Minggu, 20 April 2014

Ini Dunia, Bukan Syurga, Boni!!

Ini masih tentang Boni, kucing lucu yang sudah jadi piaraan semua penghuni kosan. Boni sudah bukan milik pribadi gua atau si tetangga, tapi semua memiliki rasa yang sama buat Boni, sayang.
Boni, kucing yang sebatang kara sama kaya si lebah Hachi, semoga saja masih pada ingat dengan film kartun itu. Kalau Hachi gigih buat nyari dimana ibunya, Boni anteng dengan kehidupannya yang sekarang. Mungkin dia sudah putus asa buat ketemu sama ibu atau bapaknya, memilih pasrah dan survive menjalani hidup tanpa siapa-siapa, kecuali kami penghuni kosan Pak Asep yang berbaik hati merawat dia dengan penuh cinta.
Gua pribadi sudah mencintai Boni jauh sebelum penghuni kos yang lain merasa iba dengan kehidupan Boni, dan hampir setiap malam Boni lebih memilih tidur di kamar gua. Sebenarnya dia bukan gak mau tidur dengan temen-temen kosan gua yang lain, cuma mereka seperti menutup pintu. Kasihan mungkin iya, tapi untuk berbagi alas tidur dengan Boni mereka enggan. Katanya bukan karena mereka gak mau, tapi masih takut dengan naluri binatang Boni. Wajar memang, gua saja yang setiap malam tidur bareng dia sering baret-baret gara-gara di cakar, entah itu tangan-kaki atau malah muka sekalian. Bagi mereka Boni tetaplah binatang yang punya naluri memangsa tapi bagi gua, Boni tetaplah makhluk tuhan yang sama kaya manusia, punya rasa.
Malam ini Boni tidur pules setelah tadi di kasih makan banyak. Boni adalah kucing yang gak pilih-pilih makanan. Selama ga lembek dan masih enak buat di gigit, Boni makan lahap. Dan untuk pertama kalinya juga Boni lebih memilih tidur di bawah rak piring bukan di samping gua. Mungkin saking ngantuknya jadi dia gak sempat pindah ke atas kasur. Mirip sama gua, kalau sudah ngantuk berat, dimanapun gua bisa tidur.
Pernah suatu ketika selepas acara IMIKI (Ikatan mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia) di Bandung dan ini pertama kalinya gua gabung di organisasi bertarap nasional, gua tidur di emperan Ciwalk. Saking ngantuknya gua gak bisa ngikutin kemauan teman-teman gua buat keliling mall, dan alhasil gua cuma nunggu di emperan depan Jco sambil rebahan dan akhirnya gua ketiduran. Dan yang gak bisa gua lupain lagi, ketika gua bangun, di depan sudah tersedia dengan mantap bekas gelas air mineral yang di isi koin. Ah, gua hapal benar ini kerjaan temen-temen gua. But It’s ok, karena hal itulah semua gak bisa gua lupain.
Belum lagi ketika gua masih aktif-aktifnya hidup di kampus, hampir setiap waktu bahkan tidur di kampus pun sering gua lakuin. Saking ngantuknya nunggu dosen, gua biasanya tidur di saung perjuangan. Spot yang biasa gua dan kawan-kawan seperjuangan gunakan buat diskusi dan ngebahas segala hal yang urgent tentang organisasi dan permasalahan Banten dan Indonesia. Semua tinggal kenangan, orang-orang dan juga organisasinya. Mungkin nama nya masih ada, tapi gerakannya justru tak pernah keliatan. Bisa dibilang ini jadi masalah klasik hampir semua organisasi kemahasiswaan masa sekarang, masuk angin. Entah karena ada pihak-pihak yang masuk dengan memberikan hal-hal yang jauh lebih menarik atau mungkin karena sudah lelah berjuang. Perjuangan memang hampir sama dengan keyakinan (iman), terlalu pluktuatif. Jika tak diasah, perlahan akan tipis dan akhirnya hilang.
Ngomongin soal tidur dan si Boni kucing kesayangan, tentu gua paham betul kenapa kemudian akhir-akhir ini Boni lebih sering tidur cepet, itu bagian dari perjuangan. Rasa lelah setelah seharian mencari makanan ngebuat Boni jadi lebih sering capek. Gua sendiri gak begitu sanggup nyediain makanan buat dia, seadannya, sepunyanya saja, sisanya dia cari sendiri. Lagi pula ini bagian dari latihan juga, toh gak selamanya dia akan hidup sama gua. Mungkin setelah gua gak nge-kos disini, gua udah gak bisa lagi hidup sama dia.
Banyak dari temen-temen gua juga yang sudah ambil jalan hidup masing-masing. Namanya juga hidup, kadang ada pertemuan tapi perpisahaan adalah sebuah kepastian. Layaknya bayi yang dilahirkan kedunia, suatu saat dia akan kembali pada sang Pencipta. Seperti halnya kemarin, sebelum ada Boni, sahabat sekamar gua yang selalu nemenin gua kapan pun. Karena dia sudah sadar, akhirnya perpisahan gak bisa di elakan. Yang mngebuat gua nyesek sebenernya bukan perpisahaanya tapi kalimat “sudah sadar” dan “seharusnya gua gak kenal lu sejak mahasiswa baru” ngebuat mental gua langsung anjlok. But, yasudah lah namanya juga hidup. Setiap orang berhak mengambil jalan hidupnya masing-masing, terlepas caranya bagaimana, itu hak masing-masing juga. Toh bagi gua pribadi, gak nyesel pernah ketemu dan berbagi apapun yang gua punya buat dia. Semoga semua bermanfaat. Mungkin memang Tuhan punya rencana lain buat hidup gua, termasuk ngedatangin Boni di kehidupan gua.

Entah sudah berapa orang hadir dan kemudian pergi di kehidupan gua, termasuk di kehidupan kalian. Semua bukan tanpa sebab. Yakin lah bahwa semuanya sudah digariskan oleh Tuhan, termasuk perpisahan. Yang perlu di ingat bahwa efek kupu-kupu itu memang ada. Jika suatu saat kesuksesan menghampiri hidup kita maka jangan pernah lupa terhadap orang lain yang entah itu mengecilkan kita atau mendukung setiap langkah kita, karena bagaimanapun mereka memiliki peran dengan caranya masing-masing.
Perpisahan dan pertemuan sebut saja sebagai anugerah Tuhan. mempertemukan dua manusia untuk saling silaturahmi, menjajaki dan kemudian menghimpun menjadi ikatan saudara, kalau tak cocok tentunya perpisahan tak bisa dielakan, bahkan tak jarang kemudian berbalas kesakit hatian. Anggap saja itu anugerah Tuhan, tak perlu di sesali karena dari semuanya kita pasti akan dapat banyak pelajaran bermakna. Percaya saja bahwa apapun yang Tuhan kasih tidak akan pernah tidak memiliki manfaat. Bahkan, seonggok kotoran sapi pun bisa diolah menjadi pupuk.
Ngomongin soal kucing, gua emang gak terlalu suka sama yang namanya binatang. Jijik, lebih tepatnya geli kalau harus bersentuhan langsung sama mereka. Takut juga kadang ada, takut di gigit, di cakar dan hal lain yang membahayakan. Tapi dengan kehadiran Boni, gua jadi belajar banyak, bahwa bagaimanapun mereka memang binatang yang punya naluri sebagai pemburu, dan mereka juga makhluk Tuhan yang punya rasa. Dan gua bersyukur dengan kehadiran Boni di kehidupan gua, sama halnya gua bersyukur dengan kehadiran orang-orang terbaik yang pernah Tuhan kasih buat hidup gua.
Gua jadi inget kata-kata sahabat sekamar gua dulu. “Ini Dunia, bukan Syurga” sebuah kalimat sederhana yang sarat akan makna. Ini memang dunia, tempat dimana kebaikan dan kejahatan kadang begitu sulit untuk diraba, jika salah sedikit saja memaknainya maka jangan heran kalau kemudian pertumpahan darah bisa terjadi. Ini bukan syurga yang didalamnya hanya ada kebaikan, ini juga bukan neraka yang di dalamnya hanya ada keburukan, ini dunia sebuah dimensi perpaduan keduanya.
Boni, juga mungkin sadar bahwa ini dunia. Ada manusia yang baik sama dia, tapi gak menutup kemungkinan ada juga manusia yang jahat sama dia. Boni selalu waspada, sedikit saja di pressure, gigi nya yang sudah mulai tumbuh siap di tancapkan kedaging sang pengusik, termasuk gua.
Boni, di tengah kelelapan tidurnya, selalu ngasih gua inspirasi. Termasuk tulisan malam ini, semua hadir karena Boni. Selamat tidur Boni, semoga Tuhan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk mu, untuk ku dan untuk orang-orang yang sama-sama kita kasihi.

0 komentar:

Posting Komentar