Pagi selalu memberikan inspirasi,
itulah mungkin kenapa gua selalu menunggu pagi datang dari pada harus terlelap
tidur. Selain adzan subuh yang selalu terdengar merdu, suara mengeongnya Boni juga gua kangenin. Entah apa yang ngebuat gua jadi gila kaya sekarang,
segala hal tentang hidup gua selalu saja gua kaitin sama keberadaan Boni.
Semakin kesini gua semakin khawatir buat ninggalin Boni dalam waktu yang lama,
kalau sekedar beli makan ke warung sebelah, Boni tak pernah rewel. Saking
sayangnya sama Boni, gua selalu gak bisa lepas dari dia, bahkan terkadang gua
gak bakalan ada di kasur kamar kos sebelum Boni tidur di samping gua. Sudah
seperti anak sendiri, sebelum Boni tidur, gua gak bakalan tidur, malah kalaupun
Boni sudah lelap, kadang gua tetep gak bakalan tidur. Ya, selain nunggu pagi
yang penuh inspirasi, gua takut kebablasan tidur dan keduluan bangun sama Boni, dan akhirnya gua gak ngedengerin suara ngeongnya si Boni yang berisik tapi seksi itu.
Tapi terkadang kalau gua bener kebablasan tidur, Boni yang ngebangunin gua dengan suara mengeong
nya. Ah, Boni memang pengertian.
Malam tadi gua agak sedikit
khawatir buat ninggalin Boni, tapi karena ini urusan yang amat sangat penting
terkait dengan perut gua dan Boni, mau gak mau gua ninggalin dia. Jam 8 malam
gua berangkat ke kampus, rencana awal mau nemuin investor kantong, tapi
karena gak jadi akhirnya kebablasan kumpul-kumpul dan bernostalgia bareng
kawan-kawan seperjuangan di UMC (Untirta Movement Community).
Pelataran kampus menjadi tempat
favorite kami ngobrolin segala hal, termasuk tentang kami dulu dan
perjuangan hidup yang harus dilakukan. Kalaupun kebelakang kami sempat
bersebrangan pandangan, tapi harmonisasi masa silam tak bisa kami elakan. Rasa
rindu akan dialektika, membuat kami dipertemukan kembali.
Obrolan diawali dengan topik
mencari Presiden ideal untuk Indonesia, sampai akhirnya kami semua
berkesimpulan bahwa tak perlu memperdebatkan kriteria pemimpin yang ideal
untuk bangsa ini, semua jelas telah termaktub dalam pancasila. Siapapun yang
minimal mendekati dengan ruh pancasila, itulah yang paling cocok menjadi
Presiden negara ini. Kalaupun terdengar utopis tapi ini bukan tanpa alasan.
Kami menyakini bersama bahwa masih ada sosok-sosok yang paham betul dan tahu
bagaimana cara mengaplikasikan pancasila dengan benar dan digunakan untuk
kemaslahatan anak bangsa.
Kami sepakat bahwa background
profesi tak lagi menjadi soal, militer, politikus, ahli hukum bahkan tukang
becak sekalipun tak jadi soal, yang jelas siapapun yang mau menjadi pimpinan
negara ini wajib hukumnya untuk menjadikan pancasila sebagai falsafah hidup
bangsa dan negara ini.
Seperti biasa diskusi malam kami
disuguhi dengan kopi hitam, sebuah minuman wajib yang lumayan mujarab untuk
menahan kantuk dan membuat otak sedikit lebih fresh. kandungan kafein dalam
kopi jika dipakai sesuai takaran akan bisa meningkatkan daya ingat, tentu
jangan berlebihan. Maka, jangan heran kalau hampir kebanyakan anak manusia di
bumi ini menyukai kopi.
Ngomongin soal kopi gua jadi
inget awal pertemuan gua sama Boni. Gua sempat gak suka bahkan benci banget sama Boni gara-gara dia numpahin kopi di tempat tidur gua, wajar gua marah karena itu tempat tidur satu-satunya yang gua punya dan jadi tempat gua buat ngerebahin badan setelah aktivitas. Bukan cuma itu, 3 buah
seprei yang sudah gua cuci dengan susah payah habis di jadiin alas buang air
besarnya si Boni. Gua akui memang itu salah gua, ngebiarin si boni kekunci di
kamar seharian, mungkin dia bingung harus buang air besar dimana. Tapi Alhamdulilahnya sekarang dia sudah paham dimana harus
buang air kecil ataupun buang air besar, gak pernah sembarangan.
Boni memang banyak ngasih gua
pelajaran berharga, sudah ngebuat gua yang tadinya benci sama dia jadi sayang
banget. Dulu, kalau Boni coba-coba mau masuk ke kamar gua, langsung tendang.
Saking bencinya gua jijik ngelihat dia, marah karena dia sudah numpahin kopi
dan buang air besar sembarangan, tapi kesini gua semakin paham kalau dia butuh
adaptasi di ruangan 4x3 meter ini.
Adaptasi memang menjadi poin
penting dalam menjalin hubungan antar sesama, apalagi sesama manusia --habluminannas-- termasuk
apa yang gua lakuin tadi malam, adaptasi ulang dengan kawan-kawan lama. Maklum
saja, gua sempat berbeda pandangan dengan mereka, dan sama sekali sudah tak mau
lagi dikait-kaitkan dengan apapun tentang mereka atau tentang organisasi yang
pernah ngebentuk gua dulu. Dan malam tadi, gua akhirnya bisa ngebuka diri
dan mau ngobrolin masalah organisasi yang dulu sama-sama ngebuat gua dan
kawan-kawan gua seperti sodara. Gua boleh tak lagi menjadi bagian dari
organisasi tersebut, tapi sejujurnya gua punya rasa yang mungkin jauh lebih
khawatir tentang kondisi organisasi ketimbang mereka yang sekarang masih
didalam. Hanya karena takut dianggap ikut campur dan sok peduli, akhirnya gua
lebih memilih diam dan cuma bisa ngeliat kondisi organisasi dari luar.
Malam tadi, diskusi hangat
mengalir di tengah-tengah rasa kangen yang ada di dada kami masing-masing. Bagi
mereka mungkin biasa saja, tapi ini adalah titik awal gua mau
ngomongin lagi soal organisasi itu, setelah sekain lama gua sudah tak mau terlibat
dalam obrolan apapun tentang itu.
Setelah rampung dengan diskusi
soal sosok yang ideal untuk memimpin bangsa ini akhirnya kami dihadapkan pada
persoalan apa yang harus dilakukan hari ini dan kedepan. Kami punya pandangan
seragam bahwa untuk menciptakan negara yang ideal tentu bukan hanya tanggung
jawab Presiden seorang, tapi menjadi tanggung jawab bersama segenap anak bangsa
Indonesia, termasuk kami. Kami meyakini bahwa ketika berbicara negara maka akan dihadapkan
pada konstitusi, maka ketika berbicara masalah negara ideal maka yang harus
dibenahi adalah sistem nya terlebih dahulu, konstitusi negara. Akhirnya mau
tidak mau siapapun yang punya cita-cita untuk menjadikan negara ideal memang
harus melebur dalam menyusun sistem yang bisa menjadikan negara ini ideal. Yang
harus dilakukan adalah melakukan pembasisan, bahasa yang paling sederhana
adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mencoba menyelami apa yang
sebetulnya mereka rasakan dan butuhkan agar kedepan jika Tuhan mengizinkan kami
sebagai bagian dari penentu kebijakan sistem negara maka kami bisa tahu dan
paham apa yang harus dilakukan. Dan tak harus dipungkiri bahwa pembasisan itu dilakukan sebagai bagian dari suksesi menjadi bagian dari penentu kebijakan.
Sebuah cita-cita luhur yang
malam tadi coba kami rumuskan, kalaupun kedepan kami tak tahu apakah ini akan
tetap berjalan sesuai dengan malam tadi atau justru berubah sebaliknya, yang
jelas usaha menjadi kunci utama terlepas kemudian berhasil atau tidak tentu itu
urusan belakangan. Keresahan bersama tentu ada pada komitmen, sejauh mana kami
yang tadi malam begitu bergembira menyambut cita-cita baru ini bisa komitmen
menjalankan itu dan tidak keluar dari track yang sudah disepakati bersama.
Inilah yang gua bilang di tulisan sebelumnya, bahwa kadang keresahan lah yang
akan menghidupkan perjuangan patriotik anak bangsa, apapun perjuangannya selama
itu untuk kebaikan negara dan bangsa patut di apresiasi.
Romantisme masa lalu, terlihat
jelas malam tadi, ketawa dengan ikhlas, saling berlempar kata yang menggelitik
sampai kepada tarik urat kami lakukan, itu semata karena rasa rindu. Tak jarang
kami menceritakan kembali pengalaman masa lalu ketika sama-sama dalam satu
naungan Untirta Movement Community, dan itu membuat kami sama-sama menyadari
bahwa kebersamaan terlalu mahal jika harus dikorbankan hanya karena ego
masing-masing. Akhirnya kami menyepakati bahwa kesamaan organisasi tak lagi
menjadi penting, yang paling utama adalah kesamaan nilai-nilai perjuangan.
Terlepas kemudian gua sekarang dimana dan kawan-kawan ada dalam naungan apa,
kami masih tetap satu garis perjuangan, sama-sama resah tentang kondisi Bangsa dan memiliki cita-cita untuk merubah itu semua, kecil atau besar perubahannya tak lagi jadi soal.
Ngobrolin negara sampai ke
nostalgia masa lalu akhirnya kami akhiri dengan penuh rasa syukur tepat di
pukul 02.00 dini hari. Waktu yang lumayan panjang untuk mempererat kembali tali
persaudaraan. Saatnya saya kembali menikmati ruangan 3x4 bersama Boni si kucing
manis.
Rasa syukur terus gua panjatkan
sepanjang perjalanan pulang ke kosan, dan begitu bahagiannya ketika sampai,
Boni langsung menyambut gua dengan suara mengeongnya. Senggol manja ditambah rasa
kantuk yang sudah mulai menyerang, akhirnya Boni tertidur pulas di samping gua.
Seperti biasa, kami berbagi alas tidur.








About Us http://www.lfclondon.co.uk/
BalasHapusAbout Us http://www.lfclondon.co.uk/
About Us http://www.lfclondon.co.uk/
About Us http://www.lfclondon.co.uk/
About Us http://www.lfclondon.co.uk/
About Us http://www.lfclondon.co.uk/
About Us http://www.lfclondon.co.uk/