Harmonisasi
saya sama Boni makin terasa, dan malam ini kami lagi-lagi dipertemukan pada
sebuah ruangan terbuka diamana mata kami sama-samamenyaksikan layar 14 inchi.
Televisi yang tak henti-hentinya menyiarkan hiruk pikuk perpolitkan bangsa. Seolah
tak ada ruang untuk informasi lain, hampir semua media massa menyuguhkan
informasi tentang politik. Mungkihkah politik memang sesuatu yang sangat
dibutuhkan oleh masyarakat selain harga beras?, atau bisa jadi bahwa keputusan
politik akan sangat mempengaruhi kesejahteraan nelayan. Untuk itulah semua
media secara berjamaah menginformasikan tentang politik. Petani harus
berjibaku untuk mencari informasi tentang harga pupuk atau harga jual gabah,
nelayan yang membutuhkan informasi cuaca hanya di suguhi oleh janji-janji basi
tentang kesejahteraan. Realitanya, semua janji hanyalah bualan untuk memperoleh
kekuasaan, dan media mash terus menggiring masyarakat untuk menganggap bahwa
politik menjadi hal yang lebih penting ketimbang beras dan kelayakan atap
rumah.
Ada
politik, ada juga korupsi. Dan yang mencengangkan tentu kasus korupsi yang
dilakukan oleh Hadi Purnomo, Ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Republik
Indonesia, sebuah lembaga yang sangat bersahabat dengan lembaran-lembaran
rupiah. Kalaupun beliau di tetapkan sebagai tersangka korupsi bukan pada pada kasus BPK tetapi sebagai Mantan Dirjen Pajak, semua sama saja, sama-sama berdekatan dengan rupiah. Sebenarnya tak terlalu mencengangkan, toh sebelum-sebelumnya pun
masyarakat sudah di cekoki dengan berita korupsi yang lebih membuat emsoi naik
ke ubun-ubun. Sebut saja kasus Bailout Century, Wisma Atlet dan tragedi daging
sapi yang dibalut dengan daging mentah ayam kampus. Jadi, soal kasus Hadi
Purnomo ini menjadi kasus yang tak lagi membuat saya terperangah. Mengutip apa
yang disampaikan Ikhsanudin Nursyi “pejabat yang berdekatan dengan uang sudah
pasti rentan untuk melakukan korupsi, jangan kaget” kurang lebih seperti itu.
Ada
benarnya pernyataan ekonom tersebut, siapapun yang berdekatan dengan uang
memang begitu rentan untuk tergoda, dan akhirnya keimanan seolah entah kemana,
mungkin disimpan sebentar saat bercumbu dengan uang dan akan dipakai kembali
saat kampanye untuk menarik simpati para pemeluk taat. Jadi, jangan heran juga
kalau kemudian banyak calon-calon pensayasa yang memakai peci atau kerudung
sebagai simbol bahwa mereka alah religus dan dekat dengan Tuhan.
Susah
memang kalau ngomongin soal politik dan korupsi di negeri ini, seperti jamur di
musim hujan, kecil dan tumbuh menjadi banyak lalu kemudian besar. Entah siapa
yang bisa menyelesaikannya?, mungkin ada baiknya Tuhan turun tangan langsung.
Tuhan memang menjadi solusi paling mujarab setiap permasalahan, termasuk politik
transaksional yang sedang marak di informasikan banyak media di Indonesia.
Pegal
kalau harus ngomongin politik dan korupsi di negeri ini?. Tapi mau bagaimana
lagi, informasi yang lain seolah tak dapat ruang, sedangkan kita sebagai orang
awam hanya bisa mendapatkan informasi dari media-media itu-itu saja. Mau tidak
mau memang kita harus menyerapnya. Sebetulnya ada hal lain yang bisa kita
nikmati, sinetron misalnya. Kalaupun memang sinetron di televisi kita hampir
kebanyakan jauh dari unsur-unsur realitas. Sekali lagi semua hampir sama,
menyeret masyarakat pada kebutuhan non-primer. Sinetron di negara ini tak lebih
dari penyebaran paham-paham baru, konsumtif. Tak ada satu sinetron pun yang
mengajarkan manusia Indonesia untuk kembali mengamalkan nilai luhur bangsa.
Mengurusi diri sendiri, mobil mewah, rumah mewah, sepatu branded, dan segala
aksesoris yang biasa di pakai oleh orang-orang luar Indonesia. Lantas untuk apa
semua itu?, agar manusia Indonesia mau mengkonsumsi segala hal yang
ditayangkan. Jadi jangan heran kalau kemudian ada anak yang dengan ikhlas
menggorok leher ibunya hanya karena ingin di belikan telephone genggam terbaru.
Ngomongin
media di Indonesia sepertinya njelimet,
sama halnya politik dan juga korupsi. Entah harus dari mana menyelesaikannya.
Solusi pasti ada, cuma belum ditemukan saja titik awalnya. Dan mungkin, negara
ini bisa gagah kembali, entah pernah menjadi gagah atau tidak, tapi dari
buku-buku sejarah tentu kita tahu bahwa negara ini pernah menjadi sentral dari
peradaban dunia. Andai si Boni bisa baca juga, mungkin dia akan tahu bagaimana
gagahnya negara ini dahulu.
So, who’s to be blame?,
yang jelas kita gak bisa nyalahin Boni si kucing lucu yang suka berisik kalau
jam tengah malam. Kalau kata Mario Teguh, kita tak harus mencari siapa yang salah,
tapi apa yang bisa kita lakukan. Dan saya masih bingung apa yang harus saya
lakuin dan benar kata temen saya bahwa hidup gak segampang omongan Mario Teguh.
Ngelakuin apapun di negara ini seolah percuma, tak akan mampu merubah nasib anak
bangsa. Lagi-lagi mungkin hanya untuk urusan perut sendiri. Atau mungkin itu
juga yang ada dipikiran para pejabat Bangsa ini?, saking rumitnya memikirkan
permasalahan bangsa, akhirnya mendingan memikirkan perut sendiri saja. Rasanya
kok hampir semua solusi akan kembali pada kalimat “semua tergantung pribadi
masing-masing”, kalau pribadi masing-masing sudah berkualitas maka negara pun
akan berjalan beriringan, lantas kalau seperti itu, untuk apa juga ada negara?,
bubarkan saja.
Well,
saya sebagai orang awam akhirnya cuma bisa menikmati apa yang disuguhkan,
seperti sebuah dagelan dalam lawak srimulat, anggap saja semuanya adalah
lucu-lucu-an. Minimal, kelakuan-kelakuan bodoh para pejabat negeri ini bisa
membuat kita tertawa lebar, kalaupun sebenarnya dalam tawa yang kita keluarkan
ada masa depan pahit yang harus ditanggung oleh kita dan generasi-generasi
berikutnya.
Entah
apa yang ada dipikiran si Boni setelah ini, mungkin dia akan semakin suka
nemenin saya nonton tv dan akhirnya dia semakin bersyukur karena sudah
dilahirkan sebagai kucing yang tak perlu memikirkan nasib negara yang
crut-marut ini. Hanya makan dan tidur tanpa dibebani apapun.







0 komentar:
Posting Komentar