Mendekati pemilihan umum yang sebentar lagi bakal di gelar di negeri ini, saya jadi semakin was-was. Saya khawattir siapapun yang menang toh pada kahirnya mereka tidak akan membawa perubahan untuk bangsa ini. Bagi saya apa yang ditawarkan oleh sang calon kuasa adalah sesutau yang semu, yang hanya sebagai penyenang hati masyarakat bawah. Semua tidak lebih dari iming-iming memperoleh kekuasaan, setelah nanti duduk, mereka justru tak mau beranjak untuk melihat kaum-kaum bawah yang terkepung oleh budaya baru yang telah mengikis nilai luhur bangsa.
Seperti halnya di kampus, saya selalu wanti-wanti buat siapapun yang mau mencalonkan diri jadi penguasa. bagi saya indikator kesuksesan penguasa bukan pada berhasilnya program-program (normatif) itu dilaksanakan, tapi lebih kepada bagaimana costum & (kemudian) budaya bisa terbentuk, budaya sebagai mahasiswa yaitu kembali menggaungkan nilai-nilai akademin, penelitian dan mengabdikan dirinya hanya semata-mata untuk masyarakat. Kalau untuk ukuran bangsa saya orang yang agak tidak peduli dengan kesejahteraan, toh se-sejahtera apapaun kita di era pertumbuhan ekonomi di dunia yang semakin pesat saya rasa kita akan terus merasa kekuragan, itu juga menjadi sifat serakah manusia. jadi, justru yang harus dibangun adalah bagaimana buday-budaya luhur Indonesia itu kembali ada di hati setiap anak Bangsa. Budaya Gotong royong yang merupakan nilai persatuan dan kesatuan bangsa seolah telah luntur di makan zaman. Jarang sekali kita bisa melihat orang bergotong royong tanpa harus mendapatkan imbalan,membantu manusia lain tanpa mengharapkan lembaran rupiah, semua dinilai secara materi, gotong royong entah sudah kemana.
Budaya individualis bagi saya adalah point utama kemerosotan bangsa, ini pula lah yang menjadi landasn dari sebuah paham di dunia yang di sebarkan oleh negara-negara maju, Liberal. Coba anda bayangkan, ketika anda mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan perbuatan salah justru anda mendapatkan jawaban "Hidup hidup gua, kenapa lu ngurusin hidup gua, urus saja hidup lu sendiri". Bahkan yang lebih parah ketika Anda mengajak seseorang kepada kebaikan, shalat misalnya, anda akan mendapatkan jawaban yang sederhana tapi inilah nilai-nilai individualis yang dibangun "Shalat itu urusan saya sama Allah, jadi udah deh jangan suka ngingetin, gua ga mau shalat karena lu".
Sadar atau tidak, memang harus diakui bahwa kalimat-kalimat sederhana itu terbentuk karena costum (kebiasaan) dan akhirnya menjadi budaya yang telah mngikis nilai-nilai luhur bangsa ini. Itu baru gotong royong dan individualis. Belum budaya-budaya lain, dan jelas bangsa ini telah ikit dalam arus perubahan budaya dunia.
Saya rasa kita masih ingat betul dengan kasus Darsem dan Sutinah, 2 orang TKi yang siap di pancung di negeri Arab. Penguasa negara ini seolah enggan membantu mereka, dan budaya gotong royong pun akhirnya kembali. Semua kalangan berbondong-bondong menggalang dukungan untuk menyelamatkan dua anak bangsa yang di kuras tenaga di negeri orang. Dan Alhamduliah keduanya bisa diselamatkan, terlepas kemudian siapa yang membayar uang tebusan, saya rasa nilai-niali gotong royong itulah yang diperlukan untuk bangsa ini. Lantas haruskah budaya itu kembali pada bangsa ini dengan adanya kasus memilukan?. Semoga saja tidak. Inilah tugas si kuasa memikirkan bagaimana budaya itu lahir kembali tanpa harus mengecilkan bangsa sendiri di mata dunia.
Itulah kenapa sang penguasa, bagi saya, bukan cuma harus berkutat pada kalimat kesejahteraan sosial, pendidikan gratis, kesehatan gratis, tapi sudah memiliki visi yang jauh lebih visioner yaitu mengemballikan budaya luhur Bangsa. Percuma kita menjadi negara maju, negara yang kaya rasa, negara yang sejahtera tapi nilai indovidualis masih sangat kentara. Percuma kita menjadi orang kaya, lalu di sebalh kita ada yang kelaparan dan kita tidak mau sedikitpun mengikhlaskan diri untuk membelikannya makan.
Mendekati pemilu semoga saya, anda dan kita semua bisa belajar bahwa pendidikan gratis, kesehatan gratis dan segala sesuatu yang gratis adalah program-program semu, semua itu tak akan pernah terwujud sebelum si kuasa mampu mengembalikan nilai-nilai luhur bangsa.








Sedaapppp (y)
BalasHapusTerima kasih kaka, siap-siap ada kunjungan balik ke kaka :)
BalasHapus