Sudah
1 minggu ini Boni doyan banget tidur. Tidur malem lebih awal dan bangun paling
siang, belum lagi tidur siang, sekarang saja dia masih tidur lelap, mungkin dia
memang benar-benar lelah. Berbanding terbalik dengan Boni, gua justru belum
tidur sama sekali. Memang, sudah hampir satu minggu ini pola tidur gua kembali
terganggu, entah apa penyebabnya, yang jelas gua baru bisa tidur sekitar jam 5
sore dan itupun harus kebangun lagi sekitar jam 8an malam. Otomatis sehari
paling gua tidur hampir 2-3 jam. Pola hidup ini jelas gak bagus buat kesehatan
gua, namun kalaupun gua sadar akan hal itu, mata gua gak pernah sadar.
Gak
bisa dipungkiri kalau akhir-akhir ini gua serba bingung sama yang namanya
hidup, makanya gua bilang kalau gua gak tau apa penyebabnya karena gua
kebingungan sendiri. Mungkin saking banyaknya masalah yang lagi jadi bahan
pikiran gua, akhirnya pola tidur gua terganggu. Bisa dibilang ini adalah bagian dari strees, kalaupun stress ringan tapi tetap saja menganggu pikiran. Ternyata stress memang bukan milik caleg gagal saja, dia ada disekitar kita disaat kegagalan datang. Masih mau menghina caleg stree gara-gara gagal menang plieg?
Di
kampus, waktu gua tinggal sebentar lagi, pilihan yang ada cuma dua, lulus atau
gua harus ninggalin kampus tanpa ngehasilin gelar sarjana. Gua bukan gak bisa
nyusun skripsi atau penelitian, bahkan teman-teman sering minta tolong gua buat
nyelesein skripisinya. Entah apa yang ngebuat gua agak malas buat urus skripsi
sendiri, padahal semua penelitian gua sudah rampung dan tinggal di serahkan
saja, tapi justru gua malas ketemu sama orang-orang yang memang harus gua
temuin. Debat sana sini, ditanya sana-sini yang jauh dari konteks penelitian
ngebuat gua agak sedikit pesimis soal penelitian. Ketidakhadiran gua dihadapan
para dosen pembimbing kadang bukan penelitian yang dipersoalkan tapi ketidak
adaan gua itu, ketika penelitian gua kasih, paling ujung-ujungnya mereka nanya
“ini penelitian siapa?, kapan kamu penelitiannya?, kamu plagiat?”. Oh damn,
memang kadang dosen se-enak udelnya nge-justifikasi mahasiswa. Ya, gak bisa gua
tolak fakta bahwa banyak mahasiswa yang melakukan plagiat atas karya orang
lain, tapi untuk gua sendiri mohon maaf paling anti untuk urusan yang satu itu.
Belum
rampung urusan pribadi dikampus, otak gua harus dibagi dengan keadaan
organisasi yang gak jelas mau dibawa kemana. Gua sebagai salah satu pimpinan
organisasi merasa bingung, entah gua yang salah atau memang dari awal
organisasi ini sudah salah. Tapi langkah yang paling bijak adalah menyalahkan
diri sendiri, mungkin gua yang salah dari awal menerima jabatan itu. Tidak
menyesal, hanya menyayangkan bahwa organisasi sebesar ini justru harus tak
terlihat eksistensinya hanya karena dipusingkan oleh konflik-konflik internal.
Dalam organisasi memang kita dituntut untuk dewasa menyikap persoalan. Boleh lah
kita adu jotos argumentasi dalam organisasi, tapi toh itu dilakukan untuk
kemajuan organisasi bukan?, lantas hal apa yang harus ngebuat kita untuk
berpikiran sempit dan kemudian meninggalkan organisasi hanya karena ketidak
sukaan pada anggota yang lain?. kecuali apa yang dicita-citakan oleh pimpinan
organisasi sudah melenceng jauh dengan
apa yang dicita-citakan oleh organisasi itu sendiri. Barulah keputusan
meninggalkan organisaisi diambil setelah langkah-langkah lain dilakukan.
Sebentar
lagi akan ada Musyawarah Nasional dalam organisasi yang sedang gua pimpin.
Sebuah kegiatan yang akan memilih pemimpin baru untuk organisasi. Estapeta
kepemimpinan akan diputuskan pada Munas di riau dengan proses pemilihan secara
demokrasi. Setiap delegasi kampus berhak memilih siapapun yang mengajukan diri
untuk menjadi Ketua Umum dengan catatan telah mendapatkan rekomendasi dari ketua
Wilayah masing-masing. IMIKI sendiri terbagi kedalam 5 wilayah yang kesemuanya
dipimpin oleh masing-masing ketua Wilayah. Gua adalah anggota wilayah 2 yang
meliputi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat.
IMIKI
atau Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia adalah organisasi yang sedang
gua pimpin. Terhitung mulai tahun 2012 dan akan berakhir di tahun 2014 gua
memimpin organisasi ini. Sebauh catatan sejarah yang gak akan gua lupain seumur
hidup, bahwa seorang Nurhaedi, pemuda kampung mampu memimpin organisasi
nasional, terlepas bagaimana kinerja gua memimpin, yang jelas gua tetap bangga
dengan hal itu.
IMIKI
didirikan atas keresahan bersama mahasiswa komunikasi akan ketiadakan lembaga
untuk menghimpun aspirasi dan karya kreativitas mahasiswa Ilmu komunikasi
indonesia. Setelah melalui pergulatan panjang, akhirnya pada tahun 1998
tepatnya di tanggal 1 september IMIKI di bentuk dengan semangat bahwa mahasiswa
komunikasi se-Indonesia mampu mengekspresikan dirinya didalam.
Tahun
ini, Munas IMIKI akan dilaksanakan di Pekanbaru, sebuah kota yang baru-baru ini
amat terkenal di media massa. Bukan karena prestasi yang didapatnya melainkan
karena musibah yang mendera. Kekayaan alam berupa hutan yang menjadi paru-paru
oksigen Indonesia dibakar ludes oleh oknum yang tak bertanggung jawab,
akibatnya kepulan asap selalu menghantui masyarakat riau setiap hari. Untuk
bernafas saja mereka was-was apalagi harus melakukan aktivitas yang berlebih.
Mengharap
bantuan pemerintah sepertinya nihil, himabaun preesiden saja tak didengar oleh
bawahannya. Hutan terus dibakar dan masyakarat terus dihantui oleh kematian.
Wajar kemudian gerakan-gerakan massa akhirnya bermunculan untuk menyuarakan
keadilan di bumi lancang kuning. Di tengah diam nya pemerintah akan kejahatan
oknum pembakar hutan dan keresahan akan bayang-bayang kematian membuat
masyarakat Riau khususnya di Pekanbaru menggalang kekuatan massa, bahkan ada
sebagian kelompok menyuarakan langkah ekstrim yang jika pemerintah tak segera
menyelesaikan masalah ini, maka wajib hukumnya Riau memisahkan diri dari NKRI
(Negara Kesatuan republik Indonesia).
Gua
juga tentu ikut khawatir dengan kondisi disana, selain karena kegiatan akan
dilakukan disana, ada kawan-kawan seperjuangan yang sedang kesulitan. Tak bisa
banyak melakukan apa-apa, hanya kiriman do’a agar masalah cepat selesai.
Menjelang
pergantian estapeta kepemimpinan, isu-isu mulai muncul. Layaknya pemilihan
presiden di bumi pertiwi, manuver-manuver koalisi dilakukan guna menggalang
dukungan dari kawan. Itu sudah biasa dalam politik, bahkan untuk organisasi
sekelas IMIKI. Tidak jarang kemudian handphone gua selalu disusupi pesan-pesan
singkat dari kawan-kawan yang punya keinginan untuk mempimpin IMIKI. Ini tentu
bagus karena bagaimanapun mereka memiliki keberanian untuk membangun IMIKI,
menjadikannya lebih baik.
Satu
hal buat gua, siapapun nanti yang akan melanjutkan estapeta kepemimpinan adalah
orang yang memiliki kepekaan tinggi, tingkat komunikasi yang kontinyu dan yang
jelas memiliki komitmen untuk membangun IMIKI. Gagasan guna eksistensi IMIKI di
masyarakat tentu dibutuhkan oleh pemimpin baru, minimal IMIKI nantinya mampu
dirasakan keberadaannya oleh masyarakat kampus dan tentu saja oleh masyarakat
Indonesia di segala penjuru.
Masalah
kampus,organisasi dan kebutuhan perut seolah menjadi momok menakutkan bagi
kehidupan gua hari ini, kalaupun gua tetap terlihat tenang dihadapan banyak
orang, tetap saja itu membuat pola tidur gua terganggu. Kadang memang cara
terbaik menyikap sebuah persoalan adalah dengan senyum, minimal orang lain
melihat kita bahagia dan do’a mengalir kedalam jiwa kita. Kalaupun memang
bathin tetap tersiksa. Ya, adakalanya manusia memang harus menjadi lilin, mampu
menerangi sekitar namun membakar habis dirinya sendiri.
Untuk
itulah sebelum diri sendiri habis ada baiknya melakukan sebuah penyelamatan
untuk keluar dari masalah yang sedang dialami. Maka tak ada jalan lain selain
fokus pada satu persoalan jika kualitas otak tak memungkinkan untuk
menyelesaikan masalah secara bersamaan.
Gua,
tentu harus fokus pada satu persoalan. Skripsi, organisasi atau memenuhi
kebutuhan pribadi dengan bekerja. Dan tentunya untuk sekarang berhubung waktu
semakin sempit, maka langkah prioritas adalah lulus. Barulah kemudian bisa tidur
nyenyak sembari sebelumnya memikirkan bagaimana langkah organisasi dan
kehidupan ke depan.







0 komentar:
Posting Komentar