Seperti sebelumnya, adzan subuh selalu terdengar begitu merdu, mendamaikan hati yang entah sedang dalam kondisi apa. Siapapun yang mengumandangkan adzan subuh selalu terdengar istimewa, mungkin karena udara pagi hari yang sejuk, suara adzan pun terbawa oleh kesejukan angin dan berhembus di telinga saya setiap pagi, syahdu dan mendamaikan.
Seperti sebelumnya, saya masih setia di depan layar 14 inchi. Bukan untuk persoalan yang serius tapi hanya sekedar mengisi waktu luang untuk mendengarkan syahdu nya adzan subuh, mendamaikan.
Seperti sebelumnya, rutinitas yang tak begitu padat kadang membuat jenuh datang di kehidupan. Jenuh bukan karena sibuk, bukan karena mumet tapi karena tak ada yang dikerjakan. Dan adzan subuh selalu memberikan kedamaian.
Seperti sebelumnya saya tak bisa melakukan apa-apa, hanya diam di depan layar 14 inchi tanpa menghasilkan karya apa-apa. Ingin menulis tapi rasanya bingung apa yang harus ditulis. kalaupun tulisan ini hadir dan bisa masuk dalam pori-pori otak yang membacanya, ini hanya tulisan alakadarnya utnuk mengusir kebosanan, untuk menunggu sang muadzin mengumandangkan adzan subuh yang mendamaikan hati.
Entah kenapa dengan otak beberapa hari ini, tak bisa diajak kerja sama, tak bisa diajak berpikir keras, yang ada hanya santai dan berleha-leha. Anekdot bahwa otak yang tidak dipakai akan mahal harga jualnya mungkin tepat untuk otak saya. Selama ini hanya memikirkan segala hal yang semu, tidak menghasilkan apa-apa, idelais tidak apalagi pragmatis. Mungkin sedikit iya, tapi semua masih alakadarnya.
Ingin sebenarnya saya seperti kebanyakan orang hebat yang bisa menuangkan ide-idenya kedalam barisan-barisan kalimat, tidak harus puitis dengan liuk bahasa yang aduhai, cukup menulis dan bisa dinikmati rasanya luar biasa. tapi sampai sekarang tak ada perubahan, hanya alakadarnya.
Sebut saja ini bagian dari kesalahan masa lalu, saya orang yang paling malas untuk ikut dalam kelas menulis, yang pada kahirnya inilah kualitas tulisannya, alakadarnya dan tak ada esesni. hanya tulisan semua, untuk mengisi waktu luang menunggu sang muadzin subuh.
Setidaknya pagi ini saya kembali mendengar adzan subuh, kalaupun tak menghasilkan apa-apa dalam semalam, kedamaian tetap merasuk dalam bathin yang paling dalam. Dan setidaknya pagi ini saya bisa bertegur sapa dengan sang pujaan hati di pulau sebrang.
"Selamat pagi mbak yu, Sudah Shalat subuh?"
"Kalaupun aku yang ngingetin kamu, tapi shalat kamu harus tetep karena Allah ya. Kamu jangan pernah marah kalau ada orang yang ngingetin kamu shalat, apalagi sampai mengganggu tidur nyenyak mu, dia bukan mau kamu shalat karena dia. Dia cuma tidak mau kamu di ingetin langsung sama Tuhan, jadi kita harus sama-sama bersyukur"
Selamat Pagi Mbak Yu
Selamat menjalankan Perintah Sang Khalik








0 komentar:
Posting Komentar