, anak buah, seolah-olah saya adalah bos saja.
Mereka adalah adik-adik yang saya kasihi dengan sepenuh jiwa, karena mereka lah saya seperti memiliki harapan baru untuk kebangkitan organisasi yang pernah saya pimpin dulu. Bersama mereka, saya menggagas konsep yang (mungkin) ideal untuk membangkitkan kembali organisasi yang sempat menyimpang dari rel. Tentu bahagia dan kadang luka sama-sama kami rasakan, bersenggolan dengan kawan sendiri yang tidak senang dengan gerakan kami kerap kami terima dengan hati was-was. Ini bukan takut, sekali lagi bukan takut. Ini lebih kepada khawatir karena ternyata gerakan yang kami bangun di interpretasikan berbeda oleh orang kebanyakan. Yang padahal apa yang kami lakukan tidak lebih hanyalah untuk kembali membangkitkan organisasi yang sama-sama dicintai.
Liku perjalanan terjal menuju pucuk kepemimpinan sempat kami rasakan, rombak sana-sini, tambal sana-sini kami lakukan. Lagi-lagi semua itu dilakukan karena satu visi yaitu membangkitkan organisasi yang kami cintai. Denga mereka saya seperti melihat masa depan cerah pada organisasi.
Memang susah menjadi manusia yang sempurna, karena Tuhan tak pernah menciptkana manusia utuh satu paket. Ya mungkin Tuhan ingin manusia bisa saling melengkapi. Saya kadang lupa bahwa mereka adalah orang lain bukan adik saya yang sebenarnya. Tapi jujur, secara biologis memang benar mereka bukan lah adik-adiku, tapi secara psikologis saya mengasihi mereka melebihi siapapun. Kadang saya memang lupa, memperioritaskan yang satu dengan yang lainnya, alhasil mungkin satu atau dua dari mereka merasa iri. Tapi pembelaan saya cukup sederhana. Saya hanya memiliki 2 tangan dan tidak mungkin bisa merangkul semuanya. 
Apapun yang terjadi, kalaupun sekarang satu demi satu seolah gugur saya tetap mengasihi mereka dengan sepenuh hati.  
 Saya seolah tak mau ketinggalan berita apapun tentang mereka, tak peduli orang mau bilang saya apa, yang pasti bagi saya mereka adalah orang-orang hebat yang patut mendapatkan cinta dan kasih sayang penuh keindahan. Mereka adalah mutiara-mutiara yang berkilau di tengah gelapnya kehidupan yang saya jalani. 
Tapi entah kenapa tepat di tanggal 12 mei,  kekecewaan menyelimuti seluruh ruh saya, hati saya beku, hati saya, ah tak tahu lah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Entah karena mereka lupa atau karena apapun, tak ada secuil do'a pun yang terucap dari mulut mereka untuk hari kelahirna saya. Janganan do'a bahakan sekedar berucapa kata "selamat" saja tak ada, semua tak bergeming, semua beku dan bisu.
Saya benar-benar memendam kekecewaan yang luar biasa, sekali lagi bukan karena tak ada kado yang mereka bawa seperti tahun lalu, tapi ini lebih kepada do'a dan kedekatan emosional. Saya merasa telah menjadi manusia gagal membangkitkan kedekatan emosional. Saya (mungkin) bisa membuat mereka menjadi hebat, mendapatkan posisi di organisasi kampus dan hal lainnya, ah kalaupun tak banyak yang saya berikan, rasanya kalau hanya seujung jari kuku (mungkin) ada. Tapi ternyata saya justru merasa menjadi manusia yang gagal mendidik mereka untuk peka terhadap sesama.
Asumsi saya sederhana, jika untuk orang yang selama ini mengisi (sedikit) kehidupan mereka saja sulit untuk peka, bagaimana terhadap orang-orang diluaran sana yang membutuhkan kehadiran mereka?, yang membutuhkan uluran tangan mereka. Ah, Tuhan saya gagal.
Saya tak butuh kado, hanya doa penuh rasa.
Saya kecewa, tapi saya tetap mengasihi mereka.

Kamis, 09 Mei 2013

Mengasingkan Diri

Hari ini saya sudah meyakinkan diri untuk menonaktifkan semua akun jejaring sosial yang saya miliki. Alasan ini bukan tidak berdasar, namun semua berangkat dari kekecewaan yang amat dalam baik terhadap kehidupan di jejaring sosial maupun di kehidupan nyata.
Sehari sebelum saya mulai meyakini diri untuk menonaktifkan jejaring sosial, saya mendapatkan perlakuan yang luar biasa menyakitkan hati. Mungkin bagi sebagian orang itu tidak terlalu besar, tapi bagi saya ini adalah masalah besar dalam hidup saya.
Saya diusir dari tempat tinggal sahabat yang sekaligus sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Tentu kenyataan pahit ini harus saya telan mentah-mentah. Lama menjalin silaturahmi ternyata harus mendapatkan pengusiran yang menyakitkan.
Sedari awal saya sudah mencoba untuk sabar dan terus sabar dalam menghadapai semua perlakuan yang tidak mengenakan dalam hidup saya. Di hindari hanya karena di angga Gay bagi saya adalah hinaan yang luar biasa, apalagi hal itu tidak saya ketahui, saya baru mengetahui setelah saya benar-benar menanyakannya dengan serius kenapa dia menghindar selama ini.
Alasan demi alasan yang di ungkapkan tentu membuat saya sakit hati, tapi lagi-lagi saya mencoba untuk sabar dan menerima semuanya dengan besar hati. Itu semua saya lakukan karena saya masih menganggap dia adalah sahabat dan juga adik terkasih.
Malam tadi adalah malam dimana saya akan meyakinkan diri untuk mulai antipati terhadap siapapun, di dunia nyata maupun di dunia maya.
Bagi saya hidup tak lebih dari sendiri, tanpa siapapun termasuk keluarga.
Saya meyakinkan diri untuk mengasingkan diri, menjalani hidup tanpa kehidupan orang-orang sekitar.
Bismillah atas nama Tuhan yang Maha Mengetahui segalannya, saya bersimpuh di hadapannya dan memohon dengan sungguh-sungguh bahwa saya siap menerima konsekuensi apapun dari keputusan saya.
Semoga Tuhan mau membalaskan kesakit hatian ku dengan caranya sendiri