Sabtu, 05 April 2014

Karpet Lusuh dan Tumpukan Dosa Kecil

Pagi ini Tuhan kembali mengingatkan saya dengan caraNya yang sangat sederhana. Di tengah kebahagiaan yang luar biasa menjelang adzana shalat subuh berkumandang, nikmat Tuhan datang dengan cara yang tak terduga.
Entah sudah berapa tahun karpet berwarna pelangi itu tak di cuci oleh sang pemilik. Tergelatk seperti tak terurus di depan pintu kosan. Selimut milik teman yang dipinjamkan ke tetangga kosan akhirnya akan kembali ke pemilik sebenarnya lagi, namun sayang baik si pemilik maupun si peminjam, keduanya sama sekali tak pernah memperhatikan keadaan si karpet. Lusuh dan berdebu, jangan kan di pegang, bahkan membayangkannya saja rasanya sudah gatal-gatal. Tapi yang anehnya si pemilik dan si peminjam justru tetap nyaman dengan keadaan demikian. Setiap malam, tikar itu setia berada di bawah tubuh si peminjam yang lelah karena rutinitas, dan setiap hari pula tikar itu tak pernah tersentuh air sekalipun.
Tikar yang tergelaetak di depan kosan yang kata si peminjam akan dimabil oleh si pemilik itu pun saya ambil dan saya cuci. Syukur-syukur nanti ini menjadi hak milik saya, toh mereka tak mau mengurusnya.
Bermodal ember kecil yang biasa saya gunakan sebagai penampung air untuk mandi, saya rendam tikar itu. Tidak sampai 10 menit, air yang tadinya jernih berubah total layaknya air got. Berkali-kali saya ganti air rendaman tetap saja warnanya berubah hitam. Saya jadi semakin gatal membayangkan kalau saya harus tidur diatas tikar itu.
Semalaman saya rendam karpet lusuh itu, dan menjelang dini hari saya coba melihat siapa tahu saja ada perubahan dengan air rendamannya, ternyata masih saja tetap sama, berubah hitam pekat. Entah sudah berapa kali saya ganti air rendaman. Positifnya, tentu karena semua kotoran yang ada dalam karpet itu jadi terangkat, namun lama-lama saya capek juga. Apakah sekotor ini kah, sampai semalaman saya rendam air rendaman terus berubah hitam?. 
Di tengah rasa letih, dini hari, saya terbawa pada sebuah pelajaran hidup. Mungkin inilah yang di sebut berkah subuh. Saya membayangkan bagaimana kalau diri saya yang harus direndam. Akan kah sekotor ini?, sungguh sangat menakutkan jika diri saya yang sekotor karpet ini, berkali-kali di cuci masih saja tetap kotor. 
Saya jadi teringat akan dosa-dosa dan kesalahan yang pernah saya perbuat selama hidup. Dosa-doa itu bagaikan debu yang tertumpuk rapi di atas karpet pelangi. Sedikit diawal, namun jika dibiarkan bahkan direndam semalaman pun akan tetap kotor. Itukah diri saya sekarang?, dosa-dosa itu begitu hitam, tergambar jelas layaknya air rendaman karpet pagi ini.
Kadang kita memang tidak sadar akan setiap kesalahan yang diperbuat, apalagi kesalahan-kesalahan kecil, sepele. Kita kadang menanggap kesalahan-kesalahan kecil seperti sesuatu yang tak perlu di khawatirkan, dan dibiarkan yang pada akhirnya menjadi kesalahan yang menumpuk. Sebuah dosa kecil, kemudian menjadi besar, kemudian akan menyeret kita pada akhir hidup yang menyakitkan.
Subuh adalah renungan. dan kali ini saya mencoba merenungkan kembali apa yang sudah saya perbuat selama ini tidak lebih dari dosa-dosa kecil, yang suatu saay saya yakin akan menjadi penghambat bagi perjalanan hidup saya. Tak usah berpikir dulu tentang kehidupan setelah mati, kita percaya saja itu ada, tapi perjalanan dalam hidup ini pun tentu tidak akan pernah menemukan kedamaian jiak kesalahan-kesalahan kecil itu dibiarkan dan menjadi dosa yang mengganjal. 
Kesalahan kecil adalah kerikil yang harus disingkirkan, bukan ditendang dengan kaki, karena bisa saja kita tergelincir dan jatuh. Ada tangan yang bisa mengambilnya dengan lembut. Maka renungkan lah, bahwa kesalahan itu sudah harusnya di berhentikan. Dan jika kesalahan-kesalahan kecil di masa lalu ada kaitannya dengan orang lain., maka segeralah dengan kelembutan hati untuk meminta maaf. karena bagaimana pun Tuhan tidak akan pernah turut campur persoalan minta maaf antar kedua manusia, manusia itu sendirilah yang bisa menyelesaikannya.
 Dan pada akhirnya, karpet itu pun perlahan kini sudah mulai terlihat bersih, air rendaman tak sehitam yang sudah-sudah. Kedamaian subuh masih saya rasakan, suara sang muadzin akan tetap terdengar syahdu. Tuhan tak akan pernah berhenti memberikan rahmat pada makhluk yang mau belajar dari hal-hal kecil.

Selamat Pagi Tuhan
Selamat Pagi Mariesa Giswandhani, Selamat Shalat Subuh :)

0 komentar:

Posting Komentar