Selasa, 22 April 2014

Romantisme Masa Lalu dan Cita-cita Masa Depan

Pagi selalu memberikan inspirasi, itulah mungkin kenapa gua selalu menunggu pagi datang dari pada harus terlelap tidur. Selain adzan subuh yang selalu terdengar merdu, suara mengeongnya Boni juga gua kangenin. Entah apa yang ngebuat gua jadi gila kaya sekarang, segala hal tentang hidup gua selalu saja gua kaitin sama keberadaan Boni. Semakin kesini gua semakin khawatir buat ninggalin Boni dalam waktu yang lama, kalau sekedar beli makan ke warung sebelah, Boni tak pernah rewel. Saking sayangnya sama Boni, gua selalu gak bisa lepas dari dia, bahkan terkadang gua gak bakalan ada di kasur kamar kos sebelum Boni tidur di samping gua. Sudah seperti anak sendiri, sebelum Boni tidur, gua gak bakalan tidur, malah kalaupun Boni sudah lelap, kadang gua tetep gak bakalan tidur. Ya, selain nunggu pagi yang penuh inspirasi, gua takut kebablasan tidur dan keduluan bangun sama Boni, dan akhirnya gua gak ngedengerin suara ngeongnya si Boni yang berisik tapi seksi itu. Tapi terkadang kalau gua bener kebablasan tidur, Boni yang ngebangunin gua dengan suara mengeong nya. Ah, Boni memang pengertian.
Malam tadi gua agak sedikit khawatir buat ninggalin Boni, tapi karena ini urusan yang amat sangat penting terkait dengan perut gua dan Boni, mau gak mau gua ninggalin dia. Jam 8 malam gua berangkat ke kampus, rencana awal mau nemuin investor kantong, tapi karena gak jadi akhirnya kebablasan kumpul-kumpul dan bernostalgia bareng kawan-kawan seperjuangan di UMC (Untirta Movement Community).
Pelataran kampus menjadi tempat favorite kami ngobrolin segala hal, termasuk tentang kami dulu dan perjuangan hidup yang harus dilakukan. Kalaupun kebelakang kami sempat bersebrangan pandangan, tapi harmonisasi masa silam tak bisa kami elakan. Rasa rindu akan dialektika, membuat kami dipertemukan kembali.
Obrolan diawali dengan topik mencari Presiden ideal untuk Indonesia, sampai akhirnya kami semua berkesimpulan bahwa tak perlu memperdebatkan kriteria pemimpin yang ideal untuk bangsa ini, semua jelas telah termaktub dalam pancasila. Siapapun yang minimal mendekati dengan ruh pancasila, itulah yang paling cocok menjadi Presiden negara ini. Kalaupun terdengar utopis tapi ini bukan tanpa alasan. Kami menyakini bersama bahwa masih ada sosok-sosok yang paham betul dan tahu bagaimana cara mengaplikasikan pancasila dengan benar dan digunakan untuk kemaslahatan anak bangsa.
Kami sepakat bahwa background profesi tak lagi menjadi soal, militer, politikus, ahli hukum bahkan tukang becak sekalipun tak jadi soal, yang jelas siapapun yang mau menjadi pimpinan negara ini wajib hukumnya untuk menjadikan pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan negara ini.
Seperti biasa diskusi malam kami disuguhi dengan kopi hitam, sebuah minuman wajib yang lumayan mujarab untuk menahan kantuk dan membuat otak sedikit lebih fresh. kandungan kafein dalam kopi jika dipakai sesuai takaran akan bisa meningkatkan daya ingat, tentu jangan berlebihan. Maka, jangan heran kalau hampir kebanyakan anak manusia di bumi ini menyukai kopi.
Ngomongin soal kopi gua jadi inget awal pertemuan gua sama Boni. Gua sempat gak suka bahkan benci banget sama Boni gara-gara dia numpahin kopi di tempat tidur gua, wajar gua marah karena itu tempat tidur satu-satunya yang gua punya dan jadi tempat gua buat ngerebahin badan setelah aktivitas. Bukan cuma itu, 3 buah seprei yang sudah gua cuci dengan susah payah habis di jadiin alas buang air besarnya si Boni. Gua akui memang itu salah gua, ngebiarin si boni kekunci di kamar seharian, mungkin dia bingung harus buang air besar dimana. Tapi Alhamdulilahnya sekarang dia sudah paham dimana harus buang air kecil ataupun buang air besar, gak pernah sembarangan. 
Boni memang banyak ngasih gua pelajaran berharga, sudah ngebuat gua yang tadinya benci sama dia jadi sayang banget. Dulu, kalau Boni coba-coba mau masuk ke kamar gua, langsung tendang. Saking bencinya gua jijik ngelihat dia, marah karena dia sudah numpahin kopi dan buang air besar sembarangan, tapi kesini gua semakin paham kalau dia butuh adaptasi di ruangan 4x3 meter ini. 
Adaptasi memang menjadi poin penting dalam menjalin hubungan antar sesama, apalagi sesama manusia --habluminannas-- termasuk apa yang gua lakuin tadi malam, adaptasi ulang dengan kawan-kawan lama. Maklum saja, gua sempat berbeda pandangan dengan mereka, dan sama sekali sudah tak mau lagi dikait-kaitkan dengan apapun tentang mereka atau tentang organisasi yang pernah ngebentuk gua dulu.  Dan malam tadi, gua akhirnya bisa ngebuka diri dan mau ngobrolin masalah organisasi yang dulu sama-sama ngebuat gua dan kawan-kawan gua seperti sodara. Gua boleh tak lagi menjadi bagian dari organisasi tersebut, tapi sejujurnya gua punya rasa yang mungkin jauh lebih khawatir tentang kondisi organisasi ketimbang mereka yang sekarang masih didalam. Hanya karena takut dianggap ikut campur dan sok peduli, akhirnya gua lebih memilih diam dan cuma bisa ngeliat kondisi organisasi dari luar.
Malam tadi, diskusi hangat mengalir di tengah-tengah rasa kangen yang ada di dada kami masing-masing. Bagi mereka mungkin biasa saja, tapi ini adalah titik awal gua mau  ngomongin lagi soal organisasi itu, setelah sekain lama gua sudah tak mau terlibat dalam obrolan apapun tentang itu.
Setelah rampung dengan diskusi soal sosok yang ideal untuk memimpin bangsa ini akhirnya kami dihadapkan pada persoalan apa yang harus dilakukan hari ini dan kedepan. Kami punya pandangan seragam bahwa untuk menciptakan negara yang ideal tentu bukan hanya tanggung jawab Presiden seorang, tapi menjadi tanggung jawab bersama segenap anak bangsa Indonesia, termasuk kami. Kami meyakini bahwa ketika berbicara negara maka akan dihadapkan pada konstitusi, maka ketika berbicara masalah negara ideal maka yang harus dibenahi adalah sistem nya terlebih dahulu, konstitusi negara. Akhirnya mau tidak mau siapapun yang punya cita-cita untuk menjadikan negara ideal memang harus melebur dalam menyusun sistem yang bisa menjadikan negara ini ideal. Yang harus dilakukan adalah melakukan pembasisan, bahasa yang paling sederhana adalah melakukan pengabdian kepada masyarakat dan mencoba menyelami apa yang sebetulnya mereka rasakan dan butuhkan agar kedepan jika Tuhan mengizinkan kami sebagai bagian dari penentu kebijakan sistem negara maka kami bisa tahu dan paham apa yang harus dilakukan. Dan tak harus dipungkiri bahwa pembasisan itu dilakukan sebagai bagian dari suksesi menjadi bagian dari penentu kebijakan.
Sebuah cita-cita luhur yang malam tadi coba kami rumuskan, kalaupun kedepan kami tak tahu apakah ini akan tetap berjalan sesuai dengan malam tadi atau justru berubah sebaliknya, yang jelas usaha menjadi kunci utama terlepas kemudian berhasil atau tidak tentu itu urusan belakangan. Keresahan bersama tentu ada pada komitmen, sejauh mana kami yang tadi malam begitu bergembira menyambut cita-cita baru ini bisa komitmen menjalankan itu dan tidak keluar dari track yang sudah disepakati bersama. Inilah yang gua bilang di tulisan sebelumnya, bahwa kadang keresahan lah yang akan menghidupkan perjuangan patriotik anak bangsa, apapun perjuangannya selama itu untuk kebaikan negara dan bangsa patut di apresiasi.
Romantisme masa lalu, terlihat jelas malam tadi, ketawa dengan ikhlas, saling berlempar kata yang menggelitik sampai kepada tarik urat kami lakukan, itu semata karena rasa rindu. Tak jarang kami menceritakan kembali pengalaman masa lalu ketika sama-sama dalam satu naungan Untirta Movement Community, dan itu membuat kami sama-sama menyadari bahwa kebersamaan terlalu mahal jika harus dikorbankan hanya karena ego masing-masing. Akhirnya kami menyepakati bahwa kesamaan organisasi tak lagi menjadi penting, yang paling utama adalah kesamaan nilai-nilai perjuangan. Terlepas kemudian gua sekarang dimana dan kawan-kawan ada dalam naungan apa, kami masih tetap satu garis perjuangan, sama-sama resah tentang kondisi Bangsa dan memiliki cita-cita untuk merubah itu semua, kecil atau besar perubahannya tak lagi jadi soal.
Ngobrolin negara sampai ke nostalgia masa lalu akhirnya kami akhiri dengan penuh rasa syukur tepat di pukul 02.00 dini hari. Waktu yang lumayan panjang untuk mempererat kembali tali persaudaraan. Saatnya saya kembali menikmati ruangan 3x4 bersama Boni si kucing manis.
Rasa syukur terus gua panjatkan sepanjang perjalanan pulang ke kosan, dan begitu bahagiannya ketika sampai, Boni langsung menyambut gua dengan suara mengeongnya. Senggol manja ditambah rasa kantuk yang sudah mulai menyerang, akhirnya Boni tertidur pulas di samping gua. Seperti biasa, kami berbagi alas tidur.

1 komentar: