Hari ini saya datang kembali di jogja, sudah hampir seminggu saya di kota ini. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan, lebih tepatnya kegiatan-kegiatan produktif, selebihnya saya hanya berkumpul dengan teman-teman lama, di warung kopi dan sesekali di tempat karaoke. Tujuan saya datang lagi ke kota ini pun memang untuk itu, menghidupkan kembali romantisme masa lalu yang sempat pudar.
Dulu, saya terhitug sering datang ke kota gudeg ini, menyambangi teman-teman dan hanya untuk itu. Romantisme yang terbangun sungguh luar biasa, saya seperti menemukan keluarga baru disini. Ketika datang ke kota ini saya tak pernah takut kelaparan atau tidur di emperan, mereka siap kapan saja menampung saya.
Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya saya bisa mengenal kota ini, masa kecil memnuat saya trauma untuk pergi ke kota-kota yang jauh. Mental yang di bangun oleh kedua orang tua memang tak begitu baik, rasa percaya diri yang rendah memicu ketakutan saya yang berlebihan, terlebih lagi ketakutan untuk pergi ke kota yang jauh dari jangkauan pikiran saya sebelumnya.
Keberanian saya muncul saat menginjakan kaki ke bangku kuliah. Tujuan saya masuk kuliah hanya satu, saya ingin belajar dan mengembangkan diri. Menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya. Pribadi yang penuh ketakutan.
Tahun 2009 adalah awal saya melakukan sebuah perjalanan revolusioner. Bermula dari ajakan senior untuk ikut serta dalam sebuah organisasi berskala nasional, saya pun akhirnya memiliki keberanian untuk pergi ke 5 (lima) kota sekaligus. Bandung adalah kota pertama yang saya sambangi, kemudian jogja, malang, surabaya dan terakhir saya berhenti di Jakarta. Setiap kota tentu menyimpan sisi romantisme yang berbeda. DI bandung misalnya, di kota inilah saya disambut dengan adzan subuh yang sangat syahdu, sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke kota gudeg. Semangkuk mie rebus dan kopi hangat saya santap dengan lahap, kira-kira pukul 05.00 WIB saya tiba di terminal leuwi panjang waktu itu.
Dengan bermodal uang dari organisasi saya melakukan perjalanan tersebut, menyambangi benteng peninggalan belanda di Jogjakarta menjadi lokasi ke-2 dari perjalanan revolusioner yang saya lakukan dulu. Disinilah saya bertemu dengan kawan-kawan luar biasa yang sedang mensosialisasikan tentang media literasi. Mereka mencoba mempersuasi masyarakat untuk turut serta cerdas dalam memilih program-program televisi yang di suguhkan. DI sadari atau tidak, program-program televisi yang beredar saat itu memang menjijikan. Hampir semua tayangan televisi dengan latah menyiarkan hal-hal mistis dan mitos. Tayangan kekerasan masih juga merajai, bahkan adegan-adegan berbahaya yang kapan saja bisa menginfluence anak sering sekali di tayangkan oleh televisi Indonesia. Semua sudah berbicara kapitalistik, siapapun yang memiliki modal, tentu akan dengan sangat mudah menciptkan budaya dan ideologi baru. Akhirnya lagi-lagi masyarakat yang di korbankan.
Di kota Jogja lah saya bertemu dengan teman-teman omah idjo, tempat saya menginap dan tempat saya belajar bagaimana mahasiswa Jogja meramu sebuah kreatifits menjadi karya. Saya juga banyak belajar dari masyarakat jogja, mereka begitu mencintai sang Sultan. Masa bodo dengan banyak tudingan di luar bahwa Kota Jogja telah menyalahi konstitusi karena membangun negara dalam negara, mereka juga tak peduli dengan ocehan orang luar bahwa dominasi kerajaan keraton dalam politik Kota Jogja telah mematikan unsur-unsur demokrasi. Saya sendiri tentu sepakat dengan masyakarat Jogja, toh jika inti dari demokrasi sendiri tidak lain adalah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dan perihal dominasi politik kasultanan, tentu itu juga atas keinginan masyarakat sendiri dan selama ini pun masyarakat Jogja masih nyaman-nyaman saja di pimpin oleh sang Sultan. Ya, terlepas masyarakat yang mana, yang jelas demokrasi di Jogaj tak perlu menghabiskan uang negara berlebihan.
Selesai menikmati gudeg dan mengintari Malioboro, saya berangkat ke kota Malang. Disinilah saya menemukan nuansa romantisme yang indah, adalah Ryan, Tomo, Bintang dan Anggi menjadi 4 sekawan yang melengkapi kehadiran saya di Kota Apel ini. Mereka selalu siap mengantar saya kemanapun saya mau, dan di Kota Batu saya melihat panorama alam ciptaan sang Khalik yang luar biasa. Di tengah kabut hutan yang tebal, saya menemukan air terjun yang indah. Air itu mengalir deras disertai bunyi yang gemuruh. Indah dan menenangkan.
Saya sebenarnya enggan untuk pulang kembali ke kampus, mendengarkan ocehan-ocehan dosen yang hanya copy paste dari buku. Bagi saya menjenuhkan konsep mengajar seperti itu, malah mahasiswa seolah di cekoki pikiran orang lain, bukan diajarkan untuk menciptakan pikiran mereka sendiri. Atau paling jago juga saya di paksa untuk melihat slide materi yang norak, hanya membaca lalu dengan kuasanya sang dosen mengkomandoi kami untuk mengerjakan tugas yang sama sekali tak kami pahami. Meminjam Kalimat Soe Hok Gie yang saya modifikasi "Dosen tak layak, sudah saatnya masuk keranjang sampah".
Tapi mau tidak mau saya memang harus kembali, ada tanggung jawab besar di kampus. Kebetulan waktu itu saya pimpinan organisasi di kampus, memang tidak besar, tapi bukan itu ukurannya. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, besar kecilnya tergantung bagaimana kita mau menyelesaikan tanggung jawab itu.
Saya pun meninggalkan kota Malang, berangkat ke Ibu Kota dan bertemu dengan kawan-kawan baru, yang menginspirasi saya bahwa hidup hanyalah sebuah panggung sandiwara yang Tuhan ciptakan dengan berbagai macam skenario. Adalah Teater Sendiri Ciputat yang memberikan pelajaran berarti itu, mereka sedang menyelenggarakan pentas khusus di gendung Japan Foundation. Selain teater yang mereka suguhkan, pameran lukisan nan apik pun telah menyedot ribuan pengunjung waktu itu dan saya salah satu dari mereka.
Romantisme masa lalu memang indah untuk di kenang, itulah kenapa saya datang kembali ke Kota Jogja.
Kalaupun tak seromantis dulu, tapi Jogja tetaplah Jogja. Kota Istimewa yang tak kan tergantikan oleh kota manapun.








0 komentar:
Posting Komentar