Banyak orang selalu berdebar penuh semangat menanti hari kelahiran terulang. semua semata-mata bukan karena menginginkan kado atau sekedar ucapan dari orang-orang terkasih. Hari ulang tahun adalah moment mendebarkan karena disanalah kita akan tahu apakah Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan alam, mendengarkan harmoni suara-suara binatang, hirup pikuk kehidupan manusia atau justru kita dicinta oleh-Nya dan kembali pulang kerumah keabadian.
Tidak hanya bagi kebanykana orang, bagi saya juga sama. Jujur, selain berdebar soal karunia Tuhan atas usia yang di berikan, momen ulang tahun adalah saatnya saya mendengar do'a-do'a dari orang-orang terdekat, orang terkasih dan mengasihi. Saya sebagai manusia yang jauh dari kata mulia, tentunya membutuhkan do'a-do'a itu sebagai pelumas dalam menapaki setiap jengkal kehidupan.
12 Mei 2013 adalah momen yang saya tunggu-tunggu kemarin. Hati saya berdebar, perasaan saya was-was, saya akan kembali di lahirkan oleh Tuhan dengan pribadi yang baru, dengan usia yang baru. Saya tentu saja berharap banyak ucapan selamat dan do'a-do'a di panjatkan, mengurapi kehidupan saya, mendamaikan dan akan mempercepat Tuhan menurunkan rahmatNya untuk saya. Namun, sungguh manusia hanya bisa berharap, entah Tuhan yang menentukan atau memang manusia itu sendiri yang terkadang lupa dengan hal-hal yang (mungkin) harus mereka ingat. Dari sekian banyak orrang-orang yang saya kasihi justru terhitung jari do'a-do'a suci yang yang di hantarkan kedepan Tuhan. Adalah Kornelius Adi Pratomo, sang sahabat nasrani itulah yang satu-satunya (mungkin) mengingat tanggal lahir saya.memanjatkan do'a dengan penuh ketulusan agar saya bisa lebih bersyukur dan matang dalam menjalani hiruk-pikuk kehidupan. Sisanya, hanya 5 (lima) orang yang saya temukan melalui aku jejaring sosial. Ya, saya amini semuanya dengan penuh rasa haru.
Tapi entah kenapa justru saya tetap saja merasa kecewa dengan apa yang saya dapatkan, entah karena saya kurang bersyukur terhadap apa yang Khalik berikan atau mungkin ini bisa dibilang manusiawi?. Entah kekecewaan ini karena apa datangnya, hati saya seolah di salib oleh perasaan sembilu yang teramat dalam. Orang-orang terkasih ternyata tak lagi mengasihi.
Perkenalkan nama saya hedi, saya bukan orang yang populer tapi setidaknya saya cukup di kenal oleh teman-teman baik di kampus saya sendiri maupun sedikit di kampus orang lain. Sedari dulu saya memimpikan memiliki adik-adik lucu yang bisa saya berikan kasih sayang. Saya anak bungsu yang terlalu "berlebih" mendapatkan kasih sayang sehingga saya bingug harus disimpan, dibuang atau di bagi dengan orang lain. "Kasih sayang berlimpah" ini membuat saya merasa bahwa saya membutuhkan adik untuk sama-sama berbagi.
Kehidupan saya di kuliahan biasa-biasa saja, saya tidak terlalu cerdas tapi tidak juga bodoh. Saya aktif di organisasi, bahkan saking aktifnya sampai sekarang gelar sarjana belum juga di tangan. Aktif di organisasi membuat rasa sayang saya tercurah penuh pada organisasi yang saya jalankan, teman-teman satu organisasi saya pun bisa menerima saya apa adanya, minimal itu yang tercermin dari sikap mereka saat di depan saya, kalau di belakang saya tak mau pikirkan.
Kecintaan saya terhadap organisasi membuat saya enggan untuk melepaskannya. Bukan seperti Ir. Soekarno yang mentasbihkan diri ingin menjadi Presiden Seumur hidup, saya justru lebih berpikir pada siapa penerus saya. Saya tak mau organisasi yang pernah saya jalani di pegang kemudikan oleh orang yang tak tepat. Bukannya membangun bangunan lebih tinggi, ini justru malah meruntuhkannya.
Kecintaan itulah yang mendatangkan 5 orang adik-adik baru dalam kehidupan saya. Budy SUmitra, Rexy Fajrin Ismail, Antony Budi Mulya, Beny Fajar Ramadhan dan Yuda Wiranata. Entah kenapa saya senang menyebut mereka dengan kata Ber5. Kemunculan mereka dalam mengisi kehidupan saya, semakin mengukuhkan stigma orang lain bahwa saya memiliki satu organisasi baru, kurang lebih orang diluaran sana menyebutnya ABH (Anak Buah Hedi) padahal saya sendiri tak senang dengan kalimat itu. Ah, anak buah, seolah-olah saya adalah bos saja.
Mereka adalah adik-adik yang saya kasihi dengan sepenuh jiwa, karena mereka lah saya seperti memiliki harapan baru untuk kebangkitan organisasi yang pernah saya pimpin dulu. Bersama mereka, saya menggagas konsep yang (mungkin) ideal untuk membangkitkan kembali organisasi yang sempat menyimpang dari rel. Tentu bahagia dan kadang luka sama-sama kami rasakan, bersenggolan dengan kawan sendiri yang tidak senang dengan gerakan kami kerap kami terima dengan hati was-was. Ini bukan takut, sekali lagi bukan takut. Ini lebih kepada khawatir karena ternyata gerakan yang kami bangun di interpretasikan berbeda oleh orang kebanyakan. Yang padahal apa yang kami lakukan tidak lebih hanyalah untuk kembali membangkitkan organisasi yang sama-sama dicintai.
Liku perjalanan terjal menuju pucuk kepemimpinan sempat kami rasakan, rombak sana-sini, tambal sana-sini kami lakukan. Lagi-lagi semua itu dilakukan karena satu visi yaitu membangkitkan organisasi yang kami cintai. Denga mereka saya seperti melihat masa depan cerah pada organisasi.
Memang susah menjadi manusia yang sempurna, karena Tuhan tak pernah menciptkana manusia utuh satu paket. Ya mungkin Tuhan ingin manusia bisa saling melengkapi. Saya kadang lupa bahwa mereka adalah orang lain bukan adik saya yang sebenarnya. Tapi jujur, secara biologis memang benar mereka bukan lah adik-adiku, tapi secara psikologis saya mengasihi mereka melebihi siapapun. Kadang saya memang lupa, memperioritaskan yang satu dengan yang lainnya, alhasil mungkin satu atau dua dari mereka merasa iri. Tapi pembelaan saya cukup sederhana. Saya hanya memiliki 2 tangan dan tidak mungkin bisa merangkul semuanya.
Apapun yang terjadi, kalaupun sekarang satu demi satu seolah gugur saya tetap mengasihi mereka dengan sepenuh hati.
Saya seolah tak mau ketinggalan berita apapun tentang mereka, tak peduli orang mau bilang saya apa, yang pasti bagi saya mereka adalah orang-orang hebat yang patut mendapatkan cinta dan kasih sayang penuh keindahan. Mereka adalah mutiara-mutiara yang berkilau di tengah gelapnya kehidupan yang saya jalani.
Tapi entah kenapa tepat di tanggal 12 mei, kekecewaan menyelimuti seluruh ruh saya, hati saya beku, hati saya, ah tak tahu lah apa yang sebenarnya saya rasakan.
Entah karena mereka lupa atau karena apapun, tak ada secuil do'a pun yang terucap dari mulut mereka untuk hari kelahirna saya. Janganan do'a bahakan sekedar berucapa kata "selamat" saja tak ada, semua tak bergeming, semua beku dan bisu.
Saya benar-benar memendam kekecewaan yang luar biasa, sekali lagi bukan karena tak ada kado yang mereka bawa seperti tahun lalu, tapi ini lebih kepada do'a dan kedekatan emosional. Saya merasa telah menjadi manusia gagal membangkitkan kedekatan emosional. Saya (mungkin) bisa membuat mereka menjadi hebat, mendapatkan posisi di organisasi kampus dan hal lainnya, ah kalaupun tak banyak yang saya berikan, rasanya kalau hanya seujung jari kuku (mungkin) ada. Tapi ternyata saya justru merasa menjadi manusia yang gagal mendidik mereka untuk peka terhadap sesama.
Asumsi saya sederhana, jika untuk orang yang selama ini mengisi (sedikit) kehidupan mereka saja sulit untuk peka, bagaimana terhadap orang-orang diluaran sana yang membutuhkan kehadiran mereka?, yang membutuhkan uluran tangan mereka. Ah, Tuhan saya gagal.
Saya tak butuh kado, hanya doa penuh rasa.
Saya kecewa, tapi saya tetap mengasihi mereka.